Produksi Udang Sulawesi Selatan Tembus Rp4,24 Triliun, Bone dan Pinrang Jadi Motor Utama

  • Whatsapp
Ilustrasi perempuan dan udang budidaya (ilustrasi oleh AI)
  • Kontribusi sektor udang terhadap ekonomi daerah juga sangat signifikan. Pada tahun 2023, nilai produksi udang Sulawesi Selatan diperkirakan mencapai lebih dari Rp4,24 triliun.
  • Besarnya nilai tersebut mencerminkan posisi udang sebagai salah satu komoditas unggulan yang mampu menciptakan nilai tambah tinggi, membuka lapangan kerja, serta menggerakkan aktivitas ekonomi di kawasan pesisir dan pedesaan.
  • Potensi udang Sulawesi Selatan tidak berhenti pada pasar domestik. Komoditas ikan dan udang telah menjadi salah satu andalan ekspor provinsi ini. Pada tahun 2024, volume ekspor kelompok komoditas tersebut mencapai sekitar 18,25 juta kilogram atau setara 18,2 ribu ton dengan nilai mencapai US$141,12 juta.

PELAKITA.ID – Sulawesi Selatan kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu pusat produksi perikanan nasional.

Di antara berbagai komoditas unggulan yang menopang sektor kelautan dan perikanan daerah, udang menjadi salah satu penyumbang ekonomi terbesar dengan nilai produksi mencapai lebih dari Rp4,24 triliun pada tahun 2023.

Data yang tercantum dalam Provinsi Sulawesi Selatan Dalam Angka 2025 menunjukkan bahwa produksi udang provinsi ini mencapai 71.718 ton. Produksi tersebut berasal dari kombinasi sektor perikanan budidaya tambak, perikanan tangkap laut, dan perikanan tangkap di perairan umum daratan.

Kabupaten Bone menempati posisi pertama sebagai produsen udang terbesar di Sulawesi Selatan dengan volume produksi mencapai 16.324 ton dan nilai ekonomi sekitar Rp869,6 miliar.

Posisi kedua ditempati Kabupaten Pinrang dengan produksi 14.878 ton bernilai Rp752,2 miliar, disusul Kabupaten Wajo yang menghasilkan 11.736 ton dengan nilai produksi mencapai Rp853,6 miliar.

Menariknya, meskipun volume produksi Wajo lebih rendah dibanding Bone dan Pinrang, nilai ekonominya hampir menyamai Bone. Kondisi ini menunjukkan adanya variasi harga, jenis komoditas, maupun kualitas produksi yang memberikan nilai tambah lebih tinggi.

Di luar tiga besar tersebut, Kabupaten Maros menghasilkan 6.106 ton udang dengan nilai Rp392,5 miliar, sementara Kabupaten Barru berada di posisi kelima dengan produksi 4.264 ton dan nilai ekonomi Rp229,1 miliar.

Kehadiran Barru di kelompok lima besar menunjukkan semakin pentingnya peran wilayah pesisir barat Sulawesi Selatan dalam mendukung industri udang nasional.

Kabupaten Bulukumba, Luwu Timur, dan Luwu juga mencatat kontribusi signifikan dengan produksi masing-masing 3.727 ton, 3.469 ton, dan 3.144 ton.

Sementara itu, Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), yang selama ini dikenal sebagai salah satu kawasan tambak terbesar di Sulawesi Selatan, menghasilkan 2.713 ton udang dengan nilai ekonomi mencapai Rp187,2 miliar.

Budidaya Tambak Menjadi Tulang Punggung

Dominasi produksi udang Sulawesi Selatan ditopang oleh sektor budidaya tambak. Dari total produksi provinsi, sekitar 66.577 ton berasal dari perikanan budidaya. Artinya, lebih dari 90 persen produksi udang Sulawesi Selatan bergantung pada aktivitas tambak yang tersebar di berbagai kawasan pesisir.

Kabupaten Bone, Pinrang, dan Wajo menjadi sentra utama budidaya udang berkat ketersediaan lahan tambak yang luas, kualitas perairan yang mendukung, serta pengalaman masyarakat dalam mengelola usaha perikanan tambak secara turun-temurun.

Selain ketiga daerah tersebut, Maros dan Pangkep juga memiliki keunggulan berupa hamparan tambak pesisir yang luas serta kedekatan dengan pusat logistik dan industri pengolahan hasil perikanan di wilayah metropolitan Makassar.

Potensi Besar untuk Pasar Ekspor

Besarnya produksi udang tidak hanya berkontribusi terhadap ekonomi lokal, tetapi juga mendukung kinerja ekspor Sulawesi Selatan. Kelompok komoditas “ikan dan udang” merupakan salah satu andalan ekspor provinsi ini.

Pada tahun 2024, volume ekspor kelompok komoditas ikan dan udang Sulawesi Selatan tercatat mencapai sekitar 18,25 juta kilogram atau setara 18,2 ribu ton. Nilai ekspornya mencapai US$141,1 juta, menjadikannya salah satu sumber devisa penting bagi daerah.

Permintaan global terhadap udang yang terus meningkat memberikan peluang besar bagi Sulawesi Selatan untuk memperkuat posisi sebagai salah satu sentra produksi dan ekspor perikanan Indonesia.

Apalagi, sejumlah daerah produsen telah mulai mengembangkan sistem budidaya yang lebih modern dan berorientasi pada standar pasar internasional.

Tantangan dan Peluang ke Depan

Meski potensinya besar, sektor udang Sulawesi Selatan masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari penyakit pada tambak, perubahan kualitas lingkungan pesisir, fluktuasi harga pakan, hingga kebutuhan peningkatan produktivitas dan keberlanjutan usaha budidaya.

Di sisi lain, peluang pengembangan masih sangat terbuka.

Luasnya kawasan tambak di Bone, Pinrang, Wajo, Maros, dan Pangkep menjadi modal penting untuk meningkatkan produksi melalui penerapan teknologi budidaya yang lebih efisien, penguatan rantai pasok, serta peningkatan akses pasar ekspor.

Dengan produksi mencapai lebih dari 71 ribu ton dan nilai ekonomi yang menembus Rp4,24 triliun, industri udang telah menjadi salah satu pilar utama ekonomi kelautan Sulawesi Selatan.

Ke depan, penguatan sektor ini tidak hanya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir, tetapi juga memperkuat kontribusi provinsi terhadap ketahanan pangan dan ekspor perikanan nasional.

Redaksi