“Jika sekadar mengajar tanpa memikirkan mau jadi apa anak-anak kita, seberapa siap mereka di dunia kerja, rasanya berdosa kita.”
PELAKITA.ID – Ada perjalanan yang sekadar berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Ada pula perjalanan yang sesungguhnya adalah proses membaca kembali arah hidup, mengenang jejak masa lalu, sekaligus menata harapan untuk masa depan.
Beberapa hari terakhir, saya merasakan perjalanan jenis kedua.
Salah satu momen yang paling berkesan adalah ketika menghabiskan malam bersama istri tercinta di kediaman Prof. Nurjannah Nurdin (Ecce 88), pakar remote sensing pesisir dan laut dari Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin.
Rumah beliau di Graha Mirdin Kasim terasa begitu teduh dan bersahaja. Saya teringat pesan beliau kepada adik-adik Klaners beberapa waktu lalu saat saya dan beberapa alumni Kelautan Unhas tur minisoccer, “Kalau sedang berada di Ajatappareng, silakan mampir di rumah.”
Saat kami ada di kediamannya, Kak Ecce sedang berada di Thailand untuk satu konferensi remote sensing.
Ajakan itu akhirnya saya tunaikan sepulang dari memjenguk anak bungsu yang lagi praktik lapangan di Sidrap, juga berkunjung ke kantor Dinas PMPTSP Pinrang dan bersilaturahmi Ibu Kadis, Andi Mirani, sahabat yang juga alumni SMA Negeri I Makassar angkatan 92. Andi Mirani bercerita tentang sejumlah inovasi layanan fasilitasi investasi, dampak dan kondisi saat ini.
***
Kembali ke rumah Kak Ecce. Alhamdulillah, bisa bermalam rumah itu, di Bojo Barru, sekaligus menjadi kesempatan menikmati perjalanan bersama istri—semacam “honeymoon” kecil setelah sekian lama.
Di Parepare, saya juga sempatkan bersua sahabat seperjuangan di Ilmu dan Teknologi Kelautan Unhas tahun 1989 hingga pertengahan tahun 90-an, Muslih Said dan Andi Syaifuddin. Kami ngobrol dan nongkrong di Pantai Parepare, menyaksikan laut yang mengalun tenang.
Rumah itu bagi saya bukan sekadar tempat singgah. Ia seperti sebuah call from the region—panggilan dari daerah. Dari sana terasa begitu banyak pekerjaan rumah yang menanti alumni Ilmu Kelautan.
Ajatappareng menyimpan bentang pesisir yang kaya, namun masih membutuhkan lebih banyak sentuhan ilmu pengetahuan, riset, inovasi, dan kolaborasi.
Percakapan dengan Muslih dan Syaifuddin mengingatkan saya perbincangan dengan Dr. Yayu A. La Nafie yang membuka perspektif lain. Dengan Yayu, kami berbincang mengenai potensi ekosistem lamun dan keberadaan dugong di kawasan antara Pulau Panikiang dan pesisir Barru.
Kawasan ini memiliki nilai ekologis yang sangat penting, namun masih memerlukan riset yang lebih mendalam.
Saya membayangkan, mengapa tidak menawarkan kerja sama penelitian kepada Pemerintah Kabupaten Barru? Parepare? Pinrang? Setidaknya melakukan pemetaan awal mengenai potensi lamun, konservasi habitat dugong, hingga penyusunan basis data yang dapat mendukung pengelolaan sumber daya pesisir di WPPNRI 713.
Di sinilah kampus, pemerintah daerah, dan alumni dapat bertemu dalam satu kepentingan: menjaga laut sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Cerita dari Lantai 3 Departemen Kelautan FIKP Unhas
Beberapa dua hari sebelumnya, saya berkesempatan kembali ke lantai tiga Departemen Ilmu Kelautan FIKP Unhas. Tempat yang menyimpan begitu banyak kenangan saat menjadi mahasiswa di antara tahun 1989 hingga 1995.
Di sana saya bertemu dengan Dr Supriadi Mashoreng pakar mangrove Unhas, Prof. Cido yang fenomenal sebagai guru besar fisika oseanografi, Prof. Erik pakar karang, Prof. Rahmadi Tambaru kepala Departemen Kelautan FIKP Unhas, pakar lamun Dr. Yayu A. La Nafie, menyapa Dr. Inayah Yasir, dan juga Prof. Amran Saru pakar ekologi mangrove.
Pertemuan itu tidak terasa sebagai forum formal, melainkan ruang refleksi mengenai perjalanan panjang Ilmu Kelautan Unhas sejak pertama kali didirikan.

Obrolan kami mengalir ke berbagai arah. Tentang bagaimana meningkatkan kapasitas akademik mahasiswa di tengah status perguruan tinggi PTNBH, juga semakin beratnya penciptaan lapangan kerja bagi alumni.
Juga tentang pentingnya membangun budaya riset yang kreatif di tengah problematika ekologi dan sosial ekonomi bangsa.
Tentang peluang memperluas kolaborasi antara alumni, lembaga pemerintah, industri, dan kampus melalui penelitian maupun praktik kerja lapangan mahasiswa.
Pendek cerita, saya yakin bahwa jaringan alumni sesungguhnya merupakan modal sosial yang sangat besar.
Jika dikonsolidasikan dengan baik, alumni dapat menjadi penghubung antara kebutuhan dunia kerja, agenda riset, pengembangan laboratorium, hingga penguatan reputasi Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan. Komunikasi intens antara kampus, alumni dan organisasi alumninya adalah niscaya. Kampus tak lagi bisa berleha-leha dengan semata mengajar, bangku kuliah, ujian, selesai.
“Jika sekadar mengajar tanpa memikirkan mau jadi apa anak-anak kita, seberapa siap mereka di dunia kerja, rasanya berdosa kita.”,” terkenang omongan Muslih Said, saat kami bersua di Teras Empang Parepare.
Pembaca sekalian, ada satu topik pembicaraan yang cukup menggelitik pikiran kami.
Memang, jumlah mahasiswa baru Ilmu Kelautan kini relatif stabil, sekitar dua ratus orang setiap angkatan. Angka yang jauh berbeda dibanding masa kami dahulu, ketika satu angkatan bahkan hanya sekitar lima puluh mahasiswa. Pertumbuhan kuantitas tentu patut disyukuri. Namun pertanyaan berikutnya jauh lebih penting: bagaimana menjaga kualitas? Input dan outputnya bagaimana?
Saya mencatat, kapasitas akademik mahasiswa yang ada di kampus menjadi atensi, kurangnya kreativitas belajar juga menjadi atensi, misalnya metodologi apa yang paling efektif?
Bagaimana dengan kemampuan berpikir kritis, pada diri, pada organisasi dan apa atensi mereka pada sistem sosialnya?. Bagaimana mereka memperoleh pengalaman lapangan, hingga kesiapan memasuki dunia kerja menjadi tantangan yang tidak bisa diabaikan.
Dunia kelautan kini berkembang sangat cepat—mulai dari teknologi penginderaan jauh, kecerdasan buatan, ekonomi biru, karbon biru, hingga konservasi berbasis masyarakat. Saya kira, kampus perlu terus beradaptasi, dan alumni memiliki ruang yang luas untuk ikut berkontribusi.
Di tengah berbagai refleksi itu, saya justru semakin optimistis.
Saya masih percaya bahwa Marine Science adalah disiplin ilmu yang memiliki kehormatan tersendiri.
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia tidak mungkin melepaskan masa depannya dari laut. Tantangan perubahan iklim, pengelolaan perikanan, konservasi pesisir, energi laut, hingga ekonomi biru semuanya membutuhkan ilmuwan, peneliti, dan praktisi kelautan yang berkualitas.
Karena itu, memperkuat Ilmu Kelautan bukan hanya soal membangun satu program studi atau fakultas. Ini adalah bagian dari membangun masa depan Indonesia sebagai bangsa maritim, sebagai Benua Maritim Indonesia.
Perjalanan singkat ke Ajatappareng dan kembali ke kampus lama akhirnya menyisakan satu kesimpulan sederhana. Alumni bukan hanya mengenang masa lalu, melainkan bagaimana menghadirkan kembali makna dari ilmu yang pernah dipelajari.
___
Denun
Tamarunang, 9 Juli 2026









