PELAKITA.ID – Hari ini, untuk kesekian kalinya saya menikmati santap siang di Sop Saudarata. Bukan di cabang Toddopuli, bukan pula di Alauddin, melainkan di Jalan Urip Sumoharjo.
Penulis pertama kali menikmati Sop Saudarata’ ini sekitar tiga tahun lalu karena ajakan anak ketiga yang saat itu bersekolah di MAN 2 Makassar.
Saat menunggu pesanan datang, saya bertanya kepada seorang pelayan. “Sudah berapa cabang Sop Saudarata sekarang?”
“Adami delapan, Pak,” jawabnya singkat.
“Siapa pemiliknya?”
“Daeng Piyo, Nur Daeng Piyo.”
Percakapan sederhana itu memunculkan pertanyaan yang lebih besar.
Apa sebenarnya makna kehadiran delapan cabang rumah makan yang menjual menu yang relatif sama? Apakah ini sekadar cerita sukses seorang pengusaha kuliner lokal, atau ada dampak ekonomi yang lebih luas di balik semangkuk sop yang tersaji di meja?
Jawabannya mungkin jauh lebih besar daripada yang terlihat.
Ketika Sop Menjadi Mesin Ekonomi
Dalam ilmu ekonomi, sebuah usaha tidak hanya dinilai dari omzet yang dihasilkan, tetapi juga dari efek berantainya (multiplier effect). Semakin panjang rantai pasok yang terhubung dengan sebuah usaha, semakin besar pula dampaknya terhadap ekonomi lokal.
Satu cabang Sop Saudarata mungkin hanya terlihat sebagai rumah makan yang melayani pelanggan setiap hari. Namun delapan cabang berarti kebutuhan bahan baku yang meningkat berkali-kali lipat.
Bayangkan kebutuhan daging sapi, jeroan, beras, telur asin, jeruk nipis, emping melinjo, cabai, bawang merah, bawang putih, daun bawang, hingga minyak goreng yang harus tersedia setiap hari.
Semua itu tidak muncul begitu saja di dapur.
Di belakang satu mangkuk sop terdapat peternak sapi di kabupaten-kabupaten Sulawesi Selatan, pedagang pengumpul di pasar hewan, rumah potong, distributor daging, pemasok beras, petani jeruk, pengrajin emping, pedagang telur asin, sopir angkutan, hingga pekerja bongkar muat.
Dengan kata lain, satu restoran menciptakan pekerjaan tidak hanya bagi koki dan pelayan, tetapi juga bagi puluhan bahkan ratusan orang di sektor lain.
Menghidupkan Rantai Pasok Lokal
Makassar selama ini dikenal sebagai kota jasa dan perdagangan. Namun pertumbuhan sektor jasa tidak dapat berdiri sendiri. Ia membutuhkan pasokan dari wilayah hinterland atau daerah penyangga.
Ketika Sop Saudarata berkembang menjadi delapan cabang, maka permintaan terhadap produk pangan lokal ikut meningkat.
Peternak sapi di Bone, Sinjai, Bulukumba, Jeneponto, Wajo, atau Sidrap memperoleh pasar yang lebih stabil. Pedagang beras memiliki pelanggan tetap. Petani jeruk mendapatkan pembeli dalam jumlah besar dan berkelanjutan.
Bahkan emping melinjo yang sering dianggap pelengkap sederhana sebenarnya menyimpan mata rantai ekonomi tersendiri. Di balik sepiring emping terdapat keluarga-keluarga kecil yang mengolah biji melinjo menjadi produk bernilai tambah.
Dalam konteks ini, restoran bukan hanya tempat makan. Ia adalah simpul yang menghubungkan sektor pertanian, peternakan, perdagangan, logistik, dan jasa.
Menyerap Tenaga Kerja Kota
Aspek lain yang sering luput diperhatikan adalah penciptaan lapangan kerja.
Jika satu cabang mempekerjakan 20 hingga 30 orang, maka delapan cabang dapat menyerap ratusan tenaga kerja secara langsung. Itu belum termasuk pekerja keamanan, petugas kebersihan, pemasok bahan baku, pengemudi distribusi, hingga layanan pengantaran makanan berbasis aplikasi.
Di tengah tantangan urbanisasi dan meningkatnya jumlah pencari kerja di Makassar, sektor kuliner menjadi salah satu penyerap tenaga kerja yang relatif inklusif. Banyak pekerja tidak harus memiliki pendidikan tinggi untuk memperoleh pekerjaan dan penghasilan yang layak.
Bagi sebagian keluarga, pekerjaan sebagai pelayan atau juru masak menjadi pintu masuk menuju stabilitas ekonomi rumah tangga.
Kisah Sop Saudarata juga menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi kota tidak selalu lahir dari investasi besar atau perusahaan nasional.
Kadang ia lahir dari resep keluarga, konsistensi rasa, pelayanan yang baik, dan kemampuan membaca pasar.
Ketika usaha lokal berkembang menjadi jaringan multi-cabang, muncul efek psikologis yang penting bagi masyarakat. Orang mulai percaya bahwa bisnis lokal dapat tumbuh besar tanpa harus kehilangan identitasnya.
Fenomena ini mendorong lahirnya wirausaha baru. Banyak pelaku UMKM melihat bahwa ekspansi usaha bukan sesuatu yang mustahil.
Dalam jangka panjang, kepercayaan diri ekonomi semacam ini sangat penting bagi pertumbuhan kota.
Kuliner Sebagai Indikator Kesehatan Ekonomi
Menariknya, pertumbuhan rumah makan sering kali menjadi indikator tidak langsung kesehatan ekonomi suatu kota.
Jika sebuah restoran mampu membuka cabang baru, itu berarti ada daya beli masyarakat yang cukup kuat. Ada pekerja yang menerima gaji, ada pegawai negeri yang makan siang di luar, ada mahasiswa yang menjadi pelanggan, ada keluarga yang memilih makan bersama di akhir pekan.
Artinya roda ekonomi sedang bergerak.
Makassar dalam dua dekade terakhir berkembang sebagai pusat perdagangan, pendidikan, dan jasa di Indonesia Timur. Pertumbuhan usaha kuliner seperti Sop Saudarata merupakan salah satu manifestasi nyata dari dinamika tersebut.
Karena itu, ketika melihat semangkuk sop yang disajikan bersama nasi hangat, telur asin, emping, dan perasan jeruk nipis, kita sebenarnya sedang melihat hasil kerja kolektif banyak tangan.
Ada peternak yang memelihara sapi berbulan-bulan. Ada petani yang menanam padi. Ada pedagang yang bangun dini hari di pasar. Ada sopir yang mengantarkan bahan baku.
Ada juru masak yang mengolahnya. Ada pelanggan yang menjaga agar siklus ekonomi itu terus berputar. Itulah makna yang lebih dalam dari berkembangnya Sop Saudarata di Makassar.
Bukan sekadar bertambahnya jumlah cabang, melainkan bertambahnya simpul-simpul ekonomi yang menghubungkan desa dan kota, produsen dan konsumen, usaha kecil dan pasar yang lebih besar.
Dalam setiap mangkuk yang tersaji, sesungguhnya ada cerita tentang pertumbuhan ekonomi lokal, tentang kerja keras, dan tentang bagaimana sebuah kota bertumbuh dari hal-hal yang tampak sederhana.
Dari semangkuk sop, kita bisa membaca denyut kehidupan ekonomi Makassar.









