PELAKITA.ID – Komitmen Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat berpenghasilan rendah kembali diwujudkan melalui program pembangunan Rumah Layak Huni (RLH) di Kabupaten Takalar.
Pada tahap awal, sebanyak 40 unit rumah mulai dibangun dengan dukungan anggaran sekitar Rp7 miliar.
Program yang ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman di Desa Pa’nyangkalang, Kecamatan Laikang, ini menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk mempercepat pengentasan kemiskinan melalui perbaikan kualitas hunian masyarakat.
Read More

Bupati Takalar, Mohammad Firdaus Daeng Manye, menyambut baik dukungan tersebut karena masih banyak keluarga di Takalar yang membutuhkan intervensi pemerintah, terutama kelompok miskin dan miskin ekstrem.
Data pemerintah daerah menunjukkan bahwa puluhan ribu kepala keluarga masih berada pada kelompok desil satu dan dua, sehingga akses terhadap rumah yang layak menjadi kebutuhan mendesak.
Menurutnya, rumah tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga menjadi ruang tumbuh kembang anak dan fondasi pembentukan kualitas sumber daya manusia di masa depan.
Pembangunan RLH memiliki relevansi yang kuat dengan upaya peningkatan kualitas pembangunan manusia di Takalar.
Kondisi rumah yang sehat, akses sanitasi yang memadai, ketersediaan air bersih, dan listrik merupakan komponen penting yang memengaruhi kesehatan, pendidikan, dan produktivitas masyarakat.
Karena itu, program ini tidak sekadar membangun bangunan fisik, tetapi juga menjadi investasi sosial yang berkontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan warga.
Posisi Takalar dalam IPM Sulawesi Selatan 2025
Program RLH ini menjadi semakin penting jika dikaitkan dengan capaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Takalar.
Pada tahun 2025, IPM Takalar tercatat sebesar 72,79, meningkat dari 72,06 pada tahun 2024. Kenaikan tersebut menunjukkan adanya perbaikan pada aspek kesehatan, pendidikan, dan daya beli masyarakat.
Namun demikian, capaian tersebut masih berada di bawah rata-rata IPM Provinsi Sulawesi Selatan yang mencapai 75,92 pada tahun yang sama.
Dengan angka tersebut, Takalar telah masuk kategori IPM tinggi karena berada di atas ambang batas 70.
Meski demikian, posisinya masih berada pada kelompok menengah di antara kabupaten/kota di Sulawesi Selatan dan belum mampu menyamai daerah-daerah dengan IPM tertinggi seperti Makassar yang mencapai 85,66.
Kesenjangan ini menunjukkan bahwa Takalar masih menghadapi tantangan dalam meningkatkan kualitas pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan ekonomi masyarakat secara lebih merata.
Dalam konteks tersebut, pembangunan Rumah Layak Huni dapat dipandang sebagai salah satu instrumen strategis untuk memperkuat pembangunan manusia.
Hunian yang sehat berpotensi menurunkan risiko penyakit, meningkatkan kenyamanan belajar anak, serta memperkuat produktivitas keluarga.
Jika dilaksanakan secara berkelanjutan dan disinergikan dengan program pendidikan, kesehatan, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat, maka program RLH dapat menjadi salah satu pendorong percepatan peningkatan IPM Takalar pada tahun-tahun mendatang.
Redaksi















