Oleh: Muliadi Saleh, Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran
PELAKITA.ID – Tulisan Mashud Azikin di Disway-Sulsel.Com, berjudul Episentrum Berkah di Tanah Residu layak diapresiasi sebagai refleksi yang melampaui isu persampahan.
Ia bukan sekadar mengulas pengelolaan limbah, melainkan menggugat cara pandang kita terhadap ruang, keadilan, kemanusiaan, dan masa depan kota.
Karena itu, naskah aslinya sebaiknya tetap dipertahankan, lalu diperkaya dengan perspektif ekoteologi, sosial-ekonomi, dan kolaborasi pembangunan.
Selama puluhan tahun, Manggala memikul beban yang tidak dibagi secara adil.
Hampir seluruh warga Makassar menikmati lingkungan yang lebih bersih, tetapi hanya sebagian warga yang harus hidup berdampingan dengan aroma, residu, debu, dan berbagai risiko ekologis. Di sinilah kita menemukan persoalan ketidakadilan tata ruang dan ketidakadilan tata sampah.
Sampah diproduksi oleh seluruh kota, tetapi dampaknya terkonsentrasi pada satu kawasan. Padahal setiap kantong sampah yang kita keluarkan dari rumah sesungguhnya adalah jejak gaya hidup kita sendiri.
Di sinilah ekoteologi menemukan relevansinya. Dalam pandangan agama, manusia bukan pemilik bumi, melainkan khalifah yang diberi amanah untuk memelihara ciptaan Tuhan.
Menjaga lingkungan bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan bagian dari ibadah sosial. Memilah sampah, mengurangi plastik sekali pakai, serta melindungi keselamatan petugas kebersihan merupakan wujud nyata penghormatan terhadap sesama manusia sekaligus rasa syukur atas karunia alam.
Karena itu, slogan “Pilah, Angkut, Berkah!” memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar kampanye kebersihan. Ia mengajak masyarakat melihat sampah sebagai sumber kehidupan baru.
Sampah organik berubah menjadi kompos, maggot, eco-enzyme, bahkan energi. Sampah anorganik menjadi tabungan ekonomi melalui daur ulang. Residu bukan lagi akhir, melainkan awal siklus kehidupan yang baru.
Lebih jauh lagi, gerakan ini mengajarkan budaya saling menghargai. Menghargai warga Manggala yang selama ini menjadi tetangga terdekat gunungan sampah.
Menghargai para petugas kebersihan yang bekerja ketika sebagian besar warga masih terlelap. Menghargai para pemulung yang menjadi bagian penting ekonomi sirkular. Menghargai alam yang selama ini menerima semua yang kita buang.
Kota yang maju bukan hanya memiliki jalan yang mulus dan gedung yang tinggi, tetapi juga memiliki empati yang besar kepada mereka yang menjaga kebersihan kota.
Dari perspektif ekonomi, sampah telah menjadi sumber daya baru. Nilai tambah tercipta melalui industri kompos, bank sampah, daur ulang, maggot, bioenergi, hingga pembangkit listrik berbasis sampah. Dengan demikian, pengelolaan sampah bukan lagi sekadar biaya pelayanan publik, melainkan investasi ekonomi hijau yang membuka lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Namun transformasi ini tidak mungkin dikerjakan oleh pemerintah sendiri. Dibutuhkan pendekatan Hexahelix, yaitu kolaborasi enam unsur pembangunan.
Pemerintah bertugas menghadirkan regulasi yang adil, infrastruktur, dan kepastian kebijakan. Akademisi mengembangkan riset dan inovasi teknologi pengolahan sampah. Dunia usaha berinvestasi dalam ekonomi sirkular sekaligus menjalankan tanggung jawab lingkungan.
Komunitas dan masyarakat menjadi pelaku utama pemilahan sampah sejak dari rumah. Media membangun kesadaran publik melalui edukasi yang konsisten. Sementara tokoh agama dan budaya menanamkan nilai-nilai moral bahwa menjaga bumi merupakan bagian dari amanah spiritual.
Jika keenam unsur ini berjalan bersama, Manggala tidak lagi menjadi halaman belakang Kota Makassar. Ia akan menjadi laboratorium inovasi lingkungan, pusat pembelajaran ekonomi hijau, sekaligus simbol keadilan ekologis.
Karena sesungguhnya yang harus kita buang bukan hanya sampah, tetapi juga cara berpikir lama yang memandang limbah sebagai kutukan. Yang perlu kita bangun adalah kesadaran baru bahwa setiap sampah yang kita hasilkan adalah tanggung jawab bersama, dan setiap upaya mengelolanya adalah investasi bagi masa depan.
Makassar yang bebas sampah pada 2029 tidak hanya ditentukan oleh teknologi atau anggaran, tetapi oleh perubahan cara pandang seluruh warganya.
Ketika pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, media, dan tokoh agama saling menghargai serta memikul tanggung jawab bersama, Manggala akan dikenang bukan sebagai tempat pembuangan akhir, melainkan sebagai episentrum lahirnya peradaban hijau—tempat sampah benar-benar berubah menjadi berkah.
Muliadi Saleh: “Menulis Makna, Membangun Peradaban.”









