Dari Red Corner ke Baderan: Kisah Ical Menjembatani Inovasi Unhas, Petani Kopi, dan Pemerintah Daerah

  • Whatsapp
Ical Red Corner, kedua dari kanan (dok: Istimewa)

Oleh Kamaruddin Azis, founder Pelakita.ID

PELAKITA.ID – Malam itu, di Cafe Red Corner, 8 Juni 2026, percakapan kami berawal dari secangkir kopi dan berakhir pada sebuah cerita tentang inovasi, kolaborasi, dan masa depan hilirisasi komoditas Indonesia.

Di hadapan saya, Ical bercerita panjang tentang inovasi Kopi Red Baderan, luwak, dan simpul kolaborasi.

Bukan sekadar kopi. Bukan pula sekadar produk baru yang sedang diperkenalkan ke pasar.

Baginya, Kopi Red Baderan adalah contoh bagaimana ilmu pengetahuan yang lahir di kampus dapat bertemu dengan kebutuhan masyarakat, didukung pemerintah daerah, lalu menciptakan nilai tambah yang nyata bagi petani.

“Orang sering melihat hasil akhirnya,” kata Ical.

“Padahal yang paling penting adalah proses mempertemukan semua pihak yang terlibat.”

Menurut Ical, cerita Kopi Red Baderan sesungguhnya bermula dari inovasi yang dikembangkan para peneliti Universitas Hasanuddin, Kopinya di Situbondo, alat pengolahnya dari Unhas. Kira-kira begitu.

Tim peneliti mencoba menjawab satu persoalan yang selama ini melekat pada industri kopi luwak. Di satu sisi, kopi luwak memiliki reputasi global dan harga jual yang sangat tinggi.

Di sisi lain, muncul kritik yang semakin kuat terkait kesejahteraan hewan serta sulitnya menjaga konsistensi kualitas produk yang bergantung pada proses biologis alami.

“Asam terfermentasi di perut Luwak itu jadi inspirasi untuk menciptkan rasa sama tanpa harus melukai jiwa binatang dan pencintanya.” Kira-kira begitu pengandaian Ical terkait inovasi kopi Luwak tanpa hewan luwak ini.

Menciptakan Kopi Luwak Tanpa Luwak

Dari situlah lahir pemanfaatan Teknologi Ohmic, sebuah teknologi yang memungkinkan proses transformasi rasa kopi dilakukan secara terkontrol melalui pendekatan ilmiah, sebuah temuan yang membawa nama Prof Salengke – sekarang Dekan Fakultas Teknologi Pertanian Unhas.

Teknologi ini dikembangkan untuk mereplikasi proses yang selama ini terjadi dalam sistem pencernaan luwak tanpa harus melibatkan luwak itu sendiri.

“Banyak orang menyebutnya kopi luwak tanpa luwak,” ujar Ical sambil tersenyum. “Kalau bahasa sederhananya begitu. Tetapi sebenarnya ini adalah hasil riset yang cukup panjang.”

Ia menjelaskan bahwa teknologi tersebut bukan sekadar upaya meniru rasa. Yang lebih penting adalah menciptakan proses yang lebih konsisten, lebih higienis, lebih mudah dikendalikan, dan tentu saja lebih dapat diterima oleh konsumen global yang semakin peduli pada aspek keberlanjutan dan etika produksi.

Dalam beberapa tahun terakhir, pasar kopi premium dunia mengalami perubahan besar. Konsumen tidak lagi hanya mencari cita rasa terbaik, tetapi juga memperhatikan bagaimana sebuah produk dihasilkan.

Karena itu, pendekatan yang mampu menghadirkan kualitas setara kopi luwak tanpa melibatkan eksploitasi satwa memiliki peluang besar untuk diterima pasar internasional.

Yang membuat Ical optimistis adalah hasil yang telah ditunjukkan oleh teknologi tersebut. Berdasarkan pengujian yang dilakukan, kopi hasil pengolahan Teknologi Ohmic mampu memperoleh skor 87, sebuah capaian yang menempatkannya dalam kategori specialty coffee dengan kualitas yang sangat tinggi.

“Bagi dunia kopi, angka itu penting. Artinya kita tidak hanya punya cerita bagus, tetapi juga punya kualitas yang bisa dipertanggungjawabkan,” ujarnya.

Baderan, Desa yang Bertemu Inovasi

Menurut Ical, tantangan terbesar dalam dunia inovasi bukanlah menemukan teknologi. Tantangan terbesar justru datang setelah teknologi itu ditemukan.

“Banyak inovasi kampus berhenti di laboratorium. Banyak hasil penelitian yang bagus, tetapi tidak pernah sampai ke masyarakat. Bukan karena teknologinya tidak bagus, melainkan karena tidak ada yang menjembatani antara peneliti, pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat.”

Pandangan itulah yang kemudian mendorong dirinya untuk ikut menghubungkan berbagai pihak yang dapat mendukung pengembangan inovasi tersebut. Dia tahu bahwa di Unhas, ada sosok bernama Prof Salengke, inventor Ohmic untuk pengeringan komoditi.

Salah satu simpul penting itu berada di Desa Baderan, Kecamatan Sumbermalang, Kabupaten Situbondo. Daerah ini dikenal memiliki potensi kopi yang besar dengan karakteristik yang khas. Bagi Ical, Baderan bukan sekadar lokasi produksi kopi. Desa tersebut memiliki seluruh prasyarat untuk menjadi contoh bagaimana hilirisasi berbasis inovasi dapat dibangun dari tingkat desa.

Di sana, pemerintah daerah menunjukkan komitmen yang kuat. Koperasi ikut bergerak. Petani terlibat langsung. Sementara kampus menyediakan dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kolaborasi inilah yang menurutnya menjadi fondasi utama keberhasilan program.

“Kita sering bicara hilirisasi. Tetapi hilirisasi tidak akan jalan kalau masing-masing berjalan sendiri. Kampus tidak bisa sendiri. Pemerintah tidak bisa sendiri. Petani juga tidak bisa sendiri. Semua harus bertemu dalam satu ekosistem.”

Ia mengaku cukup terkesan dengan dukungan yang diberikan Pemerintah Kabupaten Situbondo terhadap pengembangan inovasi tersebut.

Ical, baju merah.

Pemerintah daerah tidak hanya hadir sebagai regulator, tetapi juga menjadi bagian dari proses pengembangan ekosistem yang memungkinkan inovasi berkembang dan memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat.

Menurut Ical, inilah yang seharusnya menjadi model pembangunan komoditas di banyak daerah Indonesia. Potensi lokal tidak cukup hanya dipanen dan dijual dalam bentuk bahan mentah. Potensi itu harus diberi sentuhan teknologi, inovasi, dan model bisnis yang mampu menciptakan nilai tambah.

“Kita ini tidak kekurangan komoditas. Kopi ada. Kakao ada. Kelapa ada. Rumput laut ada. Yang sering kurang adalah kemampuan mengubahnya menjadi produk yang nilainya jauh lebih tinggi.”

Baginya, kisah Baderan menunjukkan bahwa desa tidak harus menjadi penonton dalam arus inovasi. Desa justru dapat menjadi pusat pertumbuhan baru ketika teknologi bertemu dengan potensi lokal dan kepemimpinan daerah yang terbuka terhadap perubahan.

Ical dan Kerja Sunyi Para Penyambung Simpul

Dalam perjalanan Kopi Red Baderan, Ical aktif mempertemukan tim Universitas Hasanuddin dengan berbagai pemangku kepentingan.

Mulai dari pemerintah daerah seperti Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo, pelaku koperasi, hingga pejabat kementerian di Jakarta.

Baginya, inovasi hanya akan memberikan manfaat ketika mampu keluar dari ruang seminar dan masuk ke kehidupan masyarakat.

“Saya hanya membantu menyambungkan simpul-simpul yang selama ini berjalan sendiri-sendiri,” katanya merendah.

Padahal, peran seperti itulah yang sering kali luput dari perhatian. Banyak hasil riset berhenti menjadi laporan atau jurnal karena tidak pernah menemukan jalan menuju pengguna.

Sebaliknya, inovasi memiliki peluang tumbuh ketika ada orang-orang yang bersedia menjembatani dunia akademik, birokrasi, pelaku usaha, dan masyarakat.

Ical meyakini bahwa Indonesia sesungguhnya tidak kekurangan peneliti, tidak kekurangan komoditas, dan tidak kekurangan gagasan. Yang sering kurang adalah ruang pertemuan yang mempertemukan semuanya dalam satu tujuan bersama.

Bagi saya, percakapan malam itu memberikan satu pelajaran penting.

Inovasi tidak lahir dari satu orang. Ia juga tidak lahir hanya dari laboratorium atau ruang rapat. Inovasi tumbuh ketika ada peneliti yang menghasilkan pengetahuan, petani yang menyediakan bahan baku, pemerintah yang membuka ruang kolaborasi, dan sosok-sosok penghubung yang memastikan semua pihak dapat duduk di meja yang sama.

Salah satu inovasi produk kopi, Ical.

Kopi Red Baderan, bukan hanya cerita tentang secangkir kopi. Ia adalah cerita tentang bagaimana ilmu pengetahuan menemukan jalannya menuju masyarakat. Ia adalah cerita tentang keberanian keluar dari pola lama.

Contoh bahwa petani dapat memperoleh manfaat lebih besar ketika teknologi hadir di tengah rantai produksi. Yang terpenting, ia memberikan harapan bahwa Indonesia tidak harus selamanya menjadi pemasok bahan mentah bagi dunia, melainkan dapat menjadi pencipta teknologi, nilai tambah, dan solusi yang dihargai pasar global.

Di penghujung percakapan, Ical menyampaikan satu kalimat yang terus teringat hingga saya meninggalkan Red Corner malam itu.

“Kalau inovasi hanya berhenti di kampus, manfaatnya terbatas. Tetapi kalau inovasi bertemu petani, pemerintah, dan pasar, di situlah perubahan benar-benar terjadi.”

___
Tamarunang, 9 Juni 2026