Rangkaian kegiatan di Paria Lau dan Pulau Sanrobengi merepresentasikan strategi pembangunan yang komprehensif. Daeng Manye menekankan bahwa pembangunan pariwisata adalah tanggung jawab kolektif yang bertumpu pada tiga pilar strategis.
PELAKITA.ID – Sepekan terakhir, menjadi momentum krusial bagi akselerasi pembangunan Kabupaten Takalar. Bupati Takalar, Ir. H. Mohammad Firdaus Daeng Manye, datang langsung memimpin rangkaian agenda strategis yang menyentuh dua titik potensial: kawasan Paria Lau di Kecamatan Mappakasunggu dan Pulau Sanrobengi di Kecamatan Galesong.
Langkah taktis ini merupakan manifestasi nyata dari komitmen Daeng Manye dalam mewujudkan visi Takalar yang maju, mandiri, dan berdaya saing.
Melalui integrasi antara pengembangan destinasi wisata dan aksi lingkungan, pemerintah daerah tengah merumuskan standar baru dalam Green Development atau pembangunan hijau yang berkelanjutan, memastikan bahwa kemajuan ekonomi tidak mengorbankan kelestarian alam bagi generasi mendatang.

Eksplorasi Paria Lau: Membangun Destinasi “Sunset” Unggulan Baru
Mengawali rangkaian kegiatannya, Bupati Daeng Manye melakukan peninjauan mendalam di Paria Lau, Kecamatan Mappakasunggu.
Wilayah ini diproyeksikan menjadi primadona baru melalui konsep “Wisata Sunset,” sebuah keunggulan kompetitif yang diharapkan mampu menarik minat wisatawan domestik maupun mancanegara untuk menikmati pesona senja di pesisir Takalar.
Didampingi oleh Plt. Camat Mappakasunggu, Ilham Ismail, beserta jajaran pemerintah setempat, Bupati memetakan langsung kondisi infrastruktur serta berdialog mengenai kesiapan fasilitas publik.
Peninjauan ini bukan sekadar evaluasi teknis, melainkan upaya memastikan bahwa setiap langkah pengembangan selaras dengan kebutuhan masyarakat lokal.
“Kita ingin kawasan ini berkembang menjadi destinasi wisata yang nyaman, indah, dan mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar. Pengembangannya tentu harus dilakukan secara bertahap dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan,” tegas Bupati Firdaus Daeng Manye di sela-sela peninjauannya.
Menurut Daeng Manye, sekurangnya ada empat pilar utama dalam peta jalan pengembangan Paria Lau meliputi:
Kenyamanan Pengunjung: Penataan fasilitas standar pariwisata yang memadai.
Estetika Destinasi: Penguatan daya tarik visual alami sebagai spot foto dan area rekreasi keluarga.
Pemberdayaan Ekonomi: Penciptaan ekosistem usaha mikro yang melibatkan warga lokal secara aktif.
Konservasi Pesisir: Memastikan pembangunan fisik tidak mendisrupsi ekosistem laut dan pantai.
Aksi Nyata di Pulau Sanrobengi: Konservasi dan Restorasi Ekosistem
Perjalanan berlanjut menuju Pulau Sanrobengi, sebuah permata wisata di Desa Boddia yang dikenal dengan hamparan pasir putih dan air lautnya yang jernih.
Di lokasi ini, sebuah sinergi bermakna tercipta melalui kehadiran Alumni Teknik Elektro Angkatan 1986 Universitas Hasanuddin (Unhas).
Reuni ke-40 ini bertransformasi menjadi aksi lingkungan yang sarat makna melalui pelepasan 1.000 ekor burung.
Aksi ini merupakan “tahap awal” dari target ambisius pelepasan 10.000 ekor burung.
Menurut Plt. Kadis Lingkungan Hidup, Irwan Rachmat, pelepasan secara bertahap ini dilakukan agar satwa-satwa tersebut dapat beradaptasi dengan baik di habitat barunya.
Tim teknis juga akan melakukan monitoring berkala guna memastikan keberlangsungan hidup burung-burung tersebut sebagai bagian dari pemulihan keanekaragaman hayati pulau.
Hadir Bupati Takalar, Alumni Teknik Elektro 86 Unhas, Darwis (Kadis Pariwisata), Sirajuddin Saraba (Kadis Perhubungan), Irwan Rachmat (Plt. Kadis Lingkungan Hidup), Muh. Ikhsan Larigau (Camat Galesong), dan Muhammad Rusli (Kepala Desa Boddia)
Makna Strategis bagi Takalar: Ekonomi dan Ekosistem yang Seimbang
Rangkaian kegiatan di Paria Lau dan Pulau Sanrobengi merepresentasikan strategi pembangunan yang komprehensif. Daeng Manye menekankan bahwa pembangunan pariwisata adalah tanggung jawab kolektif yang bertumpu pada tiga pilar strategis
Pertama, Pertumbuhan Ekonomi Berbasis Potensi Lokal: Mengubah kekayaan alam menjadi mesin ekonomi baru yang inklusif, di mana sektor pariwisata menjadi lokomotif kesejahteraan masyarakat.
Kedua, Keseimbangan Ekosistem (Ekowisata): Implementasi nyata di mana aktivitas wisata justru memperkuat alam, seperti aksi pelepasan burung yang menjaga rantai makanan alami dan nilai ekologis pulau.
Ketiga, Sinergi Kolaborasi Pentahelix: Terciptanya hubungan harmonis antara Pemerintah, Akademisi (melalui jejaring Alumni), dan Masyarakat dalam menjaga serta mempromosikan aset daerah.
Bupati menegaskan bahwa alam yang terjaga adalah aset utama. Investasi pada lingkungan di Pulau Sanrobengi tidak hanya memperindah pemandangan, tetapi juga meningkatkan nilai jual Takalar sebagai destinasi wisata berbasis konservasi.

Harapan untuk Masa Depan Takalar
Langkah progresif Pemerintah Kabupaten Takalar dalam mengeksplorasi Paria Lau dan merevitalisasi Pulau Sanrobengi menunjukkan keseriusan dalam menata masa depan daerah.
Harapannya, kedua lokasi ini tidak hanya menjadi ikon wisata regional, tetapi juga menjadi model nasional bagaimana pariwisata bahari dapat tumbuh beriringan dengan kelestarian alam.
Kemajuan ini mustahil tercapai tanpa partisipasi publik.
Ibarat mendayung ke sejumlah pulau impian, Daeng Manye telah melampaui dua hingga tiga pulau impian itu. Pertama, mempromosikan keindahan Paria Lau di Takalar kepada kolega semasa kuliah di Fakultas Teknik Unhas angkatan 1986,
Kedua, meneguhkan silaturahmi alumni FT Unhas sembari merancang program masa depan destinasi wisata. Ketiga, mewakafkan diri untuk peduli konservasi pesisir dan pulau seperti Sanrobengi. Keempat, menyiapkan lingkungan yang seimbang antara ekonomi, sosial dan ekologi di pesisir Takalar. Keren bukan?
“Kami mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga kebersihan lingkungan dan melindungi satwa yang telah dilepaskan. Mari kita jadikan Takalar sebagai rumah yang hijau, mandiri, dan membanggakan bagi seluruh warganya,” kunci Daeng Manye.
Editor Denun









