Awendoeee, saya ternyata hanya diingat oleh teman-temanku sebagai sosok tukang demo dan pemberontak. Ternyata sebutan itu tak pupus dari ingatan mereka meski sudah berpuluh tahun berlalu.
Oleh Yarifai Mappeaty
PELAKITA.ID – Ini cerita tentangku dan tentang Mahasiswa Perikanan Fakultas Peternakan Unhas, khususnya Angkatan 1985 yang baru saja bereuni. Reuni itu sendiri difasilitasi oleh Prof. Jamaluddin Jompa, Rektor Unhas saat ini, tak lain adalah juga alumni Jurusan Perikanan, seangkatanku.
Ahad, 21 Juni 2026, bertempat di Ruang Semi Out Door Hotel Unhas, kami benar-benar bereuni setelah berpuluh tahun. Jamal, begitu Rektor Unhas dua periode itu kami panggil, sengaja memilih tempat itu yang view-nya langsung menghadap ke danau.
Ia tampaknya bermaksud mengingatkan kami pada begitu banyak kenangan yang tersimpan di danau itu.
Jamal benar. Sebab bagi kami Mahasiswa Perikanan, Danau Unhas itu bukan sekadar tempat bersantai. Namun, ada sejumlah Mata Kuliah “memaksa” kami pernah berendam di sana.
Sebagai sebuah ekosistem, di sana kami belajar banyak hal tentang alam dan kehidupan. Relasi elemen dasar kehidupan seperti tanah, air, udara, dan sinar matahari.
Relasi itu tersimpul pada satu kata kunci proses kehidupan yang paling fundamental, yaitu: fotosintesa.
Tiba di lokasi reuni, lumayan telat, hampir sejam, dan acara sudah berlangsung. Melihat Jamal memberi sambutan selaku sohibul baits, membuatku tertegun sejenak.
Saya seolah melihatnya berpidato di hadapan Pengurus Himpunan Mahasiswa Perikanan (Himarin), sewaktu menjabat Ketua Umum pada tahun 1987 – 1988. Terlebih setelah melihat teman-teman yang hadir, nyaris seluruhnya adalah anggota kabinetnya dulu.
Terbayang saat itu, jiwa kepemimpinan Jamal memang sudah terlihat dan prestasi akademiknya termasuk menonjol. Kendati begitu, tak seorang pun di antara kami pernah membayangkan bahwa kelak Ia akan menjadi Rektor UNHAS. Bahkan mungkin Jamal sendiri pun tidak.
Maklum, Mahasiswa Peternakan, Jurusan Perikanan pula, kala itu, sama sekali tak dianggap dalam percaturan di tingkat universitas.
Saya kemudian melangkah masuk menyalami teman-teman satu per satu tanpa ada yang luput. Oh Alamak. Ada yang masih saya ingat, tapi juga tak sedikit sudah saya lupa.
Jangankan nama, wajah pun nyaris tak tersisa dalam ingatanku. Tiga puluh tahun lebih tak bertemu, sungguh bukan waktu yang singkat untuk mengubah banyak hal, tak terkecuali tampilan fisik.
“Tukang demo datang,” seru seorang teman saat melihatku.
“Itu Fai si pemberontak, bukan?” sahut yang lain.
Awendoeee, saya ternyata hanya diingat oleh teman-temanku sebagai sosok tukang demo dan pemberontak. Ternyata sebutan itu tak pupus dari ingatan mereka meski sudah berpuluh tahun berlalu.
Tak pelak, sebutan tukang demo itu lantas membuatku menerawang pada peristiwa demonstrasi helm, 39 tahun silam, di Pintu Satu Kampus Unhas Tamalanrea, 2 November 1987. Dan, dalam peristiwa itu, rupanya tak sedikit teman-temanku melihat saya ditangkap dan bersimbah darah dipopor senjata.
Hari sudah sore tatkala berita penangkapanku sampai di fakultas. Lantas timbul kegemparan karena saya juga diisukan hilang.
Mendengar hal itu, Pak Syamsuddin Rasyid, Dekan Fak. Peternakan saat itu, langsung membentuk tim kecil, semacam tim pencari fakta. Tim itu dipimpin oleh Pak Achmad Sadarang, Pembantu Dekan Tiga (PD III).
Saya juga teringat pada cerita Bachrianto Bachtiar, Ketua Umum HIMARIN kala itu, yang ikut dalam tim kecil itu. Malamnya, mereka mendatangi rumah tempatku tinggal di belakang STM Jalan Sunu.
Orang-orang di rumah panik ketakutan karena yang datang dikira intel, lantaran Pak Achmad Sadarang malam itu memakai jaket tentara.
Namun setelahnya, baik orang-orang di rumah maupun tim kecil itu, sama-sama panik begitu mengetahui saya belum pulang.
Bagaimana tidak? Soalnya, ketika itu berkembang informasi bahwa mahasiswa yang tertangkap selama hampir sepekan demonstrasi berlangsung, belum ada satu pun yang kembali.
Padahal sebenarnya, sepulang dari RS Dadi merawat luka, malam, saya sengaja tidak langsung pulang.
Saya menunggu hingga dini hari sembari berupaya memastikan tak ada yang mengikuti. Setelah merasa keadaan benar-benar aman tanpa ada pergerakan yang mencurigakan, barulah saya mengendap-endap masuk ke dalam rumah.
Akan tetapi, kesokan harinya, pagi-pagi, sekelompok tantara bersenjata lengkap lari-lari dekat rumah. Sorenya juga begitu.
Hal itu terjadi selama 3 hari berturut-turut, sehingga membuatku merasa ketakutan.
“Jangan-jangan saya diincar,” pikirku waktu itu.
Akhirnya, sebelum subuh pada hari berikutnya, saya putuskan menghilang, tinggalkan Makassar pergi sembunyi.
“Kita ini sudah berada pada 59 – 61 tahun,” ujar seorang teman mengagetkanku dan membuat lamunanku buyar. “Di usia seperti ini, lumrah jika kemudian kita menengok ke belakang untuk melihat apa yang telah kita capai,” sambungnya.
Bagiku, ucapan teman itu begitu mengena tepat di ulu hati, seolah mengajakku berkaca.
“Memangnya apa yang telah saya capai?” batinku.
Lalu teman lain menimpali, “Memang lumrah, tetapi jangan lupa renungkan apa yang telah kita perbuat dengan pencapaian itu.”
Makassar, 22 Juni 2026









