Terlalu Banyak Dampak Buruk Media Sosial, Menjauh atau Beradaptasi?

  • Whatsapp
Dua sosok ini adalah rekaan semata oleh AI, jika ada yang mirip dengan sanak saudara anda, itu kebetulan semata (dok: AI)

Mereka melihat sesuatu yang lebih dalam: perubahan cara berpikir, cara merasakan, bahkan cara generasi muda membangun identitas diri. Dari sudut pandang ilmiah, media sosial dapat menjadi ancaman serius terhadap pertumbuhan psikologis, emosional, dan sosial anak muda.

PELAKITA.ID – Pagi ini saya melintas di Poros Limbung – Galesong, menuju kampung halaman. Di salah satu ruas dusun, saya menyaksikan pemandangan yang aduhai. Tidak kurang delapan anak usia SD berpakaian bagus, rapi, ya, salat Idul Adha baru saja selesai.

Yang menarik, hampir semuanya berpasang-pasangan dengan gawai di tangan, menunduk. Bukan hanya di dusun itu tapi di dusun sebelah. Anak-anak nampak takzim dengan apa yang dipegangnya pagi itu.

Penulis merenung, menyadari bahwa memang, internet atau media sosial, telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan generasi muda.

Ia hadir di genggaman tangan, di ruang belajar, di kamar tidur, bahkan di meja makan keluarga bahkan jadi hiburan saat semestinya mereka datang berziarah ke tetangga sembari berseru: ziarah, ziarah, adakah…

Banyak pilihan

Platform-platform digital menawarkan hiburan, informasi, relasi sosial, dan ruang ekspresi yang nyaris tanpa batas.

Di balik kemudahan itu, semakin banyak ilmuwan, psikolog, dan pakar pendidikan yang memperingatkan bahwa media sosial bukan sekadar alat komunikasi biasa.

Ia adalah sistem yang dirancang untuk memengaruhi perilaku manusia — terutama anak-anak dan remaja yang otaknya masih berkembang.

Masih ingat kasus seorang anak remaja di Makassar yang tega membunuh anak sebaya karena tergiur perdagangan organ di interner?

Sadar bahwa banyak kericuhan sosial saat ini karena mudahnya menggalang pelaku dari berbagai latar belakangn melalui grup WA atau FB?

Masih banyak lagi.

Pembaca sekalian, para ahli tidak hanya berbicara tentang “kecanduan gawai” atau lamanya waktu di depan layar.

Mereka melihat sesuatu yang lebih dalam: perubahan cara berpikir, cara merasakan, bahkan cara generasi muda membangun identitas diri. Dari sudut pandang ilmiah, media sosial dapat menjadi ancaman serius terhadap pertumbuhan psikologis, emosional, dan sosial anak muda.

Salah satu alasan utama adalah bagaimana media sosial “membajak” sistem penghargaan dalam otak manusia.

Psikolog behavioris B. F. Skinner menjelaskan teori variable reward reinforcement, yaitu pola hadiah yang tidak dapat diprediksi. Dalam media sosial, “hadiah” itu hadir dalam bentuk likes, komentar, notifikasi, atau jumlah penonton. Ketidakpastian inilah yang membuat seseorang terus membuka aplikasi berulang kali.

Ahli neurologi dan psikiater Anna Lembke menjelaskan bahwa setiap notifikasi memicu pelepasan dopamin — zat kimia yang berkaitan dengan rasa senang dan kecanduan.

Remaja menjadi kelompok paling rentan karena bagian otak yang mengontrol impuls dan pengambilan keputusan belum berkembang sempurna.

Bahaya berikutnya adalah budaya perbandingan sosial yang terus-menerus.

Psikolog Leon Festinger melalui Social Comparison Theory menjelaskan bahwa manusia cenderung menilai dirinya dengan membandingkan diri kepada orang lain. Di media sosial, perbandingan itu terjadi setiap detik.

Anak muda melihat tubuh sempurna, gaya hidup mewah, wajah tanpa cela, dan pencapaian yang tampak luar biasa. Padahal sebagian besar hanyalah potongan realitas yang telah disunting dan dipilih secara hati-hati.

Psikolog Jean Twenge menemukan hubungan kuat antara penggunaan media sosial yang tinggi dengan meningkatnya depresi, kecemasan, dan rasa kesepian pada remaja. Ketika validasi hidup diukur dari jumlah likes dan followers, harga diri menjadi rapuh.

Media sosial juga membuka ruang besar bagi perundungan digital atau cyberbullying. Tidak seperti perundungan tradisional yang berhenti ketika anak pulang sekolah, kekerasan digital dapat mengikuti korban selama 24 jam.

Peneliti bullying asal Norwegia Dan Olweus menegaskan bahwa penghinaan berulang dan pengucilan sosial dapat meninggalkan trauma psikologis jangka panjang.

Di dunia maya, anonimitas membuat banyak orang kehilangan empati. Kata-kata kasar menjadi lebih mudah dilontarkan karena pelaku tidak melihat langsung penderitaan korbannya.

Akibatnya, banyak remaja mengalami gangguan kecemasan, depresi, bahkan dorongan untuk menyakiti diri sendiri.

Di sisi lain, media sosial juga memengaruhi kemampuan generasi muda untuk berkonsentrasi. Penulis dan ilmuwan komputer Cal Newport menyebut bahwa manusia modern kehilangan kemampuan untuk melakukan deep work — kemampuan berpikir mendalam dan fokus dalam waktu lama.

Video pendek, scrolling tanpa henti, dan arus informasi cepat melatih otak untuk terus mencari stimulasi baru.

Anak muda menjadi terbiasa dengan perhatian singkat dan sulit bertahan pada aktivitas yang membutuhkan ketekunan seperti membaca buku, menulis, atau berpikir kritis.

Banyak guru dan dosen di berbagai negara mulai mengeluhkan menurunnya daya fokus pelajar di ruang kelas.

Yang lebih mengkhawatirkan, algoritma media sosial tidak netral.

Pakar etika teknologi Tristan Harris menjelaskan bahwa platform digital dirancang untuk memaksimalkan keterlibatan pengguna, bukan kesehatan mental mereka.

Konten yang memancing kemarahan, ketakutan, atau kontroversi cenderung lebih sering muncul karena menghasilkan interaksi tinggi.

Anak muda yang masih mencari jati diri sangat mudah terseret ke dalam arus informasi ekstrem, teori konspirasi, ujaran kebencian, atau standar hidup yang tidak realistis.

Sedikit demi sedikit, algoritma dapat membentuk cara pandang dan perilaku seseorang tanpa disadari.

Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah krisis identitas.

Psikolog perkembangan Erik Erikson menjelaskan bahwa masa remaja adalah fase penting pembentukan identitas diri. Pada tahap ini, seseorang membutuhkan ruang untuk mencoba, gagal, belajar, dan menemukan siapa dirinya sebenarnya. Namun media sosial membuat identitas menjadi pertunjukan publik.

Banyak remaja akhirnya membangun citra diri berdasarkan apa yang disukai audiens, bukan berdasarkan kejujuran terhadap dirinya sendiri. Mereka mulai bertanya bukan “siapa saya?”, melainkan “versi diri seperti apa yang paling disukai orang lain?”

Selain itu, media sosial juga merusak pola tidur generasi muda. Ahli saraf dan peneliti tidur Matthew Walker menegaskan bahwa tidur sangat penting bagi perkembangan otak, pengaturan emosi, dan kemampuan belajar.

Banyak remaja tidur larut malam karena terus menggulir layar, takut tertinggal informasi (fear of missing out), atau menunggu notifikasi baru.

Cahaya biru dari layar juga menghambat produksi melatonin, hormon yang membantu tubuh tidur.

Kurang tidur kronis dapat memengaruhi emosi, daya ingat, prestasi akademik, bahkan kesehatan mental jangka panjang.

Pada akhirnya, media sosial juga perlahan mengurangi kualitas hubungan manusia di dunia nyata. Sosiolog Sherry Turkle menyebut generasi digital sebagai “connected but alone” — terhubung, tetapi kesepian. Interaksi digital memang cepat dan praktis, tetapi tidak dapat sepenuhnya menggantikan kedalaman hubungan tatap muka.

Empati, ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan kehangatan emosional sering hilang dalam komunikasi daring.

Akibatnya, banyak anak muda memiliki banyak koneksi online tetapi merasa kosong secara emosional.

Para ilmuwan sebenarnya tidak mengatakan bahwa media sosial sepenuhnya buruk. Teknologi digital juga dapat menjadi ruang belajar, kreativitas, dan solidaritas sosial. Namun masalah terbesar terletak pada desain sistemnya yang lebih mengutamakan perhatian pengguna dibanding kesehatan psikologis mereka.

Generasi muda hari ini tumbuh dalam lingkungan yang belum pernah dialami generasi sebelumnya: dunia yang terus memantau, menilai, dan memengaruhi pikiran mereka setiap saat.

Dari teori perbandingan sosial Leon Festinger hingga teori perkembangan identitas Erik Erikson, para ahli sepakat bahwa pertumbuhan manusia membutuhkan keseimbangan, refleksi diri, hubungan nyata, dan ketenangan batin.

Sayangnya, media sosial sering kali justru bergerak ke arah sebaliknya.

Karena itu, pertanyaan terbesar hari ini bukan lagi apakah media sosial memengaruhi generasi muda, melainkan seberapa jauh masyarakat mampu melindungi mereka sebelum dampaknya menjadi terlalu dalam dan sulit diperbaiki.

Karena kita perlu sistem yang konstruktif demi kualitas kehidupan dan generasi masa depan, penulis setuju jika ada pembatasan oleh negara, juga oleh sekolah. Mari bersama perbaiki tata kelolanya.

Saatnya kita berkurban perasaan, untuk tak semua anak-anak kita diberi gadget.

Tamarunang, 27 Mei 2026

 

—–