Pesan Cinta Sang Hafiz: Ketika Takdir Menghentikan Langkah, tetapi Warisan Kebaikan Tetap Hidup

  • Whatsapp
Ilustrasi

“Allah mempertemukan manusia untuk satu alasan; entah untuk belajar atau mengajarkan, entah untuk sesaat atau selamanya. Yang terpenting adalah menjadi pribadi terbaik selama kesempatan itu diberikan.”

PELAKITA.ID – Kalimat itu menjadi pembuka yang tepat untuk mengenang perjalanan hidup seorang pemuda bernama Arianto, yang akrab disapa Ari Merantau.

Kisahnya bukan sekadar tentang seorang perantau dari Aceh yang mencari penghidupan di tanah Sulawesi, melainkan tentang seorang hamba yang menjadikan Al-Qur’an sebagai kompas hidupnya.

Sejak muda, Ari memiliki cita-cita yang sederhana sekaligus mulia: menjadi imam sekaligus penghafal Al-Qur’an yang mampu mengajarkan nilai-nilai Islam kepada masyarakat.

Ia tidak pernah bermimpi menjadi orang yang paling terkenal atau paling kaya. Yang ia inginkan hanyalah menjadi pribadi yang terus memperbaiki diri.

“Aku ingin menjadi yang terbaik dalam apa yang kulakukan. Aku tidak harus mengalahkan siapa pun, karena setiap hari yang harus kulakukan adalah meningkatkan kualitas diriku sendiri.”

Prinsip itu menjadi bekalnya merantau dari kampung halaman di Aceh menuju Sulawesi Selatan. Seorang diri, ia menapaki perjalanan panjang dengan membawa ilmu, pengalaman, dan keyakinan bahwa setiap langkah akan dipandu oleh Allah SWT.

Di Sulawesi, Ari tidak hanya menemukan tempat untuk mengabdikan diri sebagai imam dan guru di sebuah pondok tahfiz Al-Qur’an. Ia juga menemukan belahan jiwanya.

Ia menikah dengan Yunarti Rahman, perempuan yang kemudian menjadi sahabat perjalanan hidupnya.

Dari pernikahan itu, Allah menganugerahkan tiga orang anak yang menjadi pelengkap kebahagiaan keluarga kecil mereka.

Bagi Yunarti, Ari bukan hanya seorang suami. Ia adalah teladan.

Di tengah kesibukannya mengajar dan membimbing para santri menghafal Al-Qur’an, Ari tidak pernah merasa pekerjaan rumah tangga hanya menjadi tanggung jawab istrinya. Ia membantu mencuci, membersihkan rumah, bahkan mengerjakan pekerjaan domestik tanpa pernah mengeluh.

Tidak ada bentakan. Tidak ada kata-kata kasar.

Yang ada hanyalah kelembutan, kesabaran, dan kasih sayang yang diwujudkan dalam tindakan sehari-hari.

Keluarga kecil itu juga memendam sebuah impian besar.

Mereka ingin mendirikan Rumah Qur’an, sebuah tempat belajar yang dapat melahirkan generasi penghafal Al-Qur’an di Sulawesi Selatan. Bagi Ari, ilmu yang dimiliki bukan untuk disimpan sendiri, melainkan diwariskan kepada sebanyak mungkin orang.

Mereka percaya bahwa investasi terbaik bukanlah harta, melainkan ilmu yang terus mengalir manfaatnya.

Namun, seperti banyak kisah kehidupan lainnya, tidak semua impian diberi kesempatan untuk selesai diwujudkan.

Beberapa waktu sebelum wafat, Ari telah merencanakan perjalanan pulang ke Aceh. Ia ingin memperkenalkan istri dan ketiga anaknya kepada kedua orang tua serta keluarga besarnya. Sebuah kerinduan yang lama dipendam akhirnya hampir terwujud.

Tetapi Allah memiliki rencana yang berbeda.

Sebelum perjalanan itu terlaksana, Ari berpulang akibat sebuah kecelakaan. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, para santri, dan siapa pun yang mengenalnya.

Meski usia hidupnya tidak panjang, Ari meninggalkan jejak yang sulit dihapus oleh waktu.

Warisan itu bukan berupa harta benda, melainkan akhlak, keteladanan, dan cinta kepada Al-Qur’an.

Kisah hidupnya kemudian diabadikan oleh sang istri dalam sebuah buku berjudul Pesan Cinta Sang Hafiz. Buku tersebut bukan hanya menjadi kenangan tentang seorang suami, tetapi juga pengingat bahwa ukuran kehidupan bukan ditentukan oleh panjangnya usia, melainkan oleh seberapa besar manfaat yang ditinggalkan.

Ari telah pergi.

Namun nilai-nilai yang ia tanamkan—tentang tanggung jawab, kasih sayang dalam keluarga, pengabdian kepada ilmu, dan kecintaan kepada Al-Qur’an—akan terus hidup di hati orang-orang yang pernah mengenalnya.

Sebab pada akhirnya, manusia mungkin akan dikenang karena banyak hal. Tetapi yang paling abadi adalah kebaikan yang sempat ia tebarkan selama hidupnya.

___
Penulis: Fitri, alumni SPPM Maros angkatan VIII