PELAKITA.ID – Potret usang rumah sakit di daerah kadang menyajikan cerita berulang. Hanya bentuk dan kejadiannya yang beda. Ada yang sukses dan berhasil dan tidak sedikit pula yang gagal.
“Tak usah menengok kebelakang. Kita menatap ke depan saja,” kata dokter muda yang datang dengan cara pandang yang berbeda.
Badannya tegap, rambutnya pendek. Kami bertemu di Jakarta, di sela-sela turnamen padel yang diikutinya beberapa waktu lalu.
Ia hobi olahraga, terutama tenis dan belakangan aktif padel. Gerakannya terlincah dan gesit dengan ayunan raket padel yang digenggamnya.
“Kapan-kapan lihat rumah sakit kami sekarang,” ajaknya dengan nada bangga.
Namanya: Kapten CKM dr. Idul Saputra, S.IP, MH.Kes. Sejak Oktober 2025 ia ditugaskan sebagai Kepala Rumah Sakit Tk.IV dr.R.Ismoyo di Kendari, Sulawesi Tenggara. RS ini berada di bawah Danrem 143/Haluoleo atau Denkesyah Kendari dan Kesdam XIV/Hasanuddin.
Perubahan status dari Rumah Sakit Korem 143/HO menjadi Rumah Sakit Tk. IV dr. R. Ismoyo Kendari diresmikan pada 5 April 1983 oleh Mayjen TNI Sugiarto, Panglima Kodam XIV/Hasanudin ketika itu.
Sedangkan pemilihan nama yang disematkan pada Rumah Sakit ini untuk mengenang jasa-jasa dan pengabdian dr. R. Ismoyo Sosromihardjo yang lahir pada 30 Mei 1920 dan wafat pada 9 Januari 1981 dengan pangkat terakhir Brigadir Jenderal.
Saat pertama kali menginjak kaki di bangunan yang populer di masyarakat setempat dengan sebutan “Rumah Sakit Korem” hatinya gelisah.
Ia miris dan prihatin melihat beberapa kekurangan. Ia mendiagnosa dengan cermat setiap masalah dan kendala yang menghadang.
“Soal pelayanan, fasilitas dan tenaga medisnya?” tebak saya memancing obrolan hari itu.

“Iya rerata saya benahi semua. Termasuk tambah dokter spesialis,” jawabnya singkat sembari menyeka bulir keringat di tubuhnnya.
Belum genap setahun di bawah kepemimpinannya, dokter Idul- begitu ia biasa dipanggil- bergegas membenahi peninggalan dan mempercantik manajemen yang sudah berjalan baik.
“Persisnya melanjutkan dan dibuat semakin solid dan berkarakter kuat untuk pelayanan,” ujarnya.
Faktor sukses pembenahan itu karena adanya kepemimpinan transformasi di lingkungan rumah sakit tersebut.
Belajar dari pengalaman sejumlah orang, kepemimpinan transformasional tidak mudah diterapkan. Bisa tapi sulit. Apalagi pada lembaga/instansi pelayanan publik di daerah yang pengambilan keputusannya berjenjang, vertikal, dan garis komando. Tapi Idul dengan latar belakang aktivis saat mahasiswa berkeras bisa.
Dari hasil diagnosa internal Idul lantas menemukan solusi.
Fokus utama perubahannya antara lain meliputi peningkatan akses masyarakat umum dengan memperluas jangkauan layanan, yang tidak hanya untuk personel TNI/PNS, tetapi juga melayani masyarakat umum dan pasien BPJS.
Selain itu Idul melakukan ekspansi layanan medis dengan menggandeng kerja sama para dokter spesialis guna melengkapi berbagai fasilitas poli spesialis yang ada.
Yang tak kalah penting, menurut Idul, upaya inovasi dan kolaborasi tenaga ahli.
Pengalamannya selama ini dengan memanfaatkan networking serta jejaring kolega sejawat, membuktikan bahwa peningkatan mutu layanan bisa dicapai melalui inovasi tanpa perlu investasi fasilitas secara berlebihan.
Bagi Idul yang kerap jadi model PA PK TNI sejak 2023 bertekad menjadikan RS dr. R.Ismoyo menjadi rumah sakit militer yang unggul, profesional, modern, dan terpercaya dalam memberikan pelayanan kesehatan paripurna.
Tak hanya bagi prajurit, keluarga, dan dukungan operasional TNI, tapi juga masyarakat umum.

Idul lulus dokter dari Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Makassar. Waktu itu dokter yang baru lulus wajib kerja di daerah. Idul bangga dengan kewajiban mengabdi di daerah seperti itu. Ia merasa karakter dan kepribadian seorang dokter terbentuk di situ.
Sebagai dokter baru, ia bisa memilih dari beberapa pilihan yang tersedia. Di antaranya boleh menempuh spesialis, menjadi ASN, mau pilih ditempatkan di mana, dan lainnya.
Idul memilih menjadi perwira kesehatan TNI AD. Awalnya ingin mengambil studi spesialis. Lalu batal.
Ia pilih berkarir di corps kesehatan militer. Dan bekerja dengan memimpin rumah sakit militer di ibu kota provinsi Sulawesi Tenggara.
“Ambil spesialis kan bisa dilakukan kelak ketika sudah ada kemampuan dan fleksibelitas waktu,” katanya.
Idul termasuk tipe dokter yang pembelajar. Ia haus ilmu dan pengetahuan. Sebelumnya ia menempuh pendidikan S1 ilmu politik di Universitas Jendral Ahmad Yani (Unjani).
Tak puas di situ, lalu ia melanjutkan studi S2 magister kesehatan di UI Jakarta.
Transformasi Idul diyakini akan terus bergulir seperti kelincahan dan gesitnya mengolah bola di lapangan padel.
(Rusman Madjulekka).









