Pendapatan Asli Desa (PADes) Baruga menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Pada tahun 2023, PADes Baruga berada di angka sekitar Rp37 juta. Tahun 2025 meningkat menjadi Rp64 juta. Bahkan, target yang dipasang untuk tahun 2026 mencapai Rp150 juta dari beberapa unit usaha yang sedang dikembangkan.
Oleh: Enda Amir Prayudha
PELAKITA.ID – Sore itu, bincang ringan berlangsung di teras rumah. Tidak ada suasana formal, tidak ada meja rapat atau podium pemerintahan. Hanya percakapan sederhana bersama Muh. Yahya Abdullah, Kepala Desa Baruga, Kecamatan Malili, yang juga merupakan tetangga rumah sendiri.
Namun dari obrolan santai itu, tersimpan kisah panjang tentang kerja keras, perantauan, dan proses bertumbuh seorang pemimpin desa.
Pakde Yahya — begitu ia akrab disapa — bukanlah sosok yang tiba-tiba hadir sebagai kepala desa. Jabatan yang diembannya hari ini merupakan hasil perjalanan hidup yang panjang dan penuh tahapan.
Ia mulai tinggal dan menetap di Malili pada awal tahun 2000-an. Kebetulan, istrinya adalah orang Malili, putri dari seorang Kepala Dusun Baruga pada masanya.
Seperti banyak perantau lainnya, hidup Pakde Yahya dimulai dari perjuangan. Antara tahun 2000 hingga 2006, ia merantau ke Sulawesi Tengah. Setelah itu, pada tahun 2008 hingga 2010, ia pernah bekerja di Truba. Perjalanan kariernya berlanjut ketika ia bekerja di Kajima pada tahun 2010 hingga 2013.
Namun mungkin takdirnya memang dekat dengan pengabdian masyarakat.
Pada tahun 2013, ia mulai masuk dalam ruang pelayanan publik dengan menjadi Anggota BPD (Badan Permusyawaratan Desa). Dari sana, ia semakin memahami kebutuhan warga, persoalan desa, dan pentingnya pembangunan berbasis masyarakat. Tahun 2016, ia dipercaya menjadi Kepala Dusun. Lalu pada tahun 2019, ia menjabat sebagai Kepala Desa Pergantian Antar Waktu (PAW) Desa Baruga hingga sekarang.
Jejak perjalanan itu menunjukkan satu hal penting: kepemimpinan lahir dari proses, bukan sekadar jabatan.
Yang menarik, dalam perbincangan sore itu, pembahasan tidak berhenti pada nostalgia perjalanan hidup. Pakde Yahya justru lebih bersemangat ketika berbicara tentang masa depan ekonomi desa, terutama mengenai BUMDes sebagai motor penggerak kesejahteraan masyarakat.
Menurutnya, desa tidak boleh hanya bergantung pada dana transfer pemerintah. Desa harus mampu menciptakan sumber pendapatan sendiri melalui pengelolaan potensi lokal dan unit usaha produktif.
Hasilnya mulai terlihat nyata.
Pendapatan Asli Desa (PADes) Baruga menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Pada tahun 2023, PADes Baruga berada di angka sekitar Rp37 juta. Tahun 2025 meningkat menjadi Rp64 juta. Bahkan, target yang dipasang untuk tahun 2026 mencapai Rp150 juta dari beberapa unit usaha yang sedang dikembangkan.
Angka itu mungkin terlihat kecil jika dibandingkan dengan skala perusahaan besar. Tetapi bagi sebuah desa, pertumbuhan tersebut adalah tanda penting bahwa roda ekonomi lokal mulai bergerak ke arah yang sehat.
“Inimi yang dimaksud growth,” ujar saya sambil tersenyum dalam percakapan sore itu.
Dan memang benar. Pertumbuhan bukan hanya tentang angka besar, melainkan tentang keberanian memulai, kemampuan bertahan, dan konsistensi membangun sedikit demi sedikit.
Di tengah banyaknya cerita pesimisme tentang desa, kisah Pakde Yahya menghadirkan sudut pandang berbeda. Bahwa pembangunan desa tidak selalu lahir dari teori besar atau pidato panjang.
Kadang ia lahir dari pengalaman hidup seorang perantau, dari orang biasa yang memahami bagaimana rasanya berjuang dari bawah.
Kini, Pakde Yahya bukan hanya kepala desa. Ia adalah contoh bahwa kepemimpinan lokal bisa tumbuh dari kedekatan dengan masyarakat, pengalaman kerja, dan kemauan belajar dari waktu ke waktu.
Dari teras rumah sederhana di Baruga, kita belajar bahwa perubahan desa tidak selalu bergerak cepat. Tetapi selama ada orang-orang yang mau bekerja dengan tulus dan berpikir tentang masa depan masyarakatnya, pertumbuhan itu akan tetap berjalan.
Pelan, tetapi pasti.









