PELAKITA.ID – Serdang Bedagai, 20 April 2026 – Di tengah perairan Selat Malaka yang menjadi jalur perdagangan tersibuk di dunia, terdapat sebuah permata tersembunyi bernama Pulau Berhala, Kabupaten Serdang Bedagai.
Baru-baru ini, tim praktikum mata kuliah Koralogi dari Jurusan Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Kelautan, Universitas Riau, telah melaksanakan monitoring kesehatan terumbu karang di pulau yang menyandang status wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) tersebut.
Kegiatan yang berlangsung pada tanggal 17 April 2026 ini bukan sekadar tugas akademik, melainkan misi strategis untuk mendokumentasikan “jasa ekosistem” yang disediakan oleh benteng alami Indonesia di perbatasan yang berbatasan langsung dengan Malaysia dan perairan internasional.
Membedah Jasa Ekosistem dan Biodiversitas
Pulau Berhala memiliki nilai ekologis yang sangat tinggi. Selama kegiatan, tim mahasiswa menemukan bukti bahwa ekosistem di sini masih berfungsi dengan sangat baik.
Terumbu karang tidak hanya berfungsi sebagai substrat dasar laut, tetapi juga menyediakan jasa ekosistem yang krusial: sebagai pemecah gelombang alami yang melindungi garis pantai dari ancaman abrasi dan badai, serta sebagai habitat krusial bagi berbagai spesies laut.
“Kehadiran biota karismatik seperti Giant Trevally (GT), kawanan lumba-lumba yang melintasi perairan, serta penyu yang menjadikan pantai pulau ini sebagai lokasi pendaratan dan peneluran, adalah indikator biologis tingkat tinggi,” ujar Yabes Nathan perwakilan tim selam praktikum.
“Keberadaan predator puncak (top predators) seperti ikan GT menunjukkan bahwa jaring-jaring makanan di perairan Pulau Berhala masih sangat stabil dan sehat. Kami mendapati bahwa kompleksitas terumbu karang di kedalaman 5 hingga 7 meter merupakan rumah bagi keanekaragaman hayati yang menopang kehidupan laut di jalur internasional ini,” sebutnya.

Metodologi Ilmiah yang diterapkan Dosen pengampu mata kuliah, Rizki Oktavian, adalah dengan menekankan pentingnya akurasi data dalam studi kelautan.
“Kami tidak main-main dalam pengumpulan data. Kami menggunakan metode Line Intercept Transect (LIT) untuk melakukan survey monitoring tutupan karang. Setiap sentimeter transek didokumentasikan menggunakan kamera bawah air untuk memastikan analisis pasca-lapangan memiliki validitas data yang tinggi,” jelas Rizki.
Selain tutupan fisik, tim juga berfokus pada kesehatan fisiologis karang.
“Kami mengambil sampel jaringan karang untuk meneliti kelimpahan Zooxanthellae di laboratorium. Kelimpahan alga simbion ini adalah indikator sensitif terhadap stres lingkungan. Dengan data ini, kami dapat memprediksi ketahanan karang terhadap perubahan iklim global yang dampaknya paling terasa di perairan terbuka seperti Selat Malaka,” tambahnya.

Sinergi dengan Penjaga Perbatasan Perjalanan menuju Pulau Berhala bukanlah tanpa tantangan.
Tim harus menghadapi cuaca buruk dan badai di sekitar perairan Bagan Kuala, yang memaksa perjalanan tertunda selama 1,5 jam demi keselamatan. Namun, setelah cuaca membaik, tim tiba dan disambut hangat oleh Satgas Marinir Pulau Berhala.
Komandan Satgas Marinir, Lettu Eko, memberikan kesaksian mengenai kondisi lapangan.
“Berdasarkan pemantauan rutin kami, kondisi terumbu karang di Pulau Berhala memang masih terjaga dengan sangat baik dan alami,” ujar Lettu Eko.
“Sebagai garda terdepan, kami menjaga wilayah ini tidak hanya dari ancaman kedaulatan, tetapi juga dari praktik destruktif seperti penangkapan ikan ilegal. Temuan mahasiswa mengenai penyu yang menetas di sini adalah bukti nyata bahwa upaya pelestarian lingkungan yang kami kawal membuahkan hasil,” tegas Lettu Eko.
Implikasi Masa Depan
Data yang dikumpulkan oleh mahasiswa saat ini sedang dalam tahap pengolahan di Laboratorium Biologi Laut.
Hasil dari studi ini diharapkan akan menjadi database penting bagi Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai maupun pihak terkait dalam merumuskan kebijakan konservasi maritim.
Menurut Rizki Oktabian, ekspedisi ini membuktikan bahwa sinergi antara akademisi dan aparat keamanan di wilayah perbatasan dapat menghasilkan kontribusi nyata bagi ilmu pengetahuan.
“Pulau Berhala bukan hanya sekadar titik koordinat di peta perbatasan, melainkan sebuah laboratorium alam yang menyimpan rahasia tentang bagaimana ekosistem laut yang sehat mampu menjadi benteng kedaulatan bangsa,” jelasnya lagi,
___
Tentang Laboratorium Biologi Laut:
Laboratorium Biologi Laut, Jurusan Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan dan Kelautan, Universitas Riau, berkomitmen untuk melakukan penelitian berbasis lapangan__ (field-based research) guna mendukung pengelolaan sumber daya pesisir dan laut Indonesia yang berkelanjutan.
Kontak Media: Rizki Oktavian, S.Pi., M.Si, Dosen Jurusan Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan dan Kelautan, Universitas Riau. Email: rizkioktavian@lecturer.unri.ac.id









