Jacobus K. Mayong Padang | Negara yang Sakit

  • Whatsapp
Ilustrasi penulis dan nuansa problematik bangsa (oleh Pelakita.ID)

Renungan di Bulan Bung Karno

Bagaimana kita harus menyebut negeri yang masih bergulat dengan kemiskinan, sementara kasus korupsi terus bermunculan hampir setiap hari?

PELAKITA.ID – Di tengah kesulitan yang dihadapi sebagian besar rakyat, publik berulang kali disuguhi berita tentang pejabat yang menyalahgunakan jabatan, bahkan melibatkan aparat penegak hukum yang seharusnya menjadi garda terdepan pemberantasan korupsi.

Polisi, jaksa, pengacara, hingga hakim berkali-kali terseret kasus serupa. Ironisnya, lembaga yang dibentuk khusus untuk memberantas korupsi pun pernah diterpa persoalan internal yang mencederai kepercayaan publik.

Dalam kondisi seperti ini, sulit menolak pertanyaan: jika bukan sakit, lalu apa sebutan yang tepat untuk negeri ini?

Rasa sakit itu semakin terasa ketika tingginya angka kemiskinan tidak serta-merta menghentikan sebagian elite dari gaya hidup mewah, praktik kolusi, dan nepotisme.

Reformasi yang dahulu lahir dengan semangat memberantas Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN), kini seolah menghadapi tantangan yang sama dalam bentuk yang berbeda.

Jabatan publik kerap dipersepsikan sebagai ruang yang semakin mudah diwariskan kepada keluarga atau kerabat dekat, sementara kompetensi sering kali menjadi pertanyaan yang terabaikan.

KKN yang dahulu menjadi musuh bersama kini kembali menjadi kegelisahan banyak orang.

Bulan Juni, yang selalu identik dengan Bung Karno, mengingatkan kita pada alasan mendasar mengapa republik ini diperjuangkan.

Tidak banyak yang mengingat bahwa semangat perjuangan Bung Karno lahir dari kegelisahan melihat penderitaan rakyat kecil.

Salah satu kisah yang paling sering diceritakan adalah pertemuannya dengan seorang petani miskin bernama Mang Aen di kawasan Cigelereng, Bandung Selatan, pada 1 Oktober 1923.

Saat itu Bung Karno yang masih menjadi mahasiswa memilih membatalkan kuliahnya dan mengayuh sepeda ke arah selatan. Di tengah hamparan sawah, ia bertemu seorang petani yang bekerja keras di bawah terik matahari.

Penulis saat menyembalikan rapelan operasional (ilustrasi Indo-Pos)

Percakapan sederhana dengan Mang Aen meninggalkan kesan mendalam. Bung Karno menyaksikan bagaimana kemiskinan bukan sekadar kondisi ekonomi, melainkan sebuah lingkaran yang membuat seseorang sulit memperbaiki nasibnya.

Dari pengalaman itulah tumbuh keyakinan bahwa satu-satunya jalan untuk membebaskan rakyat dari penindasan dan kemiskinan adalah kemerdekaan.

Mang Aen kemudian menjadi simbol yang dikenal sebagai Marhaen, representasi rakyat kecil yang hidup dari kerja kerasnya sendiri namun tetap terbelenggu oleh kemiskinan.

Dari sinilah lahir Marhaenisme, sebuah ajaran yang menempatkan pembebasan kaum miskin sebagai inti perjuangan bangsa.

Semangat itu sesungguhnya dijaga oleh banyak pendiri republik. Kita mengenal kisah kesederhanaan tokoh-tokoh bangsa seperti Agus Salim yang hidup berpindah-pindah rumah kontrakan, Mohammad Hatta yang dikenal sangat bersahaja.

Johannes Leimena yang memilih hidup sederhana meski memiliki kedudukan tinggi, Inggit Garnasih yang mengabdikan hidupnya untuk perjuangan kemerdekaan, Hoegeng yang tetap hidup sederhana setelah pensiun sebagai Kapolri.

Baharuddin Lopa yang terkenal karena integritasnya, hingga Ir. Sutami yang tidak pernah menjadikan jabatan sebagai jalan untuk memperkaya diri.

Kisah-kisah itu menunjukkan bahwa kekuasaan pernah dipandang sebagai amanah, bukan kesempatan untuk menumpuk kemewahan.

Karena itu, membaca kembali perjalanan hidup para pendiri bangsa sering kali menghadirkan rasa haru sekaligus kegelisahan.

Haru karena mereka memperjuangkan republik dengan pengorbanan yang luar biasa. Gelisah karena cita-cita besar yang mereka wariskan belum sepenuhnya terwujud.

Ketika berita tentang dugaan korupsi kembali muncul di berbagai sektor, sementara jutaan rakyat masih berjuang memenuhi kebutuhan hidupnya, kita tidak bisa menghindari pertanyaan mendasar: apakah republik ini masih berjalan di atas jalan yang dulu dirintis oleh para pendirinya?

Bung Karno dan generasinya mempertaruhkan hidup demi membebaskan rakyat dari kemiskinan dan ketidakadilan.

Karena itu, Bulan Bung Karno seharusnya bukan sekadar momentum mengenang sejarah, melainkan kesempatan untuk bertanya dengan jujur kepada diri sendiri: sudah sejauh mana cita-cita kemerdekaan itu benar-benar diwujudkan?

Konsistensi memang mahal.

Pragmatisme selalu menemukan alasan.

___
Jacobus K. Mayong Padang

Rawajati, 2026

#BulanBungKarno

#Marhaenisme

#MangAen

#NegaraSakit

#KKNMengganas

#RakyatMiskin