Piala Dunia dan Mimpi Makassar

  • Whatsapp
Andi Zulkifli Daido
  • Jika dicermati lebih jauh, Piala Dunia menciptakan peluang ekonomi yang sangat luas. Warung kopi memperoleh tambahan pelanggan.
  • Hotel meningkatkan tingkat hunian. Restoran memperpanjang jam operasional. Pusat perbelanjaan menyelenggarakan program promosi. Pelaku UMKM menjual produk bertema sepak bola. Konten kreator memperoleh pendapatan baru dari platform digital.
  • Komunitas menyelenggarakan turnamen dan festival. Masalahnya, seluruh aktivitas tersebut berlangsung secara sporadis dan belum menjadi bagian dari strategi ekonomi kota.

oleh : Andi Zulkifli Daido

PELAKITA.ID – Ada ironi yang menarik setiap kali Piala Dunia berlangsung. Jutaan warga Makassar begadang hingga dini hari menyaksikan pertandingan di stadion-stadion megah dunia. Warung kopi penuh. Hotel menggelar acara nonton bersama.

Percakapan di kampus, kantor, pelabuhan, hingga ruang digital didominasi sepak bola. Namun ketika turnamen usai, energi sosial yang begitu besar itu sering menguap tanpa meninggalkan jejak pembangunan yang berarti.

Padahal, dalam ekonomi modern, perhatian publik adalah sumber daya yang sama berharganya dengan modal finansial. Kota-kota maju memahami hal tersebut.

Mereka tidak melihat olahraga sekadar tontonan, melainkan instrumen untuk membangun identitas kota, menggerakkan ekonomi kreatif, memperkuat kohesi sosial, dan menciptakan daya saing baru.

Pertanyaannya kemudian sederhana: mengapa kota sebesar Makassar, yang dikenal sebagai gerbang Indonesia Timur, masih lebih sering menjadi konsumen euforia sepak bola global dibanding produsen manfaat ekonominya?

Pertanyaan ini penting karena sesungguhnya dampak terbesar Piala Dunia bagi Makassar bukan berada di lapangan hijau. Dampak itu berada pada kemampuan kota mengubah antusiasme menjadi aset pembangunan.

Kota Pelabuhan dan Budaya Keterhubungan

Sejarah Makassar adalah sejarah keterhubungan. Sejak masa Kerajaan Gowa-Tallo, kota ini tumbuh sebagai simpul perdagangan yang menghubungkan Nusantara bagian timur dengan jaringan ekonomi regional Asia Tenggara.

Karakter itu masih terlihat hingga kini.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa struktur ekonomi Makassar dalam beberapa tahun terakhir ditopang oleh perdagangan, transportasi, pergudangan, jasa keuangan, konstruksi, akomodasi, serta berbagai sektor jasa modern. Sebagai ibu kota Sulawesi Selatan, Makassar menjadi kontributor ekonomi terbesar di provinsi tersebut sekaligus pusat aktivitas ekonomi kawasan Indonesia Timur.

Posisi Makassar sebagai episentrum ekonomi Indonesia Timur sesungguhnya memberikan modal yang tidak dimiliki banyak kota lain. Nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) kota ini telah mencapai ratusan triliun rupiah dan terus tumbuh dalam beberapa tahun terakhir. Namun yang lebih penting bukanlah besarnya angka tersebut, melainkan struktur ekonominya.

Makassar bukan kota tambang. Bukan pula kota yang bertumpu pada perkebunan atau manufaktur besar. Makassar adalah kota jasa.

Dalam ekonomi jasa, perhatian manusia memiliki nilai ekonomi. Setiap kunjungan, setiap interaksi sosial, setiap aktivitas hiburan, dan setiap pergerakan masyarakat menciptakan transaksi ekonomi.

Karena itu, ketika jutaan orang secara bersamaan terhubung oleh Piala Dunia, sesungguhnya terdapat peluang ekonomi yang sangat besar bagi kota seperti Makassar.

Mengapa Daerah Sering Menjadi Penonton?

Sebagian orang mungkin beranggapan bahwa Piala Dunia tidak memiliki hubungan langsung dengan Makassar karena tidak ada pertandingan yang digelar di kota ini.

Pandangan tersebut benar secara geografis, tetapi keliru secara ekonomi.

Dalam era digital, dampak sebuah peristiwa tidak lagi ditentukan oleh kedekatan lokasi. Dampaknya ditentukan oleh kemampuan suatu daerah menghubungkan dirinya dengan arus ekonomi yang tercipta.

Piala Dunia merupakan salah satu peristiwa dengan audiens terbesar di dunia. Miliaran orang terhubung melalui televisi, media sosial, platform digital, industri hiburan, pariwisata, dan perdagangan.

Artinya, Piala Dunia bukan hanya kompetisi olahraga. Ia adalah ekosistem ekonomi global.

Masalahnya, sebagian besar kota di Indonesia, termasuk Makassar, masih melihat olahraga sebagai sektor hiburan, bukan sektor pembangunan. Di sinilah akar persoalan kelembagaan berada.

Pemerintah daerah memiliki dinas olahraga. Dunia usaha memiliki sponsor. Perguruan tinggi memiliki pusat riset. Komunitas memiliki jaringan sosial yang kuat. Namun seluruh komponen tersebut sering berjalan sendiri-sendiri. Akibatnya, momentum besar yang seharusnya menghasilkan nilai ekonomi berkelanjutan hanya berakhir sebagai aktivitas konsumsi sesaat.

Piala Dunia sebagai Modal Kota

Selama ini pembahasan mengenai dampak Piala Dunia hampir selalu berhenti pada peningkatan konsumsi. Padahal dampak yang jauh lebih penting adalah terbentuknya modal kota. Modal kota bukan hanya jalan, pelabuhan, atau gedung pencakar langit. Modal kota juga berupa reputasi, kreativitas masyarakat, jejaring sosial, dan kemampuan berkolaborasi.

Penelitian ilmuwan politik Robert Putnam menunjukkan bahwa daerah dengan modal sosial tinggi cenderung memiliki kualitas pembangunan yang lebih baik karena tingkat kepercayaan dan partisipasi masyarakat lebih kuat.

Piala Dunia menyediakan ruang yang unik untuk memperkuat modal sosial tersebut. Di Makassar, masyarakat dari berbagai latar belakang berkumpul dalam ruang yang sama. Perbedaan pilihan politik, profesi, agama, dan kelas sosial seolah mencair selama pertandingan berlangsung.

Fenomena ini tampak sederhana, tetapi memiliki makna besar. Di tengah polarisasi sosial yang semakin menguat akibat fragmentasi media digital, sepak bola menjadi salah satu sedikit ruang yang masih mampu memproduksi rasa kebersamaan.

Karena itu, dampak terbesar Piala Dunia bukan sekadar transaksi ekonomi, melainkan produksi kepercayaan sosial. Dalam ilmu pembangunan modern, kepercayaan sosial sering kali lebih menentukan dibandingkan infrastruktur fisik.

Pelajaran dari Barcelona hingga Doha

Pengalaman berbagai kota dunia menunjukkan bahwa manfaat terbesar olahraga sering kali diperoleh jauh setelah pertandingan berakhir. Barcelona menggunakan Olimpiade 1992 bukan sekadar ajang olahraga. Kota tersebut memanfaatkannya untuk merevitalisasi kawasan pesisir, memperkuat identitas global, dan menarik investasi jangka panjang.

Melbourne mengembangkan dirinya sebagai kota olahraga dunia melalui penyelenggaraan berbagai event internasional yang berlangsung sepanjang tahun. Doha memanfaatkan olahraga sebagai instrumen diplomasi ekonomi dan transformasi perkotaan.

Pelajaran penting dari ketiga kota tersebut bukan terletak pada besarnya anggaran yang mereka miliki, melainkan pada kemampuannya menjadikan olahraga sebagai strategi pembangunan.

Makassar tentu tidak perlu meniru skala Barcelona atau Doha. Namun prinsip dasarnya tetap relevan: olahraga harus diperlakukan sebagai instrumen pembangunan ekonomi, sosial, dan budaya.

Ekonomi yang Terlupakan

Jika dicermati lebih jauh, Piala Dunia menciptakan peluang ekonomi yang sangat luas. Warung kopi memperoleh tambahan pelanggan.

Hotel meningkatkan tingkat hunian. Restoran memperpanjang jam operasional. Pusat perbelanjaan menyelenggarakan program promosi. Pelaku UMKM menjual produk bertema sepak bola. Konten kreator memperoleh pendapatan baru dari platform digital.

Komunitas menyelenggarakan turnamen dan festival. Masalahnya, seluruh aktivitas tersebut berlangsung secara sporadis dan belum menjadi bagian dari strategi ekonomi kota.

Padahal ekonomi kreatif Indonesia terus menunjukkan tren pertumbuhan yang positif dalam beberapa tahun terakhir. Subsektor berbasis media digital, desain, konten, dan hiburan menjadi sektor yang berkembang paling cepat.

Makassar memiliki modal yang cukup untuk masuk ke dalam arus tersebut.

Populasi usia produktif yang besar, penetrasi internet yang tinggi, banyaknya perguruan tinggi, serta tumbuhnya komunitas kreatif merupakan fondasi penting ekonomi masa depan.

Piala Dunia dan Pendapatan Daerah

Perspektif fiskal daerah juga perlu diperhitungkan.

Selama ini Pendapatan Asli Daerah (PAD) Makassar banyak ditopang oleh pajak hotel, restoran, hiburan, parkir, dan berbagai aktivitas jasa perkotaan.

Karakter penerimaan seperti ini sangat bergantung pada tingkat aktivitas masyarakat.

Artinya, setiap agenda yang mampu meningkatkan kunjungan orang, memperpanjang lama tinggal wisatawan, dan memperbesar transaksi ekonomi lokal akan memberikan dampak langsung terhadap penerimaan daerah.

Dalam konteks tersebut, ekonomi olahraga bukan sekadar isu rekreasi.

Ia adalah instrumen fiskal yang berpotensi memperluas basis penerimaan daerah tanpa harus meningkatkan beban pajak masyarakat.

Sport Tourism: Peluang Baru Makassar

Selama ini Makassar dikenal sebagai pintu gerbang Indonesia Timur dalam konteks perdagangan dan logistik. Padahal terdapat peluang baru yang berkembang pesat secara global, yakni sport tourism. Menurut berbagai studi pariwisata internasional, wisata olahraga merupakan salah satu segmen dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Wisatawan tidak lagi bepergian hanya untuk melihat destinasi, tetapi juga untuk mengikuti atau menyaksikan kegiatan olahraga.

Makassar memiliki prasyarat yang cukup lengkap untuk masuk ke sektor ini.

Pantai Losari, kawasan pesisir kota, Center Point of Indonesia, fasilitas olahraga yang terus berkembang, serta akses menuju berbagai destinasi wisata Sulawesi Selatan memberikan modal yang kuat.

Dengan strategi yang tepat, Makassar dapat menjadi pusat sport tourism Indonesia Timur melalui penyelenggaraan lomba lari internasional, festival olahraga pantai, turnamen usia muda, maupun kegiatan olahraga berbasis komunitas.

Koridor Olahraga Makassar–Parepare

Potensi tersebut semakin besar dengan hadirnya Stadion Gelora BJ Habibie di Parepare. Selama ini stadion tersebut lebih sering dipandang sebagai fasilitas olahraga semata. Padahal jika dilihat dari perspektif ekonomi regional, stadion tersebut merupakan aset strategis Sulawesi Selatan.

Konektivitas Makassar–Parepare memungkinkan terbentuknya koridor ekonomi olahraga yang menghubungkan dua pusat pertumbuhan.

Pertandingan Liga 1 tidak hanya menggerakkan ekonomi Parepare. Pergerakan penonton, transportasi, hotel, kuliner, perdagangan, dan jasa pendukung juga menciptakan manfaat ekonomi bagi Makassar.

Jika dirancang secara terintegrasi, hubungan Makassar–Parepare dapat menjadi model pengembangan ekonomi olahraga regional pertama di Indonesia Timur.

Pembahasan mengenai Piala Dunia sering terjebak pada persoalan ekonomi. Padahal terdapat dampak lain yang jauh lebih mendalam. Dampak tersebut adalah perubahan cara generasi muda memandang masa depan.

Ketika anak-anak Makassar menyaksikan Jepang mampu bersaing dengan negara-negara besar dunia, mereka melihat hasil dari investasi jangka panjang pada pendidikan, disiplin, dan sistem pembinaan.

Ketika mereka melihat Maroko menembus semifinal, mereka belajar bahwa keterbatasan bukan alasan untuk menyerah. Yang diproduksi Piala Dunia bukan hanya hiburan. Yang diproduksi adalah harapan.

Ekonom Amartya Sen pernah menjelaskan bahwa pembangunan pada hakikatnya adalah perluasan kemampuan manusia untuk mencapai kehidupan yang mereka nilai berharga. Dalam perspektif tersebut, harapan bukan sekadar emosi. Harapan adalah sumber daya pembangunan.

Dari Stadion ke Ruang Digital

Transformasi terbesar olahraga modern sesungguhnya tidak lagi terjadi di stadion. Transformasi itu terjadi di ruang digital. Generasi muda Makassar menikmati sepak bola melalui media sosial, kanal video, podcast, permainan daring, fantasy football, dan platform streaming.

Fenomena ini menciptakan pasar baru bagi desainer grafis, videografer, animator, pengembang aplikasi, pembuat konten, hingga pelaku usaha digital.

Dengan jumlah mahasiswa yang besar dan penetrasi internet yang terus meningkat, Makassar memiliki peluang untuk berkembang sebagai pusat produksi konten olahraga digital di Indonesia Timur. Jika sektor ini tumbuh, dampaknya jauh melampaui sepak bola. Ia dapat melahirkan lapangan kerja baru yang sesuai dengan karakter ekonomi masa depan.

Dalam jangka pendek, Pemerintah Kota Makassar dapat memanfaatkan momentum Piala Dunia melalui festival UMKM, ruang nonton publik, promosi wisata, dan kompetisi ekonomi kreatif berbasis olahraga.

Dalam jangka menengah, perlu dibangun kolaborasi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, klub olahraga, dan komunitas kreatif untuk membentuk ekosistem ekonomi olahraga. Dalam jangka panjang, Makassar memerlukan peta jalan ekonomi olahraga yang terintegrasi dengan visi pembangunan kota.

Fokusnya bukan pada pembangunan stadion semata. Fokusnya adalah pembangunan talenta, inovasi, kewirausahaan, ekonomi kreatif, dan identitas kota.

Penutup

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah kota tidak ditentukan oleh berapa banyak stadion yang dibangun atau berapa sering masyarakat menonton pertandingan sepak bola. Ukuran keberhasilannya terletak pada kemampuan mengubah energi sosial menjadi energi ekonomi, mengubah kegemaran menjadi industri, dan mengubah euforia sesaat menjadi strategi jangka panjang.

Piala Dunia hanya berlangsung satu bulan. Namun kota yang mampu membaca maknanya dapat memetik manfaat selama puluhan tahun.

Pertanyaannya bukan apakah Makassar ikut bermain di Piala Dunia. Pertanyaannya adalah apakah Makassar siap menjadi pemenang dari dampak yang ditinggalkannya.