Oleh: Muliadi Saleh
Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran
PELAKITA.ID – Di ujung sana, seorang panitia dengan suara yang hangat menyampaikan sebuah permintaan yang sederhana, tetapi tidak ringan: membaca doa pada acara bedah buku Ajoeba Wartabone (1894–1957): Sekali ke Djokja Tetap ke Djokja karya Basri Amin.
Saya mengiyakan. Namun setelah telepon ditutup, saya sadar bahwa tugas itu tidak sesederhana membacakan rangkaian kalimat yang indah.
Saya diminta memimpin doa pada sebuah pertemuan yang “menghadirkan” seorang tokoh besar dari Gorontalo; seorang pejuang yang hidupnya dipersembahkan untuk republik.
Masalahnya, saya tidak bisa datang hanya dengan modal nama. Maka saya mulai membaca bukunya. Membuka halaman demi halaman.
Menelusuri jejak seorang lelaki yang memilih Indonesia ketika Indonesia sedang diuji. Seorang yang berdiri tegak di tengah arus federalisme kolonial dan berkata dengan keyakinan yang kemudian menjadi warisan sejarah: “Sekali ke Djokja, tetap ke Djokja.”
Buku itu tebal. Sekitar 450 halaman.Tetapi yang lebih tebal adalah makna yang tersimpan di dalamnya.
Saya membaca bukan untuk menjadi sejarawan. Saya membaca untuk menemukan denyut manusia di balik tokoh. Sebab doa tidak lahir dari kepala semata. Doa lahir dari perjumpaan hati.
Acaranya berlangsung di sebuah hotel megah di Makassar. Lampu-lampu kristal menggantung dari langit-langit ruangan. Ratusan hadirin memenuhi kursi-kursi yang tersusun rapi.
Para akademisi, birokrat, tokoh masyarakat, aktivis, mahasiswa, dan pencinta sejarah hadir untuk mengenang seorang putra terbaik bangsa.
Di tengah kemegahan itu, pikiran saya justru terbang jauh ke Gorontalo puluhan tahun silam. Kepada seorang anak negeri yang hidup tanpa kemewahan.
Kepada seorang pejuang yang memilih kesetiaan ketika banyak orang memilih kenyamanan. Kepada seorang lelaki yang memahami bahwa Indonesia bukan sekadar wilayah, melainkan cita-cita.
Lalu saya bertanya kepada diri sendiri: Bagaimana mungkin perjalanan hidup yang begitu panjang diringkas dalam doa yang hanya beberapa menit?
Bagaimana mungkin sejarah yang berlapis-lapis diterjemahkan menjadi permohonan yang singkat kepada Tuhan? Saat itulah saya menyadari bahwa tugas saya bukan menceritakan seluruh hidup Ajoeba Wartabone.
Tugas saya adalah menangkap ruh perjuangannya.Doa bukanlah ringkasan biografi. Doa adalah jembatan antara keteladanan manusia dan rahmat Tuhan.
Maka saya mencoba mengekstrak yang paling hakiki dari perjalanan hidupnya: keberanian, kesetiaan, pengabdian, dan kecintaannya kepada Indonesia.
Ketika nama Ajoeba Wartabone saya sebut dalam doa, yang hadir di hadapan saya bukan hanya seorang tokoh sejarah. Yang hadir adalah simbol tentang bagaimana manusia dapat hidup melampaui zamannya.
Karena sesungguhnya manusia besar tidak dikenang oleh panjang usianya. Ia dikenang oleh panjang manfaatnya. Ia tidak hidup karena namanya diabadikan pada jalan atau gedung. Ia hidup karena nilai-nilainya terus berjalan di dalam hati generasi berikutnya.
Di hadapan ratusan hadirin pagi itu, saya membaca doa dengan kesadaran bahwa yang sedang kami kenang bukan sekadar masa lalu. Kami sedang merawat ingatan kolektif bangsa. Sebab bangsa yang kehilangan ingatan akan kehilangan arah.
Dan bangsa yang melupakan para pejuangnya perlahan akan kehilangan jati dirinya. Ketika doa selesai dibacakan, ruangan sejenak menjadi hening.
Bukan hening karena kata-kata, melainkan hening karena setiap orang sedang berjumpa dengan pertanyaannya masing-masing: Apa yang telah kita lakukan untuk Indonesia?
Ajoeba Wartabone telah menjawab pertanyaan itu dengan seluruh hidupnya.
Melalui keberanian yang tidak mencari tepuk tangan. Melalui kesetiaan yang tidak menuntut pamrih. Melalui pengabdian yang tidak menunggu pengakuan.
Barangkali itulah sebabnya doa pagi itu terasa berbeda. Ia bukan hanya doa untuk seorang tokoh yang telah wafat.
Ia adalah doa untuk nilai-nilai yang harus tetap hidup. Doa untuk keberanian di tengah ketakutan.
Doa untuk kejujuran di tengah godaan. Doa untuk persatuan di tengah perpecahan. Dan di atas semuanya, doa untuk Indonesia. Sebab selama republik ini masih berdiri, selama cita-cita keadilan masih diperjuangkan, selama persatuan masih dirawat, nama Ajoeba Wartabone akan tetap menemukan tempatnya di hati bangsa ini.
Sebagai seorang lelaki setia. Sebagai seorang pemberani. Sebagai seorang penjaga Indonesia.
Pagi itu, saya hanya berusaha menjadi perantara kecil yang menghadiahkan doa bagi seorang manusia besar.
___









