Anak-Anak Pembawa Tampah dari Bulukumba, 1924: Sebuah Potret Desa yang Hampir Hilang

  • Whatsapp
Ilustrasi terbarukan oleh AI

Daniel Miller (2010) menyebut bahwa benda-benda sederhana sering kali menjadi jendela untuk memahami hubungan manusia dengan lingkungan, teknologi, dan sistem produksinya. Tampah adalah contoh nyata bagaimana masyarakat desa memanfaatkan sumber daya lokal untuk mendukung seluruh siklus kehidupannya.

Di kampung penulis di Galesong, tampah yang dimaksud artikel ini disebut sebagai ‘paddinging’.

PELAKITA.ID – Mereka berdiri berjajar di bawah cahaya matahari tropis. Sebagian tersenyum, sebagian tampak serius menatap kamera. Di atas kepala mereka bertengger tampah-tampah besar yang berisi aneka makanan. Kaki mereka telanjang. Pakaian yang dikenakan sederhana.

Foto itu diambil pada tahun 1924 oleh dokter dan fotografer Belanda, H.F. Tillema, di Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Makanan atau bahasa kekinian kuliner, kudapan, ada bandang, pisang goreng, tarajjong, roko-roko unti, ubi kayu, hingga putu tongka, dan ubi gorang. Lidah Makassar dulu sangat akrab bahkan hingga sekarang. 

Di foto itu, di belakang mereka, pepohonan dan lanskap desa menjadi latar yang tenang.

Foto itu diambil pada tahun 1924 oleh dokter dan fotografer Belanda, H.F. Tillema, di Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Sepintas, gambar tersebut tampak sebagai dokumentasi biasa tentang kehidupan masyarakat desa pada masa kolonial. Namun semakin lama diperhatikan, semakin terasa bahwa foto ini sesungguhnya merekam sebuah dunia yang kini hampir hilang.

Ia bukan sekadar foto anak-anak yang membawa jajanan. Ia adalah potret tentang bagaimana sebuah desa hidup, bekerja, memproduksi pangan, mendidik anak-anaknya, dan membangun hubungan sosial sebelum modernisasi mengubah banyak hal.

Pada awal abad ke-20, desa-desa di Sulawesi Selatan masih menjadi ruang produksi utama bagi hampir seluruh kebutuhan hidup masyarakat.

Sawah menghasilkan beras. Kebun menyediakan pisang, kelapa, dan berbagai tanaman pangan lainnya.

Gula aren diproduksi secara tradisional. Ikan diperoleh dari laut dan sungai. Sebagian besar kebutuhan rumah tangga dipenuhi dari lingkungan sekitar.

Dalam kajian sejarah ekonomi Asia Tenggara, Anthony Reid (1988) menjelaskan bahwa masyarakat kawasan ini memiliki tradisi pasar lokal yang sangat kuat. Pasar bukan hanya tempat menjual barang, melainkan ruang sosial tempat orang bertemu, bertukar kabar, menjalin hubungan, dan memperkuat ikatan komunitas.

Di tempat-tempat seperti itulah hasil kerja keluarga desa dipertemukan dengan kebutuhan masyarakat yang lebih luas.

Karena itu, besar kemungkinan makanan yang dibawa anak-anak dalam foto tersebut adalah bagian dari aktivitas ekonomi keluarga. Mungkin mereka sedang menuju pasar mingguan.

Mungkin pula mereka sedang menuju pesta rakyat, hajatan, atau keramaian kampung.

Kita tidak dapat memastikan jenis makanan yang mereka bawa. Namun bentuk-bentuk yang tampak di atas tampah mengingatkan pada berbagai pangan tradisional yang telah lama dikenal dalam budaya Bugis-Makassar, seperti barongko, cucuru, apang, gogoso, songkolo, burasa, atau berbagai kue berbahan dasar beras, ketan, kelapa, dan gula merah.

Semua makanan itu lahir dari bahan-bahan yang tersedia di sekitar desa. Tidak ada rantai pasok yang panjang. Tidak ada pabrik besar. Tidak ada kemasan plastik.

Pangan diproduksi, diolah, dipasarkan, dan dikonsumsi dalam ruang geografis yang relatif dekat.

Foto tersebut juga memperlihatkan sesuatu yang menarik tentang posisi anak-anak dalam masyarakat desa pada masa itu. Dalam pandangan modern, anak-anak identik dengan sekolah, bermain, dan ruang belajar formal.

Bagi masyarakat agraris awal abad ke-20, anak-anak merupakan bagian dari kehidupan ekonomi keluarga.

Antropolog Christian Pelras (1996) mencatat bahwa dalam budaya Bugis, anak-anak sejak dini dilibatkan dalam berbagai aktivitas sosial dan ekonomi rumah tangga.

Mereka membantu orang tua di sawah, kebun, pasar, atau kegiatan produksi pangan.

Keterlibatan itu bukan semata-mata untuk menambah tenaga kerja keluarga, melainkan juga sebagai proses pendidikan sosial. Melalui aktivitas sehari-hari, anak-anak belajar tentang tanggung jawab, kerja sama, dan hubungan antarmanusia.

Karena itu, foto ini bukan sekadar dokumentasi perdagangan makanan. Ia juga merupakan dokumentasi pendidikan sosial yang berlangsung secara alami di dalam masyarakat desa.

Menarik pula memperhatikan benda yang mereka bawa. Tampah dalam foto itu mungkin terlihat biasa saja, tetapi sebenarnya merupakan salah satu simbol penting dalam kebudayaan agraris Nusantara.

Di Sulawesi Selatan, tampah digunakan untuk menjemur padi, membersihkan gabah, menyajikan makanan pada hajatan, membawa hasil panen, hingga mengangkut dagangan ke pasar.

Dalam perspektif sejarah budaya material, benda-benda sehari-hari seperti tampah menyimpan cerita tentang cara hidup masyarakat.

Daniel Miller (2010) menyebut bahwa benda-benda sederhana sering kali menjadi jendela untuk memahami hubungan manusia dengan lingkungan, teknologi, dan sistem produksinya. Tampah adalah contoh nyata bagaimana masyarakat desa memanfaatkan sumber daya lokal untuk mendukung seluruh siklus kehidupannya.

Potret kehidupan di dunia desa yang direkam dalam foto ini perlahan berubah.

Sepanjang abad ke-20, pembangunan jalan, perluasan pasar, industrialisasi pangan, pendidikan formal, dan perkembangan teknologi komunikasi mengubah wajah desa secara mendasar.

Desa yang dahulu menjadi pusat produksi pangan perlahan semakin terhubung dengan pasar regional, nasional, bahkan global.

Jika foto serupa diambil hari ini, isi tampah yang dibawa anak-anak mungkin akan sangat berbeda.

Barongko dan cucuru mungkin masih ada, tetapi kemungkinan harus berbagi ruang dengan biskuit pabrikan, minuman kemasan, mi instan, atau makanan ringan yang diproduksi ratusan kilometer dari desa tersebut.

Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO, 2019) mencatat bahwa transformasi sistem pangan global telah menyebabkan berkurangnya keragaman pangan lokal di banyak negara berkembang.

Fenomena itu juga terlihat di berbagai daerah Indonesia, termasuk Sulawesi Selatan, ketika makanan tradisional yang dahulu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari semakin tergeser oleh produk industri yang lebih praktis dan mudah diperoleh.

Perubahan itu tidak sepenuhnya buruk. Akses pendidikan meningkat. Infrastruktur membaik. Peluang ekonomi semakin terbuka. Namun bersamaan dengan itu, sebagian memori kolektif tentang kehidupan desa perlahan memudar.

Karena itulah foto karya H.F. Tillema ini memiliki nilai yang jauh melampaui kualitas visualnya. Ia menangkap satu momen kecil yang sebenarnya berbicara tentang perubahan besar.

Tentang pangan lokal yang dahulu menjadi fondasi kehidupan. Tentang anak-anak yang tumbuh melalui keterlibatan dalam komunitasnya. Tentang pasar desa yang menjadi pusat interaksi sosial. Dan tentang sebuah masyarakat yang perlahan bertransformasi mengikuti arus modernitas.

Seratus tahun kemudian, kita mungkin tidak lagi mengenali jajanan yang dibawa anak-anak itu. Kita mungkin tidak mengetahui ke mana mereka berjalan setelah foto diambil.

Tampah-tampah yang mereka pikul masih menyimpan cerita yang sama: bahwa sejarah tidak selalu ditulis oleh raja, pejabat, atau perang besar.

Kadang-kadang sejarah justru tersimpan dalam langkah-langkah kecil anak-anak desa yang membawa makanan menuju pasar, di sebuah pagi yang kini telah berjarak satu abad dari kehidupan kita.

Referensi

  • FAO. (2019). The State of Food and Agriculture 2019. Rome: Food and Agriculture Organization.
  • Miller, D. (2010). Stuff. Cambridge: Polity Press.
  • Pelras, C. (1996). The Bugis. Oxford: Blackwell Publishers.
  • Reid, A. (1988). Southeast Asia in the Age of Commerce 1450–1680. Yale University Press.
  • Tillema, H. F. (1924). Photographic Collection of the Dutch East Indies. Wereldmuseum Collection.