Mengulik Cerita di Balik Kenaikan Drastis 111 Peringkat Unhas di QS WUR 2027

  • Whatsapp
Rektor Unhas, Prof Jamaluddin Jompa (dok: Istimewa)

PELAKITA.ID – Dalam kancah pendidikan tinggi global, pemeringkatan universitas bukan sekadar ajang unjuk prestise, melainkan medan tempur reputasi yang sangat kompetitif.

Setiap tahun, ribuan institusi berlomba mengamankan posisi di jajaran elit dunia demi menarik talenta terbaik dan kemitraan strategis.

Di tengah dominasi perguruan tinggi mapan, muncul sebuah anomali yang membanggakan dari kawasan Timur Indonesia: bagaimana mungkin sebuah institusi mampu melakukan akselerasi tiga digit hanya dalam satu siklus tahunan?

Universitas Hasanuddin (Unhas) memberikan pembuktian tersebut melalui rilis resmi Quacquarelli Symonds (QS) World University Rankings (WUR) 2027 yang diumumkan pada 18 Juni 2026.

Unhas berhasil mencatatkan lompatan drastis dengan naik 111 peringkat, sebuah pencapaian yang menandai pergeseran peta kekuatan pendidikan tinggi nasional menuju standar dunia.

Lompatan 111 Peringkat: Bukan Sekadar Angka

Keberhasilan Unhas menembus kelompok peringkat yang jauh lebih tinggi merupakan sinyal kuat adanya perbaikan kinerja institusional yang masif. Transformasi posisi ini membawa Unhas keluar dari zona seribu besar menuju jajaran universitas yang kian diperhitungkan secara global.

Berikut adalah perbandingan posisi Unhas berdasarkan data QS WUR:

Tahun Pemeringkatan

Kelompok Peringkat Posisi Spesifik
QS WUR 2026 951 – 1.000 972
QS WUR 2027 851 – 900 861

Kenaikan 111 peringkat dalam setahun adalah fenomena langka yang patut dibedah secara strategis. Secara sosiopolitik pendidikan, capaian ini merupakan bentuk “disrupsi” terhadap status quo yang selama ini cenderung Java-centric.

Keberhasilan institusi asal Makassar ini membuktikan bahwa kualitas pendidikan tinggi berstandar dunia kini tidak lagi terpusat di satu wilayah geografis saja, melainkan telah menyebar ke gerbang timur Indonesia.

Magnet Internasional: Lonjakan Rasio Dosen Asing

Jika kita membedah faktor pendorong utama ( key driver) di balik kenaikan ini, indikator International Faculty Ratio (Rasio Dosen Internasional) muncul sebagai bintang utama. Skor Unhas pada aspek ini melonjak dari 11,9 pada tahun 2026 menjadi 37 pada tahun 2027—sebuah kenaikan signifikan sebesar 25,1 poin.

Lonjakan ini bukan tanpa alasan. Strategi Unhas dalam memperkuat visi “Benua Maritim Indonesia” (BMI) terbukti menjadi magnet yang kuat bagi akademisi mancanegara.

Dengan memposisikan diri sebagai pusat unggulan riset kelautan dan tropis, Unhas berhasil menarik minat peneliti dan dosen asing untuk berkolaborasi dan berkarier di Makassar. Keterlibatan global ini krusial untuk memastikan pertukaran gagasan lintas negara tetap dinamis.

Rektor Unhas, Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc. (Prof. JJ), menekankan pentingnya kerja kolektif ini:

“Pencapaian ini membuktikan konsistensi Unhas dalam meningkatkan standar akademik, kualitas riset, inovasi, dan kolaborasi internasional menuju universitas kelas dunia. Kenaikan 111 peringkat ini merupakan hasil kerja bersama seluruh elemen universitas.”

Di Balik Layar: Tantangan Dokumentasi dan Tata Kelola

Di balik panggung kesuksesan, terdapat kerja keras dalam aspek tata kelola data yang kerap kali luput dari perhatian publik. Direktur Peningkatan Reputasi Unhas, Prof. Dr. Ir. Rohani Ambo Rappe, M.Si., mengungkapkan bahwa prestasi akademik yang cemerlang tidak akan terkonversi menjadi peringkat jika tidak didukung oleh dokumentasi yang akurat.

Tantangan terbesar Unhas adalah memastikan setiap butir kegiatan Tridarma Perguruan Tinggi terukur dan tersaji sesuai metodologi ketat QS. Unhas melakukan transformasi internal melalui:

  • Kompilasi Data Tersentralisasi: Mengintegrasikan seluruh capaian unit kerja ke dalam sistem informasi yang koheren.
  • Verifikasi Berjenjang: Memastikan validitas data akademik dan riset agar memenuhi standar audit lembaga pemeringkatan internasional.
  • Komunikasi Strategis: Membangun relasi intensif dengan mitra internasional dan pengguna lulusan guna memperkuat indikator reputasi.

Memahami Anatomi Penilaian: 5 Perspektif Utama

Metodologi QS WUR 2027 merupakan sistem yang kompleks, terdiri dari sepuluh indikator spesifik yang dikelompokkan ke dalam lima perspektif penilaian utama. Berikut adalah anatomi bobot penilaian yang membentuk posisi Unhas di peringkat 861 dunia:

  1. Riset dan Inovasi (50%): Pilar terberat yang mencakup Academic Reputation (30%) dan Citations per Faculty (20%).
  2. Daya Saing Lulusan (20%): Menilai reputasi di mata pemberi kerja (Employer Reputation 15%) dan keberhasilan karier alumni (Employment Outcomes 5%).
  3. Mutu Pengalaman Belajar (10%): Diukur melalui rasio kecukupan dosen terhadap jumlah mahasiswa.
  4. Keterlibatan Global (15%): Mencakup International Faculty Ratio, International Research Network (IRN), serta keberagaman mahasiswa internasional.
  5. Keberlanjutan (5%): Fokus pada dampak lingkungan dan sosial melalui indikator Sustainability.

Catatan Kritis Strategis: Di tengah euforia kenaikan peringkat, indikator Citation per Faculty (Sitasi per Dosen) Unhas tercatat masih stagnan di skor 1,7.

Hal ini menjadi alarm bagi institusi bahwa meskipun jejaring internasional dan kolaborasi riset meluas, dampak dan orisinalitas karya ilmiah yang dihasilkan harus terus dipacu agar mendapatkan rekognisi sitasi yang lebih luas di masa depan.

Pencapaian Universitas Hasanuddin di QS WUR 2027 adalah manifestasi dari visi besar untuk menjadi pusat keunggulan berbasis Benua Maritim Indonesia yang berdaya saing global.

Keberhasilan ini mengirimkan pesan kuat kepada dunia bahwa transformasi institusional yang terukur dan pengelolaan data yang sistematis mampu menghasilkan lompatan prestasi yang nyata.

Reputasi global ini bukan sekadar piala di atas meja rektor, melainkan jaminan kualitas bagi lulusan dan peningkatan kepercayaan publik terhadap pendidikan tinggi di luar Jawa. Namun, sebuah tantangan besar tetap membentang di depan mata: bagaimana Unhas menjaga momentum pertumbuhan ini agar tetap berkelanjutan?

Bagi ekosistem pendidikan tinggi nasional, keberhasilan Unhas memicu pertanyaan provokatif: Sejauh mana perguruan tinggi lain di Indonesia siap mereplikasi strategi akselerasi tata kelola dan internasionalisasi ini untuk mendobrak dominasi global di tahun-tahun mendatang?