Jantung Tersembunyi Laut Flores: Taka Bonerate, Kisah Klaners dan Lambaian Appatanah Selayar

  • Whatsapp
Penulis bersama warga Kayu Panda, M. Nasir. Pada suatu sore yang gegas (dok:Pelakita.ID)

“Intim laut adalah ruh perjuangan anak-anak Kelautan.”

Taka Bonerate adalah mahakarya biodiversitas laut Indonesia. Di sinilah ribuan spesies hidup, berkembang, dan membentuk salah satu ekosistem laut paling penting di planet ini.

PELAKITA.ID – Di lorong-lorong steril dunia akademik, seseorang bisa dengan mudah bersembunyi di balik IPK tinggi dan deretan teori hitam-putih dalam buku kuliah. Bagi mereka yang menyebut diri sebagai ilmuwan kelautan, ujian sesungguhnya tidak pernah terjadi di ruang kelas.

Ujian itu datang ketika musim gelombang tiba, ketika cakrawala hilang ditelan ombak, dan laut menuntut jawaban tentang siapa diri kita sebenarnya.

Pada April 1995, sekelompok mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas) – kami sebut Klaners – meninggalkan kenyamanan bangku kuliah dan menantang ganasnya Laut Flores.

Mereka bukan sekadar mengejar gelar sarjana, melainkan mengejar pengalaman yang jauh lebih nyata daripada diagram atau catatan kuliah: menyesap makna “Je’ne kebo” kehidupan — air putih berbuih khas Selayar yang menyimpan pelajaran tentang ketahanan, persahabatan, dan makna menjadi manusia laut.

Perjalanan itu layaknya sebuah penjelajahan yang mengubah hidup.

Bagi penulis, ekspedisi tahun 1995 bukanlah perjalanan wisata sebab dia membawa misi memindahkan juvenile kima.

Tim mahasiswa ditugaskan memindahkan 6.000 anakan kima raksasa (Tridacna derasa) menuju Pulau Rajuni. Saat menyeberangi Laut Flores, laut menghadiahkan apa yang oleh para pelaut disebut sebagai “jackpot”: mabuk laut hebat yang melumpuhkan siapa saja.

Di tengah ombak dan hujan, banyak mahasiswa terbaring lemah di palka kapal.

Tubuh mereka diguyur hujan dingin lalu dibakar panas matahari yang menyengat hanya beberapa jam kemudian. Namun di tengah rasa mual dan kelelahan itu, mereka tetap menjaga agar ribuan kima tetap hidup.

Pengalaman itu melahirkan kesadaran penting: menjadi profesional bukan soal nilai di transkrip, melainkan kemampuan menghadapi realitas dengan segala kerasnya.

“Intim laut adalah ruh perjuangan anak-anak Kelautan.”

Kedekatan dengan laut bukan romantisme kosong. Ia adalah proses pembentukan jiwa.

Tanpa pergulatan fisik dengan ombak dan ketidakpastian, seseorang hanyalah pengunjung sementara di dunia maritim. Untuk menjadi penjaga laut, seseorang harus terlebih dahulu mampu bertahan hidup di dalamnya.

Taka Bonerate Bukan Sekadar Gugusan Pulau

Membaca peta tentang Taka Bonerate tentu berbeda dengan benar-benar melintasinya. Kawasan atol terbesar ketiga di dunia ini bukan hanya destinasi wisata atau titik penyelaman eksotis, melainkan raksasa ekologi dunia.

Taka Bonerate adalah mahakarya biodiversitas laut Indonesia. Di sinilah ribuan spesies hidup, berkembang, dan membentuk salah satu ekosistem laut paling penting di planet ini.

Kesadaran akan besarnya nilai ekologis kawasan tersebut mengubah cara pandang terhadap Selayar.

Daerah ini bukan wilayah pinggiran yang jauh dari pusat peradaban, melainkan salah satu jantung biodiversitas dunia.

Selayar adalah panggung global yang sering kali belum disadari sepenuhnya oleh bangsanya sendiri.

Musim timur di Laut Flores adalah sekolah ketahanan mental terbaik. Masyarakat lokal menyebutnya “Je’ne kebo” — air putih yang bergolak akibat angin kencang dan ombak berbusa.

Dalam perjalanan laut itu, cuaca berubah ekstrem dalam hitungan menit. Langit gelap mendadak berubah menjadi panas menyilaukan. Angin yang begitu keras kadang memaksa awak kapal membuang sebagian muatan ke laut demi menjaga keseimbangan kapal.

Di dalam palka kapal, tubuh basah dan kulit terbakar matahari membuat para mahasiswa tidak lagi merasa seperti ilmuwan. Mereka merasa menjadi bagian dari elemen alam itu sendiri. Namun justru di situlah lahir kebanggaan yang tak tergoyahkan.

Hubungan emosional dengan Selayar dan Laut Flores tidak lahir dari kenyamanan, tetapi dari pengalaman ketika seseorang menolak menyerah pada ganasnya laut.

Dari Mahasiswa Menjadi Penjaga Terumbu Karang

Perjalanan tiga bulan pada 1995 itu mengubah DNA para peserta ekspedisi. Program konservasi kima bersama WWF tidak sekadar menjadi proyek penelitian, melainkan fondasi identitas profesional mereka.

Mereka kemudian dikenal sebagai “Alumni Kima” — kelompok mahasiswa yang identik dengan Selayar dan membawa semangat konservasi ke berbagai ruang pengabdian.

Pengalaman lapangan itu menjadi modal penting ketika Indonesia menjalankan program Coral Reef Rehabilitation and Management Program (COREMAP) fase pertama pada 1999–2003.

Hampir seluruh mahasiswa yang terlibat kemudian tumbuh menjadi sosok penting di bidang konservasi laut, baik sebagai aktivis NGO, peneliti, maupun aparatur sipil negara. Penulis bisa menyebut beberapa nama seperti Andi Nurjaya, Kun Praseno, Syafyudin Yusuf, Putu Widiastuti, Syafruddin Tara, Achmad Madonk Thamrin, Kemal R, Massi.

Pelajarannya sangat jelas: kesulitan di lapangan membangun rasa percaya diri yang tidak bisa diberikan oleh teori semata.

Mereka tidak sekadar mempelajari terumbu karang. Mereka menjadi penjaganya.

Selayar sebagai Ruang Kontemplasi

Sebagian orang mungkin melihat Selayar dari sisi kekurangannya: perjalanan panjang, infrastruktur yang belum sempurna, atau pembangunan wisata yang bergerak lambat. Namun memandang Selayar hanya dari aspek logistik berarti kehilangan jiwa tempat itu sendiri.

Selama bertahun-tahun menyusuri jalur Pamatata hingga Appatanah, menjelajahi lorong-lorong Kanre Santang, hingga kembali mengunjungi desa-desa seperti Paggarangang, Jammeng, Appatanah, Rajuni, Latondu, dan Pasitallu bersama keluarga, muncul kesadaran bahwa Selayar lebih dari sekadar tujuan wisata.

Kami, anak-anak Kelautan Unhas itu sangat familiar dengan Ujung Appatanah, tempat mereka menunggu perahu jemputan atau menunggu kapal kargo tujuan Flores atau sebaliknya, Paotere Makassar.

Bagi mereka, termasuk penulis, Selayar adalah “titik kembali”.

Sebuah ruang historis personal tempat seseorang selalu merasa pulang, sejauh apa pun ia telah mengembara.

Di sana terdapat kehangatan manusia, budaya maritim yang hidup, dan ketenangan yang sulit ditemukan di tengah dunia modern yang serba gaduh.

Selayar yang punya wilayah atol terbesar ketiga di dunia adalah mahakarya ekologis dan budaya yang menjadi penawar penting bagi dunia modern hari ini. Di tengah ketegangan politik, kerasnya persaingan sosial, dan kehidupan yang makin melelahkan, Laut Flores menawarkan energi yang berbeda.

Ia mengajarkan tentang persahabatan, kesederhanaan, keberanian, dan rasa syukur. Di sana, manusia diingatkan kembali tentang arti hidup yang sesungguhnya.Laut bukan hanya ruang geografis. Laut adalah ruang kontemplasi.

Di tengah luasnya Indonesia, setiap orang membutuhkan satu tempat untuk kembali mengenali dirinya sendiri.

Jika masih mencari tempat itu, cobalah melangkah ke selatan. Laut Flores masih menunggu.

Ayo ke Selayar. Ayo ke Taka Bonerate. 

Penulis Denun