Nikel Jadi Tulang Punggung Pertambangan Sulsel, Sumbang Devisa Hampir US$1 Miliar

  • Whatsapp
PT Vale, salah satu pemain nikel terbesar di Sulsel (dok: Pelakita.ID)

Data dalam Provinsi Sulawesi Selatan Dalam Angka 2025 menunjukkan bahwa lapangan usaha pertambangan dan penggalian menyumbang sekitar 4,55 persen terhadap total PDRB Sulawesi Selatan pada 2024.

PELAKITA.ID – Sektor pertambangan dan penggalian terus memainkan peran penting dalam struktur ekonomi Sulawesi Selatan.

Meski kontribusinya terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) provinsi masih berada di bawah sektor pertanian, perdagangan, dan industri pengolahan, kinerja sektor ini menunjukkan posisi strategis sebagai penghasil devisa dan penggerak investasi, terutama melalui komoditas nikel.

Data dalam Provinsi Sulawesi Selatan Dalam Angka 2025 menunjukkan bahwa lapangan usaha pertambangan dan penggalian menyumbang sekitar 4,55 persen terhadap total PDRB Sulawesi Selatan pada 2024.

Kontribusi tersebut ditopang oleh sejumlah subsektor, dengan pertambangan bijih logam sebagai penggerak utama.

Pada tahun 2024, subsektor pertambangan bijih logam mencatat nilai tambah sebesar Rp13,61 triliun berdasarkan harga konstan.

Angka ini terutama berasal dari aktivitas penambangan dan pengolahan nikel yang dalam beberapa tahun terakhir berkembang pesat seiring meningkatnya kebutuhan global terhadap bahan baku baterai kendaraan listrik dan industri baja nirkarat.

Selain bijih logam, subsektor pertambangan dan penggalian lainnya juga memberikan kontribusi besar dengan nilai mencapai Rp15,41 triliun.

Kegiatan ini mencakup penggalian batuan, pasir, tanah liat, dan material konstruksi lainnya yang tersebar hampir di seluruh kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan.

Sementara itu, subsektor pertambangan minyak, gas, dan panas bumi menyumbang sekitar Rp2,67 triliun, sedangkan pertambangan batubara dan lignit memberikan kontribusi yang relatif kecil, hanya sekitar Rp2,64 miliar.

Luwu Timur, Episentrum Industri Nikel Sulawesi Selatan

Jika berbicara tentang pertambangan Sulawesi Selatan, perhatian utama tertuju pada Kabupaten Luwu Timur. Daerah ini menjadi pusat aktivitas pertambangan nikel sekaligus kawasan hilirisasi mineral terbesar di provinsi tersebut.

Data ekspor melalui Pelabuhan di Malili menunjukkan bahwa pada tahun 2024 volume ekspor nikel mencapai 88,99 juta kilogram dengan nilai FOB sebesar US$931,15 juta. Angka tersebut menegaskan posisi Luwu Timur sebagai salah satu kawasan penghasil nikel penting di Indonesia.

Besarnya aktivitas pertambangan juga tercermin pada sektor industri pengolahan. Nilai produksi industri manufaktur di Luwu Timur tercatat mencapai lebih dari Rp17,5 triliun, yang sebagian besar terkait dengan pengolahan dan pemurnian nikel melalui fasilitas smelter.

Keberadaan industri hilir ini menunjukkan bahwa Sulawesi Selatan tidak lagi hanya mengekspor bahan mentah.

Nikel yang diproduksi telah melalui berbagai tahapan pengolahan, mulai dari pengeringan, reduksi, peleburan, pemurnian hingga proses granulasi dan pengemasan sebelum dipasarkan ke pasar internasional.

Di luar nikel, aktivitas pertambangan dan penggalian skala regional juga menjadi penopang ekonomi sejumlah kabupaten. Komoditas seperti batu gunung, pasir, dan tanah urug banyak ditemukan di wilayah Gowa, Maros, Pangkep, dan Bone.

Material tersebut menjadi komponen penting dalam mendukung pembangunan infrastruktur dan sektor konstruksi yang terus tumbuh di Sulawesi Selatan. Pada tahun 2024, subsektor pertambangan dan penggalian lainnya mencatat pertumbuhan sebesar 3,04 persen, menunjukkan permintaan yang tetap stabil terhadap bahan bangunan.

PT Vale, salah satu perusahaan nikel terbesar di Sulsel (dok: Pelakita.ID)

Dominasi nikel tidak hanya terlihat dalam struktur PDRB, tetapi juga pada kinerja perdagangan luar negeri. Sepanjang tahun 2024, Sulawesi Selatan mengekspor sekitar 90,92 juta kilogram nikel dengan nilai mencapai US$950,39 juta.

Nilai tersebut menjadikan nikel sebagai komoditas ekspor terbesar Sulawesi Selatan, jauh melampaui komoditas unggulan lainnya seperti besi dan baja serta produk perikanan berupa ikan dan udang.

Kinerja ini menunjukkan bagaimana transformasi industri pertambangan telah menjadi salah satu sumber utama perolehan devisa daerah sekaligus memperkuat posisi Sulawesi Selatan dalam rantai pasok industri mineral nasional.

Tantangan dan Peluang Hilirisasi

Di tengah meningkatnya permintaan global terhadap mineral strategis, Sulawesi Selatan memiliki peluang besar untuk memperkuat posisi sebagai pusat industri berbasis sumber daya alam. Kebijakan hilirisasi yang mendorong pengolahan mineral di dalam negeri telah menciptakan nilai tambah yang lebih tinggi dibandingkan ekspor bahan mentah.

Selain memberikan kontribusi ekonomi, industri logam dasar yang terkait dengan pengolahan hasil tambang juga membuka lapangan kerja.

Data menunjukkan bahwa perusahaan industri logam besar dan sedang di Sulawesi Selatan menyerap 5.627 tenaga kerja pada tahun 2022.

Ke depan, tantangan terbesar bukan hanya meningkatkan produksi, tetapi memastikan bahwa aktivitas pertambangan berjalan secara berkelanjutan, memberikan manfaat ekonomi yang merata bagi masyarakat, sekaligus menjaga kualitas lingkungan di wilayah-wilayah penghasil mineral.

Dengan cadangan nikel yang besar, dukungan industri pengolahan, serta posisi strategis dalam agenda hilirisasi nasional, sektor pertambangan diperkirakan akan tetap menjadi salah satu motor penting pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan dalam beberapa tahun mendatang.