Ada kisah-kisah kecil yang menggambarkan beratnya kondisi tersebut. Seorang sopir truk sampah bahkan pernah mengeluhkan kondisi kendaraannya yang nyaris tidak layak jalan dan hanya mampu bergerak sangat lambat karena kerusakan teknis yang cukup parah.
PELAKITA.ID – Persoalan sampah di Kabupaten Takalar menjadi tantangan yang semakin kompleks seiring pertumbuhan kawasan perkotaan, pesisir, hingga meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat.
Di balik tuntutan lingkungan yang bersih dan sehat, kapasitas pengelolaan sampah daerah ternyata masih menghadapi banyak keterbatasan.
Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Takalar sendiri berada di Balang, Kecamatan Polongbangkeng Selatan, dengan jarak sekitar 7 hingga 11 kilometer dari pusat Kota Takalar. Jarak ini menjadi salah satu tantangan tersendiri dalam distribusi dan pengangkutan sampah dari berbagai kecamatan.
Persoalan sampah, menurut banyak pihak, memang tidak pernah selesai jika hanya ditangani secara parsial.
“Saat ini kami andalkan 9 unit saja untuk penanganan sampah di seluruh daerah Takalar yang kini ada 12 kecamatan,” kata Irwan, Plt Kadis DLHP Takalar saat bertemu Pelakita.ID, Rabu, 20 Mei 2026.
Menurut Irwan, dibutuhkan kolaborasi lintas sektor dan keterlibatan masyarakat secara lebih luas.
Kesadaran inilah yang sejak beberapa tahun lalu mendorong lahirnya berbagai aksi sosial dan lingkungan, termasuk kegiatan Kemah Gema Tasamara yang pernah digelar di kawasan Balla Barakka ri Galesong atau BBRG dengan agenda bersih-bersih sungai dan pemasangan jaring penahan sampah untuk mengurangi aliran sampah menuju sungai dan pesisir.
Upaya tersebut diakui masih bersifat sementara dan membutuhkan gerakan yang lebih masif serta berkelanjutan.
Di lapangan, kondisi petugas kebersihan dan kapasitas Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan (DLHP) Takalar juga menghadapi tantangan berat.
Saat ini, armada truk sampah yang tersedia disebut hanya 9 unit untuk melayani seluruh wilayah Takalar yang telah berkembang menjadi 12 kecamatan, termasuk wilayah kepulauan seperti Kecamatan Kepulauan Tanakeke.
Ironisnya, dari jumlah tersebut, hanya sebagian kecil armada yang benar-benar berada dalam kondisi normal dan siap operasional setiap hari. Sebagian armada mengalami kerusakan, keterbatasan perawatan, hingga persoalan teknis lainnya.
Kondisi ini membuat para petugas kebersihan sering berada dalam tekanan.
Di satu sisi mereka dituntut bekerja cepat membersihkan sampah masyarakat, namun di sisi lain mereka harus menghadapi keterbatasan kendaraan, keterlambatan dukungan operasional seperti BBM, hingga faktor kesehatan para pengemudi dan petugas lapangan.
Ada kisah-kisah kecil yang menggambarkan beratnya kondisi tersebut. Seorang sopir truk sampah bahkan pernah mengeluhkan kondisi kendaraannya yang nyaris tidak layak jalan dan hanya mampu bergerak sangat lambat karena kerusakan teknis yang cukup parah.
Di tengah segala keterbatasan itu, para petugas tetap bekerja setiap hari agar sampah tidak semakin menumpuk di lingkungan masyarakat.
Karena itu, persoalan sampah di Takalar tidak bisa hanya dibebankan kepada petugas kebersihan semata.
Dibutuhkan dukungan anggaran, penambahan armada, penguatan sistem pengelolaan sampah berbasis desa dan kelurahan, hingga partisipasi aktif masyarakat untuk mengurangi sampah dari sumbernya.
Untuk solusi segera, selain berharap dukungan para pihak mulai dari OPD hingga masyarakat desa dan kelurahan Bupati Takalar, Mohammad Firdaus Daeng Manye menyebut telah berinisiatif untuk meminta dukungan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan melalui pengadaan armada angkut seperti truk hingga kebutuhan angkutan sebagai kendaan feeder sampah dari rumah tangga ke TPA.
”Betul, kami sudah bersurat ke Pak Gubernur Sulsel untuk dukungan penambahan armada angkut sampah seperti truk,” ungkap Daeng Manye saat bertemu Pelakita.ID, Kamis, 21 Mei 2026 di Kantor Bupati Takalar.
Dia juga menyebut bahwa saat ini ada situasi di mana dukungan fiskal untuk pembangunan daerah hingga desa mengalami pengurangan. “Ini tantangan juga bagi kami, termasuk penanganan aspek sanitasi dan kesehatan lingkungan terkait sampah ini,” ucap Daeng Manye.
Meski demikian, kata Daeng Manye, di tengah segala keterbatasan tersebut, satu hal yang tetap penting dijaga adalah semangat untuk terus bergerak.
”Sebab semakin lama sampah dibiarkan menumpuk, semakin besar pula dampaknya terhadap kesehatan lingkungan, kawasan pesisir, pariwisata, hingga kualitas hidup masyarakat Takalar secara keseluruhan,” kuncinya.
Solusi ke depan
Redaksi









