Valuasi Ekonomi Kopi Sulsel Mendekati Rp2,74 triliun per Tahun

  • Whatsapp
Ilustrasi pengeringan kopi (dok: Istimewa)

Berdasarkan data produksi kopi rakyat tahun 2024 yang mencapai 30.475 ton, nilai ekonomi sektor ini diperkirakan berada pada kisaran Rp1,52 triliun hingga Rp2,74 triliun per tahun, tergantung pada asumsi harga kopi robusta di tingkat petani.

PELAKITA.ID – Sulawesi Selatan telah lama dikenal sebagai salah satu daerah penghasil kopi terpenting di Indonesia.

Di balik reputasi tersebut terdapat dua wajah industri kopi yang saling melengkapi: perkebunan rakyat yang menjadi tulang punggung produksi, dan perkebunan besar swasta yang berfokus pada pengembangan kopi arabika berkualitas tinggi.

Data dalam Provinsi Sulawesi Selatan Dalam Angka 2025 menunjukkan bahwa pada tahun 2024 total produksi kopi rakyat mencapai 30.475 ton dengan luas areal 77.827 hektar.

Valuasi ekonomi, sebuah pengandaian

Jika kopi dipandang bukan sekadar komoditas pertanian, melainkan sebagai aset ekonomi daerah, maka Sulawesi Selatan sesungguhnya menyimpan potensi yang sangat besar.

Berdasarkan data produksi kopi rakyat tahun 2024 yang mencapai 30.475 ton, nilai ekonomi sektor ini diperkirakan berada pada kisaran Rp1,52 triliun hingga Rp2,74 triliun per tahun, tergantung pada asumsi harga kopi robusta di tingkat petani.

Angka tersebut menunjukkan bahwa kopi bukan lagi tanaman pelengkap di pedesaan, melainkan salah satu sumber kekuatan ekonomi yang mampu menggerakkan ribuan keluarga dan roda pembangunan daerah.

Kontribusi terbesar berasal dari kawasan yang selama ini dikenal sebagai “Segitiga Emas Kopi Sulawesi Selatan”, yakni Enrekang, Toraja Utara, dan Tana Toraja.

Dengan produksi gabungan mencapai hampir 19 ribu ton per tahun, ketiga daerah ini menyumbang lebih dari 60 persen total produksi kopi provinsi. Jika menggunakan asumsi harga moderat sebesar Rp70.000 per kilogram, maka nilai ekonomi kopi Enrekang saja diperkirakan mencapai Rp596 miliar per tahun.

Sementara Toraja Utara menghasilkan sekitar Rp403 miliar dan Tana Toraja sekitar Rp321 miliar per tahun. Angka tersebut menjelaskan mengapa kopi telah menjadi salah satu fondasi ekonomi masyarakat pegunungan Sulawesi Selatan.

Di luar sentra utama, sejumlah daerah seperti Pinrang, Sinjai, Gowa, Bantaeng, Luwu Utara, dan Luwu juga menunjukkan kekuatan ekonomi yang tidak kecil.

Dengan nilai ekonomi tahunan yang berkisar antara Rp95 miliar hingga Rp138 miliar, daerah-daerah ini menjadi penyangga penting bagi industri kopi Sulawesi Selatan. Potensi tersebut semakin menarik karena sebagian besar wilayah masih memiliki ruang untuk meningkatkan produktivitas lahan dan kualitas hasil panen.

Yang menarik, kekuatan terbesar sektor kopi Sulawesi Selatan justru terletak pada struktur produksinya yang berbasis rakyat. Lebih dari 112 ribu keluarga petani terlibat langsung dalam usaha budidaya kopi.

Artinya, setiap kenaikan harga, peningkatan produktivitas, atau perbaikan kualitas pascapanen akan berdampak langsung terhadap kesejahteraan puluhan ribu rumah tangga. Inilah yang membedakan kopi dari banyak komoditas lainnya: nilai ekonominya tersebar luas di tingkat masyarakat, bukan hanya terkonsentrasi pada segelintir pelaku usaha.

Inspirasi dari Barru

Di tengah dominasi daerah-daerah besar, Kabupaten Barru menghadirkan cerita yang berbeda.

Saat ini produksi kopi Barru baru tercatat sekitar 27 ton per tahun dengan nilai ekonomi yang diperkirakan hanya sekitar Rp1,9 miliar apabila menggunakan harga rata-rata Rp70.000 per kilogram.

Sekilas angka ini tampak kecil dibandingkan kabupaten lain. Namun jika dilihat dari perspektif pembangunan jangka panjang, justru di sinilah tersimpan peluang yang sangat menarik.

Barru memiliki luas areal kopi sekitar 736 hektar, jauh lebih besar dibandingkan volume produksi yang tercatat saat ini. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar potensi lahan belum menghasilkan secara optimal.

Jika produktivitas kebun dapat ditingkatkan hingga mencapai satu ton per hektar saja, maka produksi kopi Barru berpotensi melonjak menjadi sekitar 736 ton per tahun.

Dengan harga yang sama, nilai ekonominya dapat meningkat menjadi lebih dari Rp51 miliar per tahun. Apabila produktivitas mencapai 1,5 ton per hektar, potensi ekonomi bahkan dapat mendekati Rp80 miliar per tahun.

Karena itu, masa depan kopi Sulawesi Selatan tidak hanya bergantung pada daerah-daerah yang sudah mapan seperti Toraja dan Enrekang, tetapi juga pada munculnya kawasan-kawasan baru yang sedang bertumbuh seperti Barru.

Dengan dukungan teknologi budidaya, penguatan kelembagaan petani, hilirisasi produk, dan pengembangan kopi spesialti, komoditas ini berpotensi menjadi mesin pertumbuhan ekonomi pedesaan yang semakin kuat.

Dari pegunungan Toraja hingga lereng-lereng Barru, kopi bukan sekadar minuman yang dinikmati masyarakat, melainkan sumber nilai ekonomi yang mampu menghubungkan alam, budaya, dan kesejahteraan.

Redaksi