Ano Suparno | Komunikasi Tanpa Sekat

  • Whatsapp
Ano Suparno (dok: Istimewa)

A la Gubernur Kang Dedi dan Gubernur Onti Sherly!

By : Ano Suparno

PELAKITA.ID – Pesan secangkir kopi hitam, duduk lalu menyeruput. Srupppppp.. “kopiku pagi ini rasanya enak sekali”.

Sembari menikmati kopi hitam americano, seutas vintage rewave melintas menyodorkan lagu lama yang katanya jangan dipandang lama,

“Di Suatu Masa” judulnya. “Ibarat air di daun keladi. Biarpun tergenang tetapi tak menimbulkan kesan”

Pembaca #KopiAno yang budiman, daun keladi itu licin dan karena tidak menyerap air. Air bisa numpang di atasnya, kelihatan menggenang, tapi tak bisa membasahi. Digoyang sedikit saja langsung jatuh semua, tanpa bekas.

Open the door #KopiAno

Sudah setahun kita menyaksikan 504 kepala daerah memimpin setelah terpilih secara serempak pada 2024.

Dari ratusan kepala daerah tersebut setidaknya jagad media digital mencatat hanya dua kepala daerah yang algoritma nya sampai ke publik, membumi secara nasional.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda.

Begitulah Kang Dedi dan Sherly pemirsa!

Daripada menyuruh bawahannya ke lapangan, temui warga , dua gubernur ini lebih memilih ketemu langsung dengan masyarakatnya. Komunikasinya riang, langsung dan membumi. Dia begitu dekat dengan publik, TANPA SEKAT!

Bukan hanya tanpa sekat melalui body language tetapi juga tanpa sekat dalam hal komunikasi.

Keduanya menerapkan Komunikasinya Tanpa Sekat, menyatu dengan Masyarakat

Di era digital, sekat antara pemimpin dan rakyat itu sudah tak relevan lagi. Dedi Mulyadi dan Sherly Tjoanda adalah dua kepala daerah yang dapat menjadi contoh bagi pejabat lainnya saat berkomunikasi dengan publik. Sebab komunikasi akan menentukan arah program, dapat diterima oleh masyarakat atau tidak? Tergantung strategi dan cara komunikasi pejabat saat menghadapi publik.

Kenapa gaya komunikasi “tanpa sekat” a la Kang Dedi dan Onti Sherly itu penting?

Sebab komunikasinya bukan tempelan. Ibaratnya komunikasi keduanya menjadi bahan bakar untuk menyukseskan program Pemprov Jawa Barat dan Pemprov Maluku Utara.

Kalau gayanya salah, program sebagus apapun jadi bagaikan air di daun keladi. Jika komunikasi tanpa sekat nya membumi maka yang terjadi adalah:

Trust Naik, Apatis Turun. Rakyat merasa didengar oleh pejabat sehingga mereka percaya.

Hoaks Kalah Cepat

Pemimpin yang muncul tiap hari di kanal ala Kang Dedi atau di pasar dan kampung nelayan ala Onti Sherly maka warga bisa langsung klarifikasi.

Tidak harus menunggu rilis dari humas atau mengatakan seperti ini: “Oke. Silahkan menyurat dan masukan ke staf saya” bahasa pejabat seperti ini tak relevan lagi.

Cara seperti ini akan menutup ruang hoaks menjadi kosong.

Kebijakan Jadi Bahasa Kita

Kita tau program yang lagi viral saat ini tengah dijalankan oleh pejabat! Yakni
Soal sampah, stunting, digital. Jika menggunakan bahasa birokrasi di tengah masyarakat maka yakinlah, komunikasi anda sebagai pejabat akan mental.

Saya kasi contoh komunikasi Gubernur Sherly: “Katong kase makan ikan” sambil masak”

Nah komunikasi seperti ini pasti ibu-ibu langsung paham. Pesan nyampe, perilaku berubah. Yakinlah jika menggunakan komunikasi tanpa sekat maka indikator keberhasilan jadi real.

Program sukses itu bukan spanduk terpasang, bukan karena penghargaan atau award. Tapi saat rakyatnya bilang: “Oh iya, sangat terasa kok manfaatnya.” Gaya komunikasi tanpa sekat bikin gubernur tahu itu real time, bukan menunggu survei akhir tahun.

Mari kita menarasikan saat Kang Dedi dan Onti Sherly berkomunikasi ke publiknya.

Keduanya tak perlu berdiri di atas panggung tinggi atau mimbar untuk berpidato laksamana menjanjikan surga.

Gubernur Dedi terkenal dengan blusukan ke gang sempit dan warung kopi. Tak menggunakan protokol kaku. Duduk lesehan, ngobrol pake bahasa Sunda, memasang telinga, menyimak saat warga dan pedagang mengeluhkan harga cabai.

Pun Gubernur Sherly sama. Di Ternate,dia turun ke pasar ikan jam 05.00 pagi. Tak ada salaman, tapi ikut menimbang ikan sama mama-mama.

Tanya langsung: “Paling susah apa kalau mau jualan online, Ma?”

Sekatnya runtuh karena pemimpinnya mau turun, berbahasa ibu yang membumi.

Komunikasi tanpa sekat itu tak perlu menunggu Musrenbang yang digelar di hotel mewah. Hingga detik ini saya masih heran, mengapa pejabat membahas kondisi sosial masyarakat di hotel berbintang?

Padahal bisa di sawah, di kantin kampus, di live TikTok, Facebook, IG , atau di grup WhatsApp RT.

Contoh, Gubernur Jabar punya program “Jabar Quick Response” yang isinya anak muda. Ide warga bisa langsung masuk meja gubernur.

Gubernur Sherly bikin “Kantor Gubernur Keliling” tiap bulan pindah ke kabupaten lain. Urusan warga dibereskan saat itu juga.

“Oh guru apa saja yang lari? Kamu bercurhat ke orang yang tepat. Siapa nama gurunya. Trus, apa lagi”.

Saat Sherly merespon aduan para pelajar, sembari mencatat menggunakan ponselnya, serius lalu menegur langsung kepala sekolah.

Bahasa kedua gubernur ini tak lagi menggunakan istilah “disampaikan kepada khalayak” atau “sesuai arahan”. Gubernur Jabar pake IG Live sambil makan bala-bala, jawab komen netizen soal macet. “Warga Jabar, jalan alternatifnya dicoba dulu ya, jangan gengsi.”

Gubernur Sherly bikin konten TikTok pake logat Ternate. Edukasi soal stunting disampaikan sambil masak papeda. “Torang pe ana-ana musti kuat. Mari katong kase makan ikan.” Pesan jadi melekat karena bahasanya bukan kayak air di daun keladi.

Intinya, komunikasi tanpa sekat bukan berarti tak kenal aturan. Tapi pemimpinnya sengaja buka pintu, buka telinga, buka hati. Agar kebijakan kebijakannya tidak selangit dan rakyat pun tak merasa jauh.

Karena kalau komunikasi sudah riang, membumi dan langsung ke sasaran, gunakan bahasa kita, hasilnya bukan cuma dipahami. Tapi diterima dan dijalankan bareng-bareng

Kuakhiri #kopiano sembari menyimak Music berbasis AI Generatif, “Di Desa Nggak Pake Dollar”

Ano Suparno
Praktisi Komunikasi Media Digital

Tanamera, Pipo, Senin 25 Mei 2026