Mustamin Raga | OPOSISI, Napas Demokrasi yang Sering Dikebiri

  • Whatsapp
Tak ada pertanyaan, tak ada penolakan—hanya tepuk tangan dan anggukan. Di ruang seperti itu, kebijakan dapat meluncur tanpa rem. Anggaran digelontorkan tanpa pertimbangan matang. Proyek-proyek dibungkus jargon pembangunan, namun menyimpan kepentingan sempit di dalamnya.

Ada oposisi yang digerakkan oleh sakit hati, bukan cinta pada negeri. Mereka tidak membangun diskursus, melainkan merusak kepercayaan publik.

PELAKITA.ID – Di dalam tubuh demokrasi yang sehat, oposisi adalah detak jantung yang menandakan kehidupan.

Ia bukan borok yang harus ditutupi, bukan pula duri yang mesti dicabut, melainkan bagian esensial dari sistem yang memungkinkan rakyat berbicara lebih dari sekadar sorak dan pujian.

Dalam perjalanan kekuasaan, oposisi hadir sebagai pengingat: bahwa kuasa bukan milik abadi, bahwa jabatan bukan warisan suci.

Ia adalah suara dari seberang meja—yang meski tak ikut menandatangani kebijakan, tetap memiliki hak, bahkan kewajiban, untuk bertanya, mengkritik, dan bila perlu, menolak.

Betapa sering peran mulia ini disalahpahami. Oposisi kerap disandingkan dengan pengacau, pengganggu, bahkan pengkhianat. Padahal, dalam demokrasi yang sehat, oposisi bukan musuh, melainkan mitra kritis dalam membangun tata kelola yang baik.

“The function of opposition is to oppose, yes—but also to illuminate.”
— Nigel Lawson

Ketika Semua Setuju, Rakyat Perlu Curiga

Ada satu hal yang patut diingat: ketika seluruh kekuatan politik bersatu dalam satu barisan kekuasaan, rakyat justru perlu waspada. Dalam kesatuan yang terlalu mulus, sering tersembunyi keseragaman yang dipaksakan.

Tak ada pertanyaan, tak ada penolakan—hanya tepuk tangan dan anggukan. Di ruang seperti itu, kebijakan dapat meluncur tanpa rem. Anggaran digelontorkan tanpa pertimbangan matang. Proyek-proyek dibungkus jargon pembangunan, namun menyimpan kepentingan sempit di dalamnya.

Prof. R. Suyatno, pakar hukum tata negara, mengibaratkan:

“Pemerintah tanpa oposisi ibarat pengemudi tanpa kaca spion: ia tak tahu apakah yang ditinggalkannya terbakar, atau ada yang mengejarnya dengan alasan yang benar.”

Senada dengan itu, peraih Nobel Ekonomi Amartya Sen menulis:

“A responsive government is born not out of unity, but out of public reasoning, debates, and criticism.”

Oposisi karena Cinta, Bukan Dendam

Oposisi yang sehat tumbuh dari cinta, bukan dendam. Ia lahir dari kerinduan akan pemerintahan yang adil, bukan dari luka karena kalah dalam pemilu. Ia bergerak untuk memperbaiki, bukan menggagalkan.

Karena itu, oposisi harus berdiri di atas fondasi etis—ditopang data, logika, dan kepedulian.

Kita juga tak bisa menutup mata: ada oposisi yang lahir dari kebencian. Dr. Larasati Widjaya, analis politik dari Universitas Paramadina, menyebut:

“Ada oposisi yang digerakkan oleh sakit hati, bukan cinta pada negeri. Mereka tidak membangun diskursus, melainkan merusak kepercayaan publik.”

Oposisi semacam ini hanya ingin menggoyang kapal, tanpa peduli apakah semua penumpangnya tenggelam. Pemerintah akan selalu dianggap salah, bahkan ketika berada di jalur yang benar.

Vaclav Havel, tokoh oposisi sekaligus mantan Presiden Ceko, pernah berkata:

“Oposisi sejati bukan sekadar penyangkal, tetapi pembawa nilai moral dalam kekuasaan yang buta.”

Parlemen: Antara Moral dan Narsisme Kekuasaan

Di parlemen—tempat seharusnya suara moral rakyat bergema—sering justru terjadi pengkerdilan peran oposisi. Mereka yang semula kritis perlahan bungkam setelah mendapat jatah kursi, proyek, atau sekadar “jatah diam”.

Kritik dibungkam bukan dengan argumen, melainkan dengan fasilitas. Siapa yang tetap bersuara, kerap dikucilkan atau dilabeli sebagai anti-pembangunan.

George Orwell dalam Politics and the English Language menulis:

“Political language is designed to make lies sound truthful and to give an appearance of solidity to pure wind.”

Kritik pun menjadi tabu. Oposisi diberi label “pembangkang”, “tidak nasionalis”, bahkan “anti-agama”. Padahal, yang mereka perjuangkan sederhana: memastikan pembangunan tidak membunuh keadilan, dan pertumbuhan tidak meminggirkan kemanusiaan.

Demokrasi Bukan Arena Senyap

Demokrasi sejati hidup dari perbedaan pendapat—dari debat yang sehat, dari argumen yang beradu. Bukan dari keseragaman pujian atau propaganda.

Barack Obama pernah menegaskan:

“Democracy does not require uniformity. Our founders argued, they quarreled—and they compromised. That’s how we got here.”

Demokrasi bukan arena senyap. Ia ibarat orkestra: ada yang memimpin, ada yang memberi tempo, namun setiap instrumen berhak bersuara, agar simfoni yang lahir benar-benar indah—dan adil.

Dengarkan Suara dari Arah Berbeda

Oposisi adalah suara dari arah yang berbeda, namun menuju tujuan yang sama: keadilan, kemakmuran, dan kemanusiaan. Ia mungkin tak mengenakan jas yang sama, tak duduk di meja yang sama, tetapi hatinya tetap memikirkan negeri yang sama.

Karena itu, jangan tergesa-gesa menuduh oposisi sebagai musuh. Cermati niatnya, uji datanya, dan dengarkan suaranya. Bisa jadi, di balik suara yang terdengar mengganggu, terselip cinta yang lebih tulus daripada pujian yang memabukkan.


Gerhana Alauddin, Hari Kartini 2026