PELAKITA.ID – Ada banyak cara mengukur keberhasilan seseorang. Di dunia bisnis, ukurannya bisa berupa nilai perusahaan atau laba yang terus bertumbuh. Di dunia olahraga, kemenangan menjadi penentu.
Sementara dalam dunia akademik, salah satu ukuran yang paling sering dijadikan rujukan adalah sejauh mana gagasan seseorang hidup, dibaca, dan menjadi pijakan bagi penelitian orang lain.
Karena itu, ketika melihat sebuah poster yang menyebut Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc. sebagai rektor dengan H-Index Scopus tertinggi di Indonesia, perhatian saya justru tidak berhenti pada angka 46 yang tertulis besar di tengah poster itu.
Angka tersebut memang mengesankan. Yang jauh lebih menarik adalah pertanyaan yang muncul sesudahnya: jalan panjang seperti apa yang harus ditempuh seseorang hingga sampai pada titik itu?
Kita hidup pada zaman yang sangat mengagungkan hasil akhir. Kita mengagumi profesor, tetapi jarang membayangkan ribuan jam yang ia habiskan membaca jurnal ketika orang lain sedang beristirahat.
Kita mengapresiasi penghargaan, tetapi hampir tidak pernah melihat malam-malam panjang ketika sebuah artikel ditolak, direvisi, lalu ditulis kembali. Kita menyaksikan pencapaian, tetapi sering lupa bahwa setiap pencapaian memiliki sejarah yang tidak pernah tampil di atas panggung.
H-Index adalah salah satunya.
Banyak orang mengira angka itu sekadar statistik.
Padahal ia sesungguhnya adalah jejak perjalanan intelektual seseorang. Ia tidak lahir dari satu penelitian hebat atau satu artikel yang viral. Ia merupakan akumulasi dari puluhan, bahkan ratusan, pekerjaan ilmiah yang dilakukan secara konsisten selama bertahun-tahun.
Di sinilah letak pelajaran pertama. Produktivitas sejati hampir tidak pernah lahir dari ledakan semangat sesaat. Ia lahir dari kebiasaan yang diulang setiap hari.
Saya membayangkan, tidak ada satu pagi pun yang dimulai dengan pertanyaan, “Hari ini saya harus menaikkan H-Index.”
Yang jauh lebih mungkin adalah pertanyaan yang jauh lebih sederhana: Apa yang akan saya tulis hari ini? Apa yang akan saya baca hari ini? Siapa mahasiswa yang perlu saya bimbing hari ini? Penelitian apa yang perlu saya lanjutkan hari ini?
Begitulah produktivitas bekerja. Ia tidak dibangun oleh target besar, tetapi oleh rutinitas kecil yang dijaga terus-menerus.

Kita sering mencari rahasia orang-orang produktif, seolah ada formula yang hanya diketahui segelintir orang. Padahal rahasianya justru sering membosankan: membaca setiap hari, menulis setiap hari, berdiskusi setiap hari, memperbaiki naskah yang sama berkali-kali, dan bersedia mengulang proses itu tanpa merasa jenuh.
Dalam dunia akademik, konsistensi jauh lebih berharga daripada kecemerlangan yang datang sesekali.
Pelajaran berikutnya adalah tentang fokus. Sulit membayangkan seorang ilmuwan memperoleh pengaruh besar jika setiap beberapa tahun berpindah-pindah bidang. Pengetahuan memerlukan kedalaman. Kedalaman membutuhkan waktu. Waktu menuntut kesetiaan pada satu jalur keilmuan.
Prof. Jamaluddin Jompa dikenal luas melalui kiprahnya di bidang ekologi laut, terumbu karang, dan pembangunan wilayah pesisir.
Penulis cukup mengenal Prof JJ, selain sebagai dosen di Ilmu dan Teknologi Kelautan Unhas nun lampau, juga sering berinteraksi dalam praksis pengelolaan terumbu karang di tahun 2000-an, dengan anak didiknya, dengan alumni dan dengan jejaring nasional dan internasional.
Betul, beliau bertahun-tahun menekuni bidang yang sama membuat setiap penelitian berikutnya tidak dimulai dari nol. Ia berdiri di atas pengalaman sebelumnya, lalu bergerak sedikit lebih jauh.
Begitulah ilmu berkembang. Sedikit demi sedikit, tetapi terus maju. Mungkin ini pula yang membedakan mereka yang sekadar bekerja dengan mereka yang benar-benar membangun warisan intelektual.
Banyak orang berkata mereka tidak memiliki waktu. “Sibukka bos.” atau “Masih banyak kerjaan prioritas.”
Kalimat itu terdengar masuk akal, sampai kita melihat seseorang yang pada saat bersamaan menjadi profesor, peneliti, pembimbing mahasiswa, pembicara di berbagai forum internasional, dan bahkan memimpin sebuah universitas.
Pertanyaannya kemudian berubah. Bukan lagi soal memiliki waktu atau tidak, melainkan bagaimana seseorang memilih menggunakan waktunya.
Orang-orang produktif umumnya memahami bahwa kesibukan tidak identik dengan karya. Mereka tahu pekerjaan mana yang memberi nilai terbesar dan mana yang hanya menghabiskan energi. Mereka tidak mengejar menjadi orang yang paling sibuk, tetapi berusaha menjadi orang yang paling berdampak.
Di situlah letak perbedaan antara bekerja keras dan bekerja dengan arah. Ada hal lain yang sering luput dari perhatian. Tidak ada ilmuwan besar yang benar-benar bekerja sendirian. Di balik setiap publikasi biasanya terdapat jejaring kolaborasi yang luas: mahasiswa, kolega, laboratorium, mitra internasional, hingga komunitas ilmiah yang saling memperkaya gagasan.
Pengetahuan berkembang melalui percakapan, bukan kesunyian. Seorang akademisi yang produktif bukan hanya pandai menghasilkan karya, tetapi juga pandai membangun ekosistem yang memungkinkan karya-karya baru terus lahir.
Itulah sebabnya kepemimpinan akademik sesungguhnya tidak berhenti pada kemampuan mengelola institusi. Ia juga berarti menciptakan ruang agar orang lain dapat bertumbuh. Di balik semua itu, saya percaya ada sesuatu yang lebih mendasar daripada disiplin, manajemen waktu, atau strategi publikasi.
Ada makna.
Seseorang tidak mungkin bertahan meneliti selama puluhan tahun jika satu-satunya tujuan adalah mengejar angka. Angka mungkin bisa menjadi target sesaat, tetapi ia tidak cukup kuat menjadi alasan untuk menghabiskan sebagian besar hidup di laboratorium, di lapangan, atau di depan layar komputer menyusun naskah ilmiah.
Yang membuat seseorang bertahan adalah keyakinan bahwa ilmu pengetahuan memiliki nilai. Bahwa penelitian dapat memperbaiki kebijakan. Bahwa pengetahuan dapat menjaga ekosistem. Bahwa pendidikan mampu mengubah masa depan.
Ketika pekerjaan menemukan maknanya, disiplin tidak lagi terasa sebagai beban. Ia berubah menjadi cara hidup. Itulah pelajaran terbesar yang bisa kita ambil dari sebuah angka bernama H-Index. Ia bukan sekadar ukuran produktivitas. Ia adalah cermin dari karakter.
Ia berbicara tentang kesabaran ketika hasil belum terlihat. Tentang kerendahan hati untuk terus belajar meskipun telah menjadi profesor.
Tentang keberanian menerima kritik dari para penelaah jurnal. Tentang ketekunan memperbaiki naskah yang sama berkali-kali. Tentang kemampuan menjaga api keingintahuan agar tetap menyala selama puluhan tahun.
Maka, ketika kita melihat angka 46, sesungguhnya kita sedang melihat sesuatu yang jauh lebih besar daripada statistik.
Kita sedang melihat ribuan jam membaca yang tidak pernah dipublikasikan, ratusan halaman revisi yang tidak pernah diketahui orang, puluhan tahun menjaga konsistensi ketika banyak orang memilih berhenti, dan keyakinan bahwa ilmu pengetahuan adalah warisan terbaik yang dapat ditinggalkan kepada generasi berikutnya.
Bagi saya, itulah makna terdalam dari produktivitas akademik. Bukan tentang seberapa banyak seseorang menghasilkan karya, melainkan tentang seberapa lama karya-karya itu terus hidup, menginspirasi, dan menjadi pijakan bagi orang lain untuk melangkah lebih jauh.
Prof JJ, yang saya, kita, atau publik kenal, apapun motif di balik tulisan dan pengembaraan saintifiknya itu, adalah sosok yang telah mewariskan pengetahuan, inspirasi dan solusi untuk persoalan dunia.
Iya, warisan seorang ilmuwan memang tidak diukur dari berapa lama namanya dikenang, tetapi dari berapa lama gagasannya tetap hidup di dalam pikiran manusia.
___
Denun di Tamarunang









