Senin, 8 Juni 2026, Red Corner kembali menjadi ruang perjumpaan yang menghadirkan lebih banyak inspirasi daripada sekadar secangkir kopi.*
PELAKITA.ID – Dari sore hingga larut malam, percakapan mengalir tanpa protokol, tanpa panggung, tanpa mikrofon. Justru di ruang-ruang seperti inilah sering lahir gagasan yang lebih jujur dan membumi.
Sekitar pukul 16.00 hingga 17.00 Wita, saya berkesempatan bertemu Wahyuddin Kessa, aktivis NU yang juga salah satu inisiator Forum Informasi dan Komunikasi Organisasi Non-Pemerintah (FIK Ornop) Sulawesi Selatan pada awal 1990-an.
Pengalamannya yang panjang dalam berbagai program pembangunan nasional dan pergerakan pemuda NU membuat setiap cerita yang disampaikannya terasa seperti potongan sejarah yang hidup.
Di momen yang sama hadir pula Dr. Adi Suryadi Culla, Ketua CIDES ICMI Sulsel, serta Asmin Amin, salah satu pilar penting FIK Ornop pada penghujung 1990-an hingga awal 2000-an.
Pertemuan singkat itu menghadirkan banyak catatan tentang perjalanan gerakan masyarakat sipil, pembangunan, dan bagaimana jejaring sosial dibangun jauh sebelum era media sosial menjadi keseharian.
Malamnya, dari pukul 19.00 hingga mendekati tengah malam, Red Corner kembali menjadi ruang belajar.
Sosok pertama yang mencuri perhatian tentu saja Ical, tuan rumah yang belakangan sedang jatuh cinta pada Kopi Red Baderan, kopi yang mengambil nama dari sebuah desa di Situbondo.
Saya teringat, Ical pula yang pernah mengajak saya menjelajahi Situbondo pada 2020.
Pengalamannya melintasi berbagai sektor sungguh kaya; mulai dari pengembangan kopi, peningkatan nilai tambah komoditas, bisnis singkong, pendampingan UMKM, hingga menjadi salah satu orang yang konsisten mempromosikan berbagai inovasi Universitas Hasanuddin dalam pengolahan rumput laut, kopi, kakao, dan komoditas lainnya.
Bagi kepala daerah yang sering mengeluhkan keterbatasan anggaran pembangunan, sosok seperti Ical sebenarnya menghadirkan perspektif bahwa solusi tidak selalu dimulai dari tambahan dana, melainkan dari kreativitas dan kemampuan menciptakan nilai tambah.

Di meja yang sama hadir pula Mas Eki, penyanyi bersuara emas yang dikenal dengan lagu-lagu bernuansa melankolis.
Di balik sosok senimannya, Eki menyimpan pengalaman panjang bekerja bersama lembaga donor internasional seperti USAID. Ia juga dikenal sebagai pemain tenis yang tekun.
Malam itu ia berbicara tentang gagasan-gagasan yang tidak selalu perlu diumumkan ke ruang publik atau diperdebatkan di grup percakapan. Ia menyebutnya sebagai “senandung sunyi”, kerja-kerja pemikiran yang tidak selalu membutuhkan tepuk tangan.
Barangkali memang tidak semua ide harus diumumkan. Sebagian cukup dijalankan, dirawat, dan dibuktikan hasilnya.
Percakapan kemudian berlanjut bersama Andi Irwan Patawari, atau yang akrab kami panggil AIP. Saya masih mengingat sosoknya sebagai Asisten TPB MIPA yang dulu cukup “sakkang” dan membuat banyak mahasiswa waspada.
Waktu boleh berlalu, tetapi ketegasan dan atensi sosialnya tetap terasa.
Malam itu ia menawarkan sebuah pandangan sederhana namun penting: bekerja dalam senyap. Tidak perlu terlalu berharap pada figur tertentu atau menunggu bantuan orang per orang. Yang lebih penting adalah mengumpulkan data, merawat informasi, menyusun analisis, lalu menawarkan solusi.
“Kerjakan saja yang bisa dikerjakan. Kalau butuh lahan satu hektare sampai sepuluh hektare, kontak saja.”
Begitu kira-kira pesan yang disampaikannya malam itu. Sebuah ajakan untuk bergerak tanpa terlalu sibuk mencari alasan.
Di sudut lain, ada pula Dr. Ade. Baru malam itu saya mengetahui bahwa beliau berasal dari Camba, Maros. Di tengah derasnya arus ide dan pengalaman yang berseliweran di meja diskusi, yang paling menarik dari dirinya justru kesediaannya untuk lebih banyak mendengar.

Di zaman ketika banyak orang berlomba menjadi yang paling cepat berkomentar, sikap seperti itu terasa semakin langka. Ia menyimak, menangkap gagasan, dan menghargai pengalaman para seniornya tanpa perlu tergesa-gesa menyanggah atau mengoreksi.
Begitulah kisah semalam di Red Corner. Tidak ada deklarasi besar. Tidak ada kesimpulan resmi. Tidak ada pula foto-foto yang harus viral. Yang ada hanyalah sekumpulan orang dengan pengalaman dan perjalanan hidup yang berbeda-beda, saling berbagi cerita sambil menikmati kopi.
Tapi bagiku, tetap ada yang perlu jadi pesan kebaikan, bukan?
Jadi begini.
Dari perjumpaan seperti itulah saya kembali belajar bahwa inspirasi sering kali datang dalam bentuk yang sederhana. Ia tidak selalu hadir dalam seminar besar atau forum resmi.
Kadang cukup di sebuah sudut kedai kopi, bersama orang-orang yang memilih bekerja, berpikir, dan memberi manfaat tanpa harus banyak menggembar-gemborkannya.
Yang sesungguhnya tertinggal malam itu bukan sekadar cerita tentang kopi atau pengalaman para sahabat yang hadir.
Ada sejumlah pelajaran yang terasa relevan untuk terus diingat.
Sulawesi Selatan sesungguhnya dianugerahi kekayaan komoditas yang luar biasa. Dari kopi di pegunungan, kakao di berbagai sentra produksi, kelapa yang membentang di pesisir, hingga aneka hasil pertanian lainnya.
Potensi itu terlalu besar untuk hanya menjadi bahan diskusi.
Sebagai alumni dan bagian dari masyarakat yang pernah menikmati pendidikan tinggi, rasanya sulit membenarkan diri jika hanya menjadi penonton.
Selalu ada ruang untuk ikut bekerja, mendampingi, menghubungkan pasar, memperkenalkan inovasi, atau sekadar membantu menciptakan nilai tambah bagi komoditas yang telah lama menjadi sumber penghidupan masyarakat.
Kemajuan hampir selalu lahir dari jejaring. Tidak ada pekerjaan besar yang dapat diselesaikan sendirian. Akan tetapi, jejaring juga mengajarkan bahwa tidak semua orang akan tertarik pada gagasan yang kita bawa.
Tidak semua orang akan ikut urunan tenaga, pikiran, maupun sumber daya.
Ketika itu terjadi, tidak perlu berkecil hati. Selalu ada pintu lain yang bisa diketuk. Selalu ada orang lain yang bersedia berjalan bersama. Energi sebaiknya digunakan untuk mencari jalan keluar, bukan meratapi pintu yang tertutup.
Banyak pekerjaan besar justru dimulai dari langkah-langkah kecil yang nyaris tidak terdengar gaungnya. Tidak perlu menunggu tepuk tangan atau pengakuan.
Fokus pada pekerjaan, perbaiki sedikit demi sedikit, dan abaikan suara-suara nyinyir yang sering kali lebih ramai daripada karya itu sendiri.

Dalam banyak kasus, hasil akhirnya jauh lebih penting daripada perdebatan yang mengiringinya.
Jangan pernah letih berbuat baik. Tidak semua hasil kerja akan langsung terlihat. Tidak semua ikhtiar akan segera berbuah. Akan tetapi, setiap langkah yang membawa manfaat bagi masyarakat memiliki nilainya sendiri.
Mengurusi merica di Loeha atau kakao di Pattedong mungkin terlihat seperti urusan sebutir biji yang kecil.
Padahal, di baliknya ada kehidupan petani, pendidikan anak-anak mereka, dan masa depan sebuah kampung. Pekerjaan seperti itu sesungguhnya adalah pekerjaan besar yang layak diperjuangkan.
Pemberdayaan masyarakat adalah salah satu ladang amal yang paling nyata. Tidak perlu selalu menunggu proyek besar atau program resmi.
Jika ada lahan dua atau tiga hektare yang selama ini tidak termanfaatkan, mengapa tidak dijadikan laboratorium lapangan, lokasi percontohan, atau pilot project untuk menunjukkan bahwa sesuatu bisa dikerjakan dengan baik?
Kadang-kadang perubahan dimulai bukan dari proposal yang tebal, melainkan dari keberanian memulai dan memberi contoh.
Budaya kerja harus lebih kuat daripada budaya berkomentar. Kerja, kerja, dan kerja. Ide sahabat tidak harus selalu diterima mentah-mentah, tetapi juga tidak perlu disambut dengan sinisme. Sebuah komunitas akan maju jika anggotanya terbiasa memperbaiki gagasan, bukan mematikan semangat orang yang membawa gagasan tersebut.
Pengabdian kepada almamater tidak selalu harus diwujudkan dalam jabatan atau posisi formal.
Kadang cukup dimulai dengan satu pertanyaan sederhana: apa yang bisa saya bantu? Apa yang bisa saya kontribusikan untuk kampus, untuk alumni, atau untuk program-program yang sedang berjalan?
Semangat itulah yang selama ini membuat banyak institusi bertahan dan berkembang.
Setiap orang memiliki minat, perhatian, dan medan juangnya masing-masing. Tidak semua orang harus tertarik pada isu yang sama. Karena itu, menghormati pilihan dan fokus orang lain menjadi penting. Jika kita berharap ruang gerak kita dihormati, maka kita juga perlu menghormati ruang gerak orang lain.
Bangsa ini telah memiliki kepemimpinan nasional yang memperoleh mandat konstitusional melalui proses demokrasi.
Tugas warga negara berikutnya adalah berkontribusi dari bidangnya masing-masing, mendukung hal-hal yang baik bagi kemajuan bangsa, serta memastikan energi kita lebih banyak digunakan untuk bekerja dan menghasilkan manfaat daripada sekadar memperpanjang perdebatan yang tidak produktif.
Mungkin itulah inti dari percakapan panjang di Red Corner semalam.
Bukan tentang siapa yang paling pintar, siapa yang paling berpengaruh, atau siapa yang paling banyak bicara. Melainkan tentang bagaimana tetap bekerja, tetap memberi manfaat, dan tetap menjaga harapan, meski dilakukan dalam senyap.
___
Tamarunang, 9 Juni 2026









