Menjemput Senja di Parialau: Daeng Manye dan Lanskap Baru Takalar

  • Whatsapp
Ilustrasi Pelakita.ID

“Baguski Daeng Nuntung, Parialau ini destinasi andalan kita,” kata Daeng Manye, Bupati Takalar, sambil tersenyum ringan.

PELAKITA.ID – Kalimat itu meluncur tanpa jarak, tanpa sekat formal yang biasanya mengantar-jemput percakapan seorang kepala daerah. Ia diucapkan di sela gelaran domino bersama awak media, tiga pekan lalu—sebuah ruang santai yang justru membuka percakapan serius tentang masa depan sebuah pesisir.

Pada acara yang digelar oleh Dinas Infokom-SP Takalar itu, Daeng Manye ingin menunjukkan bahwa Kawasan Parialau tidak sekadar nama tempat. Ia seperti sedang dipanggil pulang ke panggung utama pembangunan Takalar, menjadi destinasi wisata kebanggaan bersama.

Di mana Parialau?

Parialau terletak di Kelurahan Takalar Lama, Kecamatan Mappakasunggu, kini menjadi salah satu destinasi favorit anak muda untuk menikmati panorama matahari terbenam.

Hamparan rumput yang luas berpadu dengan area empang menciptakan suasana yang sejuk dan menenangkan, menjadikan tempat ini cocok untuk bersantai di sore hari.

Lokasi ini berjarak sekitar 7 kilometer dari pusat Kota Takalar, tepatnya di wilayah Pattalassang.

Akses menuju kawasan ini relatif mudah karena terhubung dengan dua jalur utama, yakni Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan Poros Galesong–Makassar.

Pembaca sekalian, Parialau seperti sengaja memperlambat langkahnya, memberi waktu bagi siapa saja yang datang untuk menatap perubahan warna langit yang perlahan jatuh dari emas ke jingga, lalu ke ungu yang teduh.

Parialau hari ini telah menjelma menjadi ruang publik yang hidup. Orang datang bukan hanya untuk melihat laut, tetapi untuk ikut menjadi bagian dari cerita senja itu sendiri. Anak-anak berlarian di tepi, pasangan muda duduk di bangku sederhana, pedagang kecil menata dagangan dengan harapan yang pelan-pelan tumbuh bersama arus pengunjung.

Di tempat ini, senja bukan sekadar fenomena alam. Ia telah berubah menjadi magnet sosial—yang menarik orang, percakapan, dan ekonomi sekaligus.

Parialau tidak dibangun hanya sebagai destinasi wisata, tetapi sebagai ruang pertemuan. Ruang di mana warga bisa saling bertemu tanpa undangan, tanpa agenda, tanpa sekat status sosial.

Lapak-lapak UMKM tumbuh di sepanjang jalur pesisir. Aroma ikan bakar, kopi, dan jajanan lokal menyatu dengan angin laut yang lembab. Dari situ terlihat satu hal sederhana namun penting: ekonomi kecil tidak tumbuh di ruang yang sunyi, ia tumbuh di ruang yang hidup.

Parialau, dalam banyak hal, sedang belajar menjadi ruang itu.

Salah satu sisi menarik dari Parialau (dok: DroneGochangMakassar)

Kepemimpinan yang Turun ke Tepi Laut

Malam itu, Kamis 18 Juni 2026, Bupati Takalar Mohammad Firdaus Daeng Manye hadir di tengah keramaian. Tidak ada panggung, tidak ada jarak protokoler yang kaku.

Ia duduk di antara warga, menikmati hidangan lokal, berbicara dengan pedagang, dan sesekali tertawa bersama pengunjung. Kehadiran itu sederhana, tetapi dampaknya tidak sederhana.

Dalam dunia pembangunan daerah, kehadiran pemimpin di ruang ekonomi rakyat sering kali lebih bermakna daripada seremoni peresmian yang megah. Ia menjadi tanda bahwa kebijakan tidak hanya berhenti di dokumen, tetapi hadir di meja-meja kecil UMKM yang berderet di pesisir.

“Pemerintah Kabupaten Takalar akan terus berkomitmen mendorong tumbuhnya kawasan wisata yang aman, nyaman, dan memiliki nilai ekonomi tinggi. Sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat adalah kunci utama,” begitu pesan yang ia sampaikan.

Di Parialau, pesan itu tidak hanya terdengar sebagai pernyataan. Ia terasa seperti janji yang sedang diuji oleh angin laut.

Parialau memperlihatkan satu hal yang sering dilupakan dalam pembangunan: bahwa ekonomi tidak selalu lahir dari proyek besar. Kadang ia tumbuh dari tempat sederhana yang dikelola dengan konsistensi dan keberanian membaca peluang.

Wisatawan yang datang membawa efek berantai. Parkir penuh, warung hidup, penjual kecil tersenyum lebih lama. Uang berputar tidak di ruang abstrak, tetapi di tangan-tangan yang selama ini bekerja dalam diam.

Bagi penulis, Parialau bukan hanya destinasi. Ia adalah ekosistem kecil yang sedang belajar mandiri.

Daeng Manye datang ke Parialau, membuktikan bahwa kawasan ini layak dijajal sebagai salah satu destinasi unggulan Kabupaten Takalar. Mari!

Senja yang Belum Selesai

Parialau masih berada di fase awal sebuah perjalanan.

Ia sedang dirawat, dibentuk, dan diuji oleh waktu. Tantangan selalu ada: menjaga kebersihan, mengatur tata kelola, memastikan kenyamanan, dan menjaga agar pertumbuhan ekonomi tidak mengorbankan ruang sosial yang telah tumbuh.

Di balik keindahan senja, selalu ada pekerjaan yang tidak terlihat.

Ketika matahari benar-benar tenggelam, Parialau tidak menjadi gelap. Ia justru berubah menjadi lebih hidup. Lampu-lampu kecil menyala, percakapan makin hangat, dan laut tetap setia dengan suara ombaknya.

Di situlah Parialau menemukan maknanya: bukan sekadar tempat melihat senja, tetapi tempat orang belajar melihat kembali dirinya sendiri—tentang ruang, ekonomi, dan harapan yang perlahan tumbuh di tepi laut Takalar.

“Sektor pariwisata tidak boleh berdiri sendiri sebagai tempat rekreasi semata, melainkan harus berjalan beriringan dengan misi pengentasan kemiskinan dan peningkatan pendapatan asli masyarakat lokal secara berkelanjutan,” ujar Daeng Manye.

Seperti yang diucapkan Daeng Manye di sela permainan domino itu, Parialau memang sedang dipersiapkan bukan sebagai salah satu lanskap baru wisata Takalar, tetapi untuk cara baru melihat bagaimana sebuah daerah menjemput masa depannya: pelan, hangat, dan dari tepi senja.

Redaksi