Berada di antara ratusan forum dan organisasi nasional yang mendukung agenda Indonesia Emas berarti memiliki kesempatan untuk saling bertukar pengalaman, menghubungkan program, mempertemukan sumber daya, dan memperkuat suara masyarakat. Jejaring seperti ini memiliki potensi besar apabila mampu menghindari ego sektoral.
Oleh: Muhammad Burhanuddin
Ketua Umum DPP Garuda Astacita Nusantara | Koordinator FORNAS Pro-08 Prabowo Subianto
PELAKITA.ID – Ada saat ketika organisasi tidak cukup hanya menjadi wadah berkumpul. Ia harus menjadi ruang untuk mempertemukan gagasan, energi, pengalaman, dan keberanian untuk bekerja.
Pengukuhan dan bergabungnya berbagai organisasi masyarakat dalam Forum Masyarakat Indonesia Emas (FORMAS) menjadi salah satu momentum penting untuk melihat kembali posisi masyarakat sipil dalam perjalanan Indonesia menuju 2045.
Dua hari lalu, saya mendapatkan momentum penting ketika DPP Garuda Astacita Nusantara berada di dalam barisan organisasi yang dikukuhkan oleh Ketua Dewan Pembina FORMAS, Hashim Djojohadikusumo.
Momentum tersebut bukan sekadar seremoni organisasi. Bagi saya, ini adalah sebuah panggilan untuk memperluas kerja, memperkuat jejaring, dan menjadikan energi masyarakat sipil sebagai bagian dari kerja besar membangun Indonesia.
Garuda Astacita Nusantara sendiri memiliki visi menuju Indonesia Emas 2045 di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, sekaligus menempatkan diri sebagai organisasi yang mengawal, melaksanakan, dan bersikap kritis terhadap implementasi agenda pemerintahan.
Bukan Sekadar Mendukung, Tetapi Bekerja
Menurut saya, organisasi pendukung agenda Indonesia Emas perlu didukung bukan karena jumlahnya semata, melainkan karena energi sosial yang dapat mereka hadirkan.
Negara sebesar Indonesia tidak mungkin membangun masa depan hanya melalui kerja pemerintah. Pemerintah membutuhkan masyarakat yang mau bergerak, dunia usaha yang mau berinvestasi, akademisi yang terus memberikan pengetahuan, komunitas yang bekerja di lapangan, serta organisasi masyarakat yang mampu menghubungkan berbagai kepentingan.
Di sinilah FORMAS dapat memainkan peran strategis. Konsolidasi organisasi masyarakat bukan semata-mata untuk menambah panjang daftar anggota, tetapi untuk membangun ekosistem sosial yang mampu menerjemahkan agenda nasional menjadi kerja nyata di tingkat masyarakat.
Bagi saya, dukungan yang paling bermakna bukanlah tepuk tangan terhadap pemerintah. Dukungan yang bermakna adalah membantu pemerintah berhasil, sekaligus memastikan program yang dijalankan benar-benar dirasakan masyarakat.
Karena itu, masyarakat sipil harus hadir sebagai mitra yang konstruktif: mendukung ketika kebijakan benar, memberikan masukan ketika terdapat kekurangan, dan menyampaikan kritik ketika implementasi tidak sesuai dengan tujuan.
Dua Tahun Belajar dari Lapangan
Pengalaman bersama DPP Garuda Astacita Nusantara selama kurang lebih dua tahun memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi saya. Salah satu pelajaran terpenting adalah bahwa solidaritas nasional bukan sekadar slogan, tetapi kebutuhan strategis bangsa.
Indonesia hari ini tidak hanya menghadapi persoalan di dalam negeri. Kita hidup dalam lingkungan global yang semakin kompetitif, penuh ketidakpastian, dan saling terhubung. Persaingan ekonomi, perubahan teknologi, pangan, energi, geopolitik, keamanan, hingga perubahan iklim menuntut negara memiliki daya tahan sosial yang kuat.
Dalam situasi seperti itu, bangsa Indonesia tidak boleh berjalan sendiri-sendiri.
Kita membutuhkan semangat saling berpangku tangan—pemerintah dengan masyarakat, pusat dengan daerah, dunia usaha dengan komunitas, akademisi dengan praktisi, generasi muda dengan generasi senior, serta berbagai organisasi masyarakat dengan tujuan kebangsaan yang sama.
Solidaritas menjadi modal sosial untuk menghadapi ketidakpastian.
Kita mungkin berbeda organisasi, berbeda profesi, berbeda latar belakang dan cara melihat persoalan. Namun ketika kepentingan bangsa menjadi titik temu, perbedaan itu seharusnya menjadi kekayaan, bukan sumber perpecahan.
Asta Cita akan memiliki makna yang lebih kuat ketika tidak berhenti sebagai dokumen kebijakan atau narasi politik. Ia harus diterjemahkan menjadi program, gerakan, pelayanan, pemberdayaan, dan perubahan yang dapat dirasakan masyarakat. Karena itu, agenda Garuda Astacita Nusantara harus bergerak dari dukungan menuju kontribusi.
Kita membutuhkan lebih banyak kegiatan yang menyentuh masyarakat. Pendidikan, pemberdayaan ekonomi, penguatan UMKM, ketahanan pangan, kesehatan, perlindungan sosial, lingkungan, kepastian hukum, pengembangan sumber daya manusia, serta penguatan kebangsaan adalah ruang-ruang tempat organisasi masyarakat dapat memberikan kontribusi.

Berdiri di Antara Banyak Forum Nasional
Kini, dengan semakin luasnya konsolidasi organisasi masyarakat dalam FORMAS, kita berada di tengah sebuah jaringan sosial yang jauh lebih besar. Saya melihat posisi ini bukan sebagai tempat untuk mencari panggung, melainkan sebagai kesempatan untuk memperbesar manfaat.
Berada di antara ratusan forum dan organisasi nasional yang mendukung agenda Indonesia Emas berarti memiliki kesempatan untuk saling bertukar pengalaman, menghubungkan program, mempertemukan sumber daya, dan memperkuat suara masyarakat.
Jejaring seperti ini memiliki potensi besar apabila mampu menghindari ego sektoral. Itulah alasan mengapa ada banyak barisan bergabung dari DPP Garuda Astacita Nusantara di payung besar FORMAS ini.
Di Fornas saat ini terdapat atau terdaftar 30 komunitas relawan.
Meski demikian, kita tidak perlu semuanya menjadi satu organisasi. Yang lebih penting adalah kemampuan untuk bekerja bersama ketika tujuan nasional membutuhkan kolaborasi. Indonesia memiliki begitu banyak energi sosial yang tersebar. Tantangan kita adalah bagaimana menghubungkan energi tersebut menjadi kekuatan kolektif.
Harapan kami sederhana tetapi besar: dengan berada dan konsisten berdiri tegak dalam ruang konsolidasi seperti FORMAS, saya ingin dapat berbuat lebih banyak bagi masa depan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Berharap Garuda Astacita Nusantara tidak hanya dikenal karena nama organisasinya, tetapi karena kerja yang dilakukan dan manfaat yang ditinggalkan.
Kesempatan untuk didengar bukanlah privilese untuk digunakan bagi kepentingan kelompok. Sebaliknya, ia adalah amanah untuk membawa suara masyarakat.

Apalagi jika di dalam barisan ini hadir para pemain utama yang memiliki akses langsung terhadap proses pengambilan kebijakan di Republik ini.
Harapannya, gagasan dari lapangan tidak berhenti di ruang diskusi organisasi, tetapi dapat didengar oleh mereka yang memiliki kewenangan untuk mengambil keputusan.
Masa depan Indonesia tidak akan dibangun oleh satu orang, satu organisasi, atau satu kelompok. Ia akan dibangun oleh jutaan tangan yang bersedia bekerja bersama.
Karena itu, saya ingin melihat FORMAS, Garuda Astacita Nusantara, dan seluruh organisasi yang berada di dalam ekosistem Indonesia Emas bukan sekadar sebagai barisan pendukung, tetapi sebagai barisan pekerja kebangsaan.
Itulah spirit yang ingin saya bawa dari Garuda Astacita Nusantara ke ruang yang lebih luas: bukan sekadar hadir dalam sejarah, tetapi ikut bekerja membuat sejarah.
___
Jakarta, 9 Agustus 2026









