Oleh: Mustamin Raga
PELAKITA.ID – Konon, ada tiga jenis manusia yang selalu hadir dalam setiap negara. Yang pertama adalah mereka yang hidup untuk negara. Yang kedua adalah mereka yang hidup dari negara. Dan yang ketiga adalah mereka yang hidup di atas negara.
Ketiganya sama-sama mengenakan pakaian terhormat. Sama-sama berdiri di podium yang sama.
Sama-sama mengucapkan kata rakyat, bangsa, pengabdian, dan pembangunan. Bahkan terkadang mereka duduk di kursi yang sama dan menandatangani dokumen yang sama.
Tapi jika diperhatikan lebih dalam, isi kepala mereka berbeda. Isi hati mereka berbeda. Bahkan tujuan hidup mereka pun berbeda.
Perbedaan itu baru terlihat ketika negara menghadapi persoalan. Sebab dalam keadaan nyaman, semua orang tampak seperti pahlawan.
Dalam keadaan mudah, semua orang terdengar seperti negarawan. Tetapi ketika kepentingan pribadi harus berhadapan dengan kepentingan rakyat, ketika keuntungan keluarga harus berhadapan dengan kemaslahatan bangsa, ketika ambisi pribadi harus berhadapan dengan masa depan negara, di situlah topeng mulai jatuh satu per satu. Di situlah kita mulai mengenali siapa sebenarnya yang sedang berdiri di hadapan kita.
Negarawan adalah manusia yang telah selesai dengan dirinya sendiri. Ia tidak harus kaya raya. Tidak harus memiliki istana. Tidak harus memiliki rekening yang tak habis dihitung. Tetapi ia telah sampai pada satu titik yang sangat sulit dicapai banyak manusiayakni merasa cukup.
Cukup dengan apa yang dimilikinya.
Cukup dengan penghormatan yang diterimanya.
Cukup dengan kedudukan yang dipegangnya.
Cukup dengan cinta yang diperolehnya.
Karena merasa cukup, ia tidak lagi menjadikan jabatan sebagai alat memperkaya diri.
Karena merasa cukup, ia tidak lagi melihat negara sebagai ladang panen bagi keluarga dan kelompoknya.
Karena merasa cukup, ia memiliki kemewahan yang jauh lebih tinggi daripada uang, yakni kebebasan untuk memikirkan orang lain.
Pikirannya tidak lagi dipenuhi pertanyaan, “Apa yang bisa saya dapatkan?”
Melainkan oleh pertanyaan yang jauh lebih besar, “Apa yang bisa saya tinggalkan?”
Warisan itulah yang menjadi obsesinya.
Bukan rumah mewah.
Bukan kendaraan mewah.
Bukan rekening yang diwariskan kepada anak cucunya.
Melainkan jejak manfaat yang masih dirasakan rakyat bahkan ketika namanya telah lama dilupakan.
Dalam karya besarnya, Plato menulis bahwa negara yang baik hanya dapat dipimpin oleh manusia yang mampu mengendalikan dirinya sendiri. Ia menyebutnya philosopher king, pemimpin yang telah menaklukkan nafsu pribadinya sebelum mengatur kehidupan orang lain.
Plato memahami satu hal yang hingga hari ini tetap relevan: orang yang paling layak memegang kekuasaan justru sering kali adalah orang yang tidak tergila-gila pada kekuasaan.
Karena orang yang mengejar jabatan demi dirinya akan menggunakan negara untuk melayani dirinya.
Sedangkan orang yang menerima jabatan sebagai amanah akan menggunakan dirinya untuk melayani negara.
Lebih dari dua ribu tahun lalu Plato seolah telah melihat penyakit yang masih menjangkiti banyak bangsa hingga hari ini: terlalu banyak orang yang ingin berkuasa, tetapi terlalu sedikit yang ingin mengabdi.
Muridnya, Aristoteles, mengajarkan bahwa tujuan negara bukanlah memperkaya penguasa, melainkan menghadirkan kehidupan yang baik bagi seluruh warga negara.
Bagi Aristoteles, ketika kekuasaan digunakan demi kepentingan pribadi atau kelompok kecil, pemerintahan mulai bergerak menuju bentuk tirani, meskipun tetap dibungkus prosedur dan pidato yang indah.
Ironisnya, sejarah menunjukkan bahwa banyak penguasa jatuh bukan karena kurang pintar.
Mereka jatuh karena terlalu mencintai dirinya sendiri.
Sebaliknya, pejabat negara sering kali belum selesai dengan dirinya sendiri.
Jabatannya tinggi, tetapi kegelisahannya lebih tinggi.
Rumahnya besar, tetapi rasa kurangnya lebih besar.
Penghasilannya banyak, tetapi keinginannya jauh lebih banyak.
Akibatnya, negara hanya menjadi alat untuk menyelesaikan urusan-urusan pribadinya.
Setiap kebijakan selalu diawali oleh pertanyaan tersembunyi:
Apa untungnya bagi saya?
Apa manfaatnya bagi keluarga saya?
Apa keuntungan bagi kelompok saya?
Mereka tetap berbicara tentang rakyat.
Tetap berpidato tentang pengabdian.
Tetap mengucapkan kalimat-kalimat besar tentang nasionalisme.
Namun rakyat hanya menjadi kata benda yang indah di dalam pidato.
Bukan manusia yang hidup di dalam hati mereka.
Kepentingan bangsa berubah menjadi slogan.
Sedangkan kepentingan pribadi berubah menjadi tujuan.
Mereka mengucapkan pengorbanan dengan lantang, tetapi selalu memastikan yang berkorban adalah orang lain.
Mereka menyerukan efisiensi, tetapi tidak pernah mengurangi kenyamanan mereka sendiri.
Mereka berbicara tentang kesederhanaan dari balik kemewahan.
Mereka berbicara tentang penderitaan rakyat dari ruang-ruang berpendingin udara yang tak pernah mengenal panasnya kehidupan rakyat.
Negarawan Romawi, Cicero, pernah mengatakan bahwa negara adalah res publica—urusan bersama.
Kalimat itu sederhana, tetapi sangat dalam.
Negara bukan milik presiden.
Bukan milik menteri.
Bukan milik partai politik.
Bukan milik kelompok ekonomi tertentu.
Negara adalah milik seluruh rakyat.
Karena itu, setiap kekuasaan publik yang digunakan untuk keuntungan pribadi pada hakikatnya adalah pengkhianatan terhadap kepercayaan rakyat.
Lebih jauh lagi, ada kelompok ketiga yang jauh lebih berbahaya.
Mereka adalah penikmat negara.
Mereka tidak selalu memiliki jabatan.
Tidak selalu memiliki pangkat.
Tidak selalu memiliki kursi kekuasaan.
Tetapi mereka selalu berada di sekitar kekuasaan.
Seperti ngengat yang mengitari cahaya lampu.
Mereka tahu ke mana arah angin bertiup.
Mereka tahu siapa yang harus dipuji.
Mereka tahu pintu mana yang harus diketuk.
Mereka tahu kapan harus diam dan kapan harus berteriak.
Negara bagi mereka bukan rumah bersama.
Negara adalah peluang.
Rakyat bukan amanah.
Rakyat adalah pasar.
Kekuasaan bukan tanggung jawab.
Kekuasaan adalah kesempatan.
Mereka tidak peduli siapa yang berkuasa selama mereka tetap memperoleh bagian.
Mereka tidak memiliki ideologi selain keuntungan.
Tidak memiliki keyakinan selain kepentingan.
Dan anehnya, kelompok inilah yang sering kali paling lantang berbicara tentang cinta tanah air.
Karena orang yang sungguh mencintai negaranya biasanya bekerja dalam diam.
Sedangkan mereka yang memanfaatkan negara sering membutuhkan panggung yang besar.
Max Weber, sosiolog besar Jerman, membedakan dua jenis manusia dalam politik.
Pertama, mereka yang hidup untuk politik.
Kedua, mereka yang hidup dari politik.
Mereka yang hidup untuk politik menjadikan kekuasaan sebagai sarana pengabdian.
Sedangkan mereka yang hidup dari politik menjadikan kekuasaan sebagai sumber penghasilan, sumber privilese, dan sumber kenyamanan hidup.
Dalam bahasa yang lebih sederhana, mereka yang hidup untuk politik adalah negarawan.
Sedangkan mereka yang hidup dari politik hanyalah pejabat yang kebetulan memegang kekuasaan.
Perbedaannya tampak kecil.
Tetapi dampaknya terhadap nasib bangsa sangat besar.
Lee Kuan Yew pernah mengingatkan bahwa tugas pemimpin bukanlah menjadi populer, melainkan melakukan apa yang benar bagi masa depan bangsanya.
Negarawan selalu berani mengambil keputusan yang benar meskipun tidak selalu menyenangkan.
Pejabat lebih sering mengambil keputusan yang menyenangkan meskipun tidak selalu benar.
Karena itu ada sebuah ungkapan yang sangat terkenal:
“Politisi memikirkan pemilu berikutnya. Negarawan memikirkan generasi berikutnya.”
Kalimat itu mungkin sederhana.
Namun di dalamnya tersimpan pembeda paling mendasar antara seorang negarawan dan seorang pemburu jabatan.
Politisi bertanya bagaimana mempertahankan kekuasaan.
Negarawan bertanya bagaimana meninggalkan warisan.
Politisi menghitung masa jabatan.
Negarawan menghitung masa depan bangsa.
Politisi sibuk membangun citra.
Negarawan sibuk membangun peradaban.
Maka sesungguhnya sebuah bangsa tidak ditentukan oleh melimpahnya sumber daya alam.
Tidak pula ditentukan oleh tingginya gedung-gedung yang menjulang ke langit.
Nasib bangsa ditentukan oleh jumlah negarawan yang dimilikinya.
Bangsa akan maju apabila kursi-kursi penting diisi oleh orang-orang yang telah selesai dengan dirinya sendiri.
Orang-orang yang tidak lagi rakus terhadap uang.
Tidak lagi lapar terhadap pujian.
Tidak lagi haus terhadap penghormatan.
Tidak lagi terobsesi memperpanjang kekuasaan.
Sebab orang yang masih lapar akan menggunakan jabatan untuk mengenyangkan dirinya.
Sedangkan orang yang sudah kenyang akan menggunakan jabatan untuk memberi makan orang lain.
Di situlah letak perbedaannya.
Negarawan memandang jabatan sebagai amanah.
Pejabat negara memandang jabatan sebagai karier.
Penikmat negara memandang jabatan sebagai peluang.
Negarawan bertanya apa yang bisa ia berikan.
Pejabat bertanya apa yang bisa ia pertahankan.
Penikmat negara bertanya apa yang bisa ia ambil.
Dan sejarah selalu menunjukkan satu kenyataan yang pahit.
Bangsa-bangsa besar tidak runtuh karena kekurangan orang pintar.
Tidak pula karena kekurangan orang kaya.
Mereka runtuh karena terlalu sedikit memiliki negarawan.
Terlalu banyak orang yang ingin menikmati negara.
Terlalu sedikit orang yang bersedia memikulnya.
Sebab pada akhirnya negara bukanlah gedung parlemen.
Bukan istana.
Bukan kantor kementerian.
Bukan pula deretan bangunan megah yang berdiri di ibu kota.
Negara adalah amanah yang dititipkan oleh jutaan rakyat kepada segelintir orang.
Ketika amanah itu dipikul oleh negarawan, rakyat akan merasakan keadilan.
Ketika amanah itu dipikul oleh pejabat yang sibuk dengan dirinya sendiri, rakyat akan merasakan kekecewaan.
Dan ketika amanah itu jatuh ke tangan para penikmat negara, rakyat hanya akan menjadi penonton dari pesta yang dibiayai oleh keringat mereka sendiri.
Maka pertanyaan terbesar bagi setiap bangsa sesungguhnya sederhana:
Masih adakah negarawan di antara kita?
Ataukah yang tersisa hanyalah pejabat yang pandai berpidato dan penikmat negara yang pandai menyamarkan kepentingannya?
Gerhana Alauddin, 5 Juni 2026









