Abdul Manan | Wakatobi di Persimpangan Jalan: Akankah Jantung Karang Dunia Tenggelam dalam Sunyi?

  • Whatsapp
Dr. Abdul Manan (dosen Universitas Haluoleo Kendari)
  • Sejarah mencatat bahwa peristiwa El Niño pada tahun 1996 dan 1998 menjadi pemicu utama pemutihan karang (bleaching) massal. Dipadukan dengan pengasaman laut (acidification) akibat penyerapan CO2 yang berlebih, struktur terumbu karang kini kian rapuh.
  • Ketika keseimbangan ekologis ini terganggu, ketangguhan (resilience) bawah laut menurun drastis, membuat mereka sangat sulit untuk pulih dari gangguan iklim.

PELAKITA.ID – Wakatobi dikaruniai predikat sebagai pusat biodiversitas laut dunia, sebuah mahakarya alam di jantung Segitiga Karang yang menjadi tumpuan hidup jutaan jiwa. Keindahan ini menyimpan paradoks yang getir.

Sebagaimana ungkapan filosofis, “Individually we are just a drop but together we can make an Ocean”, kita diingatkan bahwa tindakan sekecil apa pun berkontribusi pada lautan perubahan. Sayangnya, perubahan yang saat ini kita saksikan adalah krisis iklim yang bergerak sunyi namun mematikan.

Data sains memperingatkan kita bahwa suhu global telah melonjak 0,76°C sejak era 1800-an.

Di Indonesia, kenaikan suhu rata-rata tahunan telah mencapai 0,3°C sejak 1990.

Bahkan, catatan sejarah menunjukkan tahun 1998 sebagai tahun terpanas dalam satu abad terakhir, dengan lonjakan suhu hampir 1°C di atas rata-rata periode 1961-1990.

Bagi Wakatobi, angka-angka ini bukanlah sekadar statistik, melainkan alarm bagi kelangsungan hidup ekosistemnya.

Indonesia Terancam Kehilangan 2.000 Pulau

Kenaikan suhu global memicu pemuaian air laut dan mencairnya es kutub, sebuah proses yang diproyeksikan oleh IPCC akan menaikkan permukaan laut antara 0,18 hingga 1,9 meter pada tahun 2100.

Bagi negara kepulauan, ini adalah ancaman eksistensial terhadap kedaulatan. Nusantara telah merasakan dampaknya; jumlah pulau kita telah menyusut dari 17.504 menjadi 17.480 pulau.

Data memperingatkan bahwa jika permukaan laut naik 90 cm tanpa pencegahan masif, Indonesia berisiko kehilangan 2.000 pulau.

Pulau-pulau ini bukan sekadar daratan, melainkan titik terdepan (frontiers) yang menjaga kedaulatan, batas wilayah, dan identitas kita sebagai bangsa bahari. Kehilangan mereka berarti kehilangan sebagian dari jiwa Indonesia.

Laut 97%: Mesin Karbon Wakatobi yang Mulai Terganggu

Wakatobi adalah wilayah yang didominasi oleh air; daratannya hanya mencakup 3%, sementara 97% sisanya adalah hamparan laut luas. Lautan ini sejatinya berperan sebagai “mesin karbon” raksasa bagi bumi.

Fitoplankton yang berlimpah, hutan bakau, dan padang lamun bekerja bahu-membahu menyerap emisi karbon dalam skala masif. Namun, mesin karbon ini mulai “tersedak”.

Kerentanan ekologi yang dipicu perubahan iklim sedang melumpuhkan benteng pertahanan alami kita. Sebagaimana tercatat dalam data teknis:

“Terjadinya kerentanan ekologi menyebabkan: kerusakan pada bakau, mangrove, lamun, terumbu karang dan ekosistemnya sehingga kehilangan kemampuan untuk menghasilkan sumberdaya.”

Ironisnya, ekosistem yang seharusnya melindungi manusia justru kini berada dalam kondisi paling rentan, kehilangan daya lentingnya untuk memulihkan diri.

Ilustrasi oleh Pelakita.ID

Bukan Sekadar Prediksi: Getir Kehidupan di Garis Pantai

Dampak krisis iklim di Wakatobi bukan lagi prediksi masa depan, melainkan realita pahit yang merusak kualitas hidup (livelihood) masyarakat pesisir:

  • Banjir Rob yang Kian Sering: Di Desa Mola Raya, rumah-rumah warga kini terendam air laut saat pasang, terutama pada puncaknya di bulan Februari dan April.
  • Intrusi Air dan Kekeringan: Sumur warga mulai terasa asin karena rembesan laut. Sementara itu, kemarau panjang menyebabkan komoditas pangan lokal seperti jagung mengalami gagal panen.
  • Kematian Padang Lamun: Ekosistem lamun banyak yang mati karena pola pasang surut yang berubah menjadi lebih lama dan terjadi di siang hari, membuat mereka terpapar sinar matahari ekstrem secara langsung.
  • Kehancuran Akibat “Badai La Togo”: Cuaca ekstrem telah meningkatkan frekuensi badai. Badai La Togo, misalnya, telah meratakan rumah-rumah warga di Lamanggau dan Patipelong menjadi puing-puing. Akibat perubahan ekosistem ini, nelayan pun terpaksa melaut jauh lebih ke tengah samudra demi mencari tangkapan yang kian menipis.

Hanya 5% yang Alami: Peringatan Keras dari Dasar Laut

Di bawah permukaan biru yang tenang, krisis besar sedang terjadi. Data Bank Dunia menunjukkan potret suram terumbu karang Indonesia: 41% rusak parah, 29% rusak, dan hanya 5% yang masih dalam kondisi alami.

Sejarah mencatat bahwa peristiwa El Niño pada tahun 1996 dan 1998 menjadi pemicu utama pemutihan karang (bleaching) massal.

Dipadukan dengan pengasaman laut (acidification) akibat penyerapan CO2 yang berlebih, struktur terumbu karang kini kian rapuh.

Ketika keseimbangan ekologis ini terganggu, ketangguhan (resilience) bawah laut menurun drastis, membuat mereka sangat sulit untuk pulih dari gangguan iklim.

Bertahan dengan Inovasi: Napas Kehidupan di Tengah Krisis

Masyarakat Wakatobi menolak menyerah. Melalui kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun dan inovasi modern, mereka mencoba beradaptasi:

  • Hunian Adaptif: Praktik tinggal di rumah panggung dan rumah terapung terus dipertahankan untuk menghadapi pasang air laut, kini dengan material yang lebih kokoh seperti beton.
  • Inovasi di Laut: Nelayan menggunakan atap tradisional pada sampan untuk berlindung dari suhu tinggi yang kian menyengat. Dalam budidaya rumput laut, mereka memanfaatkan botol plastik bekas sebagai pelampung ekonomis.
  • Ketahanan Pangan Sela Batu: Petani melakukan diversifikasi dengan menanam ubi kayu di sela-sela batu, sebuah metode cerdas untuk bertahan di lahan kering yang ekstrem.
  • Kebijakan Berkelanjutan: Inovasi sistemik mulai muncul, seperti kebijakan emisi karbon rendah di Pulau Hoga dan dukungan terhadap program Low Carbon City.

Sebuah Panggilan untuk Bertindak

Perubahan iklim bukan sekadar urusan lingkungan hidup atau tugas Badan Lingkungan Hidup (BLH) semata. Ini adalah isu lintas sektor yang menghantam pariwisata, kesehatan, hingga ketahanan pangan.

Strategi mitigasi harus mendarah daging dalam setiap rencana pembangunan dan anggaran daerah.

Daftar Periksa Aksi Nyata Anda:

  • Pangan dan Konsumsi: Beli produk lokal organik dan konsumsi bahan pangan lokal untuk memangkas jejak karbon.
  • Efiensi Energi: Gunakan lampu hemat energi (CFL/Compact Fluorescent) dan cabut alat elektronik yang tidak digunakan.
  • Kurangi Limbah: Terapkan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) dan kurangi pembelian air minum dalam kemasan botol plastik secara signifikan.
  • Transportasi Hijau: Biasakan jalan kaki, bersepeda, atau gunakan penerbangan langsung jika tersedia untuk mengurangi emisi perjalanan.

Jika Wakatobi—sang jantung biodiversitas bumi—sedang berjuang untuk bernapas, langkah nyata apa yang akan kita ambil hari ini sebelum pulau-pulau kita benar-benar menjadi kenangan?

____
Penulis adalah akademisi Universitas Haluoleo
Editor: Kamaruddin Azis