Pilihan mengganti karangan bunga dengan tanaman hidup dinilai menjadi alternatif sederhana yang lebih ramah lingkungan sekaligus memiliki nilai kebermanfaatan jangka panjang.
PELAKITA.ID – Di tengah meningkatnya persoalan sampah perkotaan dan penuh sesaknya Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tamangapa, Anggota DPRD Sulawesi Selatan, Yeni Rahman, memilih menyampaikan pesan lingkungan dengan cara yang sederhana namun bermakna.
Saat merayakan kelulusan magisternya di Universitas Negeri Makassar (UNM), Yeni tidak meminta karangan bunga seperti lazimnya tradisi perayaan akademik dan seremonial.
Ia justru mengajak kolega, sahabat, dan para kerabat untuk mengirim tanaman hidup sebagai bentuk ucapan selamat.
Ajakan itu mendapat sambutan hangat. Area Pascasarjana UNM pun dipenuhi aneka tanaman hias hijau yang menghadirkan suasana lebih segar, alami, dan menenangkan.
Bagi Yeni Rahman, langkah kecil tersebut bukan sekadar simbol perayaan, melainkan bentuk kampanye nyata untuk mengurangi sampah seremonial yang selama ini sering berakhir di tempat pembuangan setelah hanya digunakan dalam waktu singkat.
“Karangan bunga biasanya hanya bertahan beberapa hari sebelum menjadi sampah. Padahal, tanaman hidup bisa terus dirawat, memberi manfaat, mempercantik lingkungan, bahkan menghadirkan udara yang lebih sehat,” demikian pesan yang ingin disampaikan melalui inisiatif tersebut.
Di banyak kota besar, termasuk Makassar, sampah dekorasi dan material seremonial menjadi bagian dari persoalan lingkungan yang terus meningkat. Bunga papan, styrofoam, plastik, hingga material sintetis lainnya kerap berakhir sebagai limbah yang sulit terurai.
Karena itu, pilihan mengganti karangan bunga dengan tanaman hidup dinilai menjadi alternatif sederhana yang lebih ramah lingkungan sekaligus memiliki nilai kebermanfaatan jangka panjang.
Tanaman tidak hanya menjadi simbol ucapan selamat, tetapi juga dapat terus tumbuh, menghijaukan ruang, menyerap polusi, dan menciptakan suasana yang lebih sehat bagi lingkungan sekitar.
Inisiatif Yeni Rahman juga memperlihatkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Perubahan budaya bisa dimulai dari kebiasaan kecil dalam kehidupan sehari-hari, termasuk cara masyarakat merayakan momen penting.
Di tengah kesadaran publik yang semakin tinggi terhadap isu perubahan iklim, pengelolaan sampah, dan kualitas lingkungan perkotaan, gerakan seperti ini menjadi contoh bahwa perayaan tidak harus meninggalkan jejak limbah berlebihan.
Sebaliknya, perayaan justru dapat menjadi ruang untuk menebar manfaat yang lebih panjang: menghadirkan keindahan, kepedulian sosial, dan lingkungan yang lebih hijau untuk masa depan.









