Jaring Pengaman Sosial, Sepotong Kenangan dari Rajuni, 1999

  • Whatsapp
Momen saat membagikan beras sebagai bagian Jaring Pengaman Sosial (Social Safety Net} Kerjasama Bina Swadaya dan LP3M Ujung Pandang di tahun 1999 (dok: Bina Swadaya)

PELAKITA.ID – Saya baru saja menghempaskan badan ke kursi kerja, sepulang Jumatan, saat sahabat saya, Agung Prasetio dari Bina Swadaya Konsultan, tiba-tiba mengirimkan foto lama di atas melalui WhatsApp.

Pesannya singkat, “Bro, dirimukah ini?”

Saya memperhatikan foto itu beberapa saat, menyaksikan jam tangan, ringbag mini, lalu spontan menjawab, “Betul. Ini foto langka.”

Seketika ingatan saya melayang lebih dari seperempat abad ke belakang, tepatnya sekitar tahun 1999 saat Presiden Gus Dur mendapat bantuan dari Pemerintah Jepang untuk mendistribusikan beras ke sejumlah titik rentan, termasuk Selayar.

Indonesia saat itu masih berusaha bangkit dari krisis ekonomi dan gejolak sosial pasca-Reformasi 1998.

Di berbagai daerah, termasuk wilayah kepulauan di Sulawesi Selatan, pemerintah bersama berbagai lembaga kemanusiaan menyalurkan bantuan pangan kepada masyarakat yang terdampak.

Saat itu saya bekerja di Lembaga Pengkajian Pedesaan, Pantai dan Masyarakat (LP3M). Bersama Bina Swadaya, kami menjadi mitra dalam program distribusi beras bantuan dari Pemerintah Jepang yang merupakan bagian dari program Jaring Pengaman Sosial.

Tugas kami adalah memastikan bantuan itu benar-benar sampai kepada masyarakat yang membutuhkan, termasuk mereka yang tinggal di pulau-pulau terpencil.

Foto ini diambil di Pulau Rajuni, tepatnya di Kampung Bugis, di bawah rumah panggung milik Ambo Sakka, pemilik kapal yang mengangkut beras bantuan tersebut. Kami berangkat dari Pelabuhan Rakyat Paotere lalu mengarungi Selat Makassar hingga Taka Bonerate. Saat itu di sana ada 7 pulau berpenghuni termasuk Rajuni Kecil.

Kalau ingatan saya tidak keliru, jumlah beras yang dibawa sekitar dua ton. Angka pastinya mungkin sudah memudar dari ingatan, tetapi suasana dan semangat kerja saat itu masih terasa sangat dekat.

Mas Agung kemudian berkomentar, “Bro, nampak gagah dengan kacamata.” Seingat saya, saat foto itu diambil saya masih berstatus pengantin baru, relatif baru.

Mungkin karena masih muda, asik e!, penuh semangat, dan belum banyak beban hidup, ekspresi dalam foto itu tampak begitu percaya diri.

Bagi orang lain, mungkin ini hanya foto dokumentasi biasa. Namun bagi saya, foto ini adalah pengingat tentang sebuah masa ketika pekerjaan pembangunan masyarakat tidak sekadar menjadi profesi, melainkan panggilan.

Menjangkau pulau-pulau kecil dengan kapal kayu, mengangkut logistik, bertemu warga, mendengarkan cerita mereka, lalu memastikan bantuan benar-benar diterima oleh yang berhak—itulah pelajaran berharga yang membentuk cara pandang saya tentang pengabdian.

Kini, lebih dari dua puluh lima tahun kemudian, foto itu kembali hadir bukan sekadar membangkitkan nostalgia, tetapi juga mengingatkan bahwa perjalanan panjang saya di dunia pemberdayaan masyarakat sesungguhnya telah dimulai sejak masa-masa sulit bangsa ini bangkit dari krisis.

Ada begitu banyak kisah yang mungkin terlupakan, tetapi untungnya, beberapa di antaranya masih tersimpan dalam selembar foto yang sederhana seperti ini.

Alfatihah untuk Kak Sufri Laude, sosok di balik kerjasama ini dengan Bina Swadaya dan Pemerintah Jepang.

Penulis Denun