Cinta Tulus di Padang Tandus

  • Whatsapp
Ilustrasi

Oleh Muliadi Saleh

PELAKITA.ID – Kolomnis Pelakita.ID, Muliadi Saleh membagikan pemaknaan, inspirasi dan pesan di balik datangnya Idul Adha 2026 ini mellaui unatai kata sastrawi. Mari simak.

Di lembah yang bahkan angin pun melintas dengan getir, Ibrahim menatap langit dengan dada yang retak oleh cinta.

Tak ada pepohonan.
Tak ada mata air.
Hanya hamparan batu
dan sunyi yang panjang.

Seorang ayah meninggalkan sebagian jantungnya,
seorang ibu memeluk takdir dengan air mata yang diam,
dan seorang bayi tertidur
di pangkuan tawakal.

Padang itu tandus,
tapi cinta mereka tulus.

Hajar, sang Ibu berdiri
dengan langkah dan keyakinan.  Sejarah diam tak menggores kata. Langit merekam utuh.
Berlari antara Shafa dan Marwah.
Bukan sekadar mencari air.
Ia memeluk harapan
agar tidak mati di dadanya.

Alangkah  agungnya cinta
ketika ia tidak banyak bertanya.
Sungguh suci kesetiaan
ketika ia tetap percaya pada kemustahilan.

Ibrahim berjalan menjauh.
Doanya tertinggal abadi  di lembah itu.
Agar tempat sunyi itu kelak dipenuhi manusia.
Agar  pasir kering melahirkan peradaban yang memuliakan Tuhan.

Langit setia menggenggam dan merawat
cinta tulus.

Hentakan kaki mungil Ismail mengguncang Bakkah.
Zam-zam menjadi mata air.
Bukan sekadar pelepas dahaga. Ini
hadiah langit
bagi hati yang sabar dan ikhlas.

Kesadaran tumbuh di lembah gersang.
Bhwa cinta sejati
tidak selalu datang dari taman yang indah.
Kadang ia lahir di padang tandus.
Di tengah kehilangan.
Di sela air mata dan pengorbanan.

Sebab cinta yang paling suci  bukan hanya memiliki.
Tapi yang rela melepaskan
demi sesuatu yang lebih abadi.

Kini dan di sini ,
jejak langkah Hajar masih diikuti jutaan manusia.
Doa Ibrahim masih hidup di setiap kiblat.
Zam-zam masih mengalir
menjadi saksi.

Bahwa di tempat yang paling tandus pun,
cinta  tulus akan selalu menemukan mata airnya.
___
Makassar, Hari Arafah- 9 Zulhijjah 1447 H/26  Mei 2026.