Sejak 2021, ia menjalani profesi sebagai penyembelih hewan qurban secara otodidak. Ia belajar langsung di lapangan bersama orang-orang yang lebih berpengalaman.
Oleh: Muliadi Saleh
Esais Reflektif, Penggagas Arsitektur Kesadaran
PELAKITA.ID – Tak semua orang sanggup berdiri di depan seekor sapi qurban yang mengamuk ketakutan. Tubuh besar itu bisa berguncang. Tali dapat terlepas. Mata hewan itu membesar, memantulkan kecemasan yang diam-diam juga merambat ke dada manusia yang memegang pisau.
Di situlah saya memahami: menjadi penyembelih hewan qurban bukan sekadar pekerjaan fisik, melainkan ujian mental, spiritual, dan kemanusiaan.
Muhammad Shabir, S.H., alumni STIBA berusia 36 tahun, menuturkan kisah itu dengan suara sederhana tanpa dramatisasi.
Sejak 2021, ia menjalani profesi sebagai penyembelih hewan qurban secara otodidak. Ia belajar langsung di lapangan bersama orang-orang yang lebih berpengalaman.
Tidak ada kelas formal. Tidak ada pelatihan mewah. Yang ada hanyalah keberanian untuk belajar dari pengalaman dan kesediaan menghadapi rasa takut.
“Awal-awal takut juga kalau sapi goyang,” katanya.
Kalimat itu terdengar biasa. Namun justru di situlah letak kejujurannya. Sebab banyak orang hanya melihat hasil akhir: sapi roboh, daging terbagi, takbir berkumandang. Jarang yang melihat pergulatan batin orang yang berdiri di titik paling sunyi antara hidup dan kematian seekor hewan.
Shabir masih mengingat pengalaman pertamanya menyembelih sapi di Enrekang. Saat itu ia menjadi imam masjid. Ia belum memiliki sertifikat JULEHA dan belum pula bergabung dengan komunitas Juru Sembelih Halal. Semua dijalani dengan keberanian belajar sambil bekerja.
Namun pengalaman paling membekas justru datang dari kesalahan sederhana: pisau yang tumpul.
Karena pisau tidak cukup tajam, proses penyembelihan berlangsung lama. Hingga lima kali gerakan, urat hewan baru terpotong sempurna. Peristiwa itu bukan hanya menjadi pengalaman teknis, tetapi juga pelajaran moral yang tertanam kuat di hati.
Sebab dalam Islam, ketajaman pisau bukan sekadar urusan alat—ia adalah bagian dari kasih sayang.
Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
“Jika kalian menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang baik. Hendaklah salah seorang di antara kalian menajamkan pisaunya dan menenangkan hewan sembelihannya.”
(HR. Muslim)
Hadis ini terasa sangat relevan di tengah masyarakat modern yang sering memisahkan agama dari empati. Islam ternyata tidak hanya mengatur halal dan haram, tetapi juga mengajarkan kelembutan dalam tindakan.

Pisau yang tumpul bukan sekadar kesalahan teknis. Ia dapat menjadi sumber penderitaan bagi hewan. Dari pengalaman seperti itulah lahir kesadaran baru bahwa profesi JULEHA membutuhkan ilmu, keterampilan, dan tanggung jawab etik.
Hari ini, profesi Juru Sembelih Halal semakin mendapat perhatian. Sertifikasi, pelatihan, hingga standar kesejahteraan hewan mulai diperkuat. Ini merupakan perkembangan penting. Sebab penyembelihan hewan qurban tidak boleh dilakukan asal-asalan atas nama tradisi.
Qurban adalah ibadah yang menyentuh dua dimensi sekaligus: langit dan bumi.
Ke langit, ia membawa ketakwaan.
Ke bumi, ia menghadirkan kepedulian sosial.
Di antara keduanya, ada satu dimensi lain yang sering terlupakan: dimensi kasih sayang terhadap makhluk hidup.
Kita kadang terlalu sibuk membicarakan distribusi daging, tetapi lupa membicarakan bagaimana hewan itu diperlakukan sebelum disembelih. Padahal seekor sapi bukan benda mati. Ia merasakan takut. Ia mengalami stres. Ia memiliki naluri mempertahankan hidup.
Ilmu pengetahuan modern menyebutnya animal welfare—kesejahteraan hewan. Namun Islam telah lebih dahulu mengajarkannya dalam bentuk ihsan: berbuat baik bahkan ketika manusia berada dalam posisi paling berkuasa atas makhluk lain.
Karena itu, profesi JULEHA sesungguhnya bukan hanya pekerjaan teknis memotong hewan. Ia adalah profesi kesadaran.
Seorang JULEHA harus memiliki ketenangan tangan sekaligus kejernihan hati. Ia perlu memahami anatomi hewan, teknik penyembelihan, kebersihan, ketajaman alat, hingga etika memperlakukan hewan. Semua itu bukan sekadar prosedur, melainkan bentuk penghormatan terhadap kehidupan.
Muhammad Shabir mengaku belum sempat bergabung dengan kelompok JULEHA resmi. Namun ia menyimpan keinginan itu. Ada semangat belajar yang terus hidup di dalam dirinya. Dan mungkin itulah yang paling penting: kesediaan untuk terus memperbaiki cara beribadah.
“Enaknya karena bisa bantu dan dapat pahala,” ujarnya singkat.
Kalimat itu sederhana, tetapi mengandung sesuatu yang langka di zaman sekarang: ketulusan.
Di tengah dunia yang semakin materialistik, masih ada orang-orang yang rela berkeringat, memegang tali, menghadapi sapi yang meronta, hanya demi membantu masyarakat menjalankan ibadah qurban dengan baik.
Mereka mungkin tidak terkenal. Tidak tampil di panggung besar. Namun di tangan merekalah nilai pengorbanan tetap hidup.
Qurban akhirnya bukan hanya tentang sapi yang disembelih. Ia adalah cermin tentang bagaimana manusia memperlakukan kehidupan ketika ia memiliki kuasa.
Ukuran ketakwaan manusia bukan hanya pada seberapa banyak hewan yang ia kurbankan, tetapi juga pada seberapa besar belas kasih yang tetap ia jaga saat melakukannya.
Sebab agama tidak pernah hadir untuk mengeraskan hati manusia. Agama datang untuk menumbuhkan kehalusan nurani.
Maka ketika takbir Iduladha kembali menggema tahun ini, kita patut mengingat satu hal penting: pisau boleh tajam, tetapi hati tidak boleh menjadi kasar.
Di situlah JULEHA—Juru Sembelih Halal—patut kita muliakan.

Muliadi Saleh
Menulis Makna, Membangun Peradaban









