Kolom Prof Andi Iqbal Burhanuddin: Spirit OMOTENASHI Jepang dan kehadiran negara

  • Whatsapp
Prof Andi Iqbal Burhanuddin berfoto di bandara Kulon Progo Jogjakarta (dok: istimewa)

DPRD Makassar

Guru Besar Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan FIKP Unhas, Prof Andi Iqbal Burhanuddin berbagi inspirasi tentang spirit OMOTENASHI dari Negeri Sakura. keramahan ‘lokal’ Jepang seperti mengembalikan barang-barang tak bertuan yang patut direnungkan, ‘oase inspirasi’ menyikapi realitas sosial kita di kekinian yang kian rentan.   

Menarik. Yuk simak. 

Read More

 

PELAKITA.ID – Ramadan hari ke-17, di belakang sandaran kursi maskapai penerbangan  menuju bandara Kulon Progo sy membaca tulisan “Mohon dijaga barang bawaan anda, kami tidak bertanggungjawab atas kehilangan dan kerusakan”.

Tulisan peringatan itu  mengingatkan saya pada bulan yang sama, Ramadan 25-an tahun yang lalu ketika mengalami peristiwa kehilangan barang (tercecer) semasa studi di Jepang.

Ketika libur weekend mengobati kejenuhan penelitian di kampus, tas saya yang tercecer,  tempat itu letaknya cukup jauh dari apartemen kami.

Yang unik dan mengherankan saya barang tersebut sudah berada di rumah 2 hari kemudian dalam keadaan utuh dan terbungkus plastik rapi.

Kehilangan barang, tas atau dompet bukanlah masalah besar di Jepang yang notabene negara  yang tidak mewajibkan seluruh warga negaranya untuk memeluk dan menjadikan suatu agama sebagai sebuah identitas.

Rupanya kejadian yang tidak umum kita temukan seperti itu adalah salah satu bentuk spirit pelayanan dan keramahtamahan negeri Jepang terhadap warganya dan disebut dengan “Omotenashi”

Omotenashi terdiri dari dua karakter kanji, yaitu “omote” yang berarti “depan, wajah yang ingin ditampilkan”, dan “nashi” yang berarti “tidak ada”,  kosakata bahasa Jepang yang merujuk pada keramahtamahan, dalam bahasa Inggris disebut hospitality atau melayani dengan sepenuh hati.

Menurut sejarahnya, Sen no Riky (1522-1591) yang memulai tradisi chado atau “upacara minum teh” dan meninggalkan legacy filosofi pembelajaran tentang omotenashi tersebut untuk menjamu tamunya sehari-hari.

Keramahan lokal seperti mengembalikan barang-barang tak bertuan sudah melekat erat di hati masyarakat Jepang karena telah diajarkan sejak usia dini.

Mereka diajarkan bahwa mengembalikan barang temuan ke polisi atau pihak berwajib merupakan tugas warga Negara. Bahkan hukum telah megaturnya, yakni barang yang ditemukan harus dikembalikan ke pihak berwajib jika pemiliknya tidak ditemukan.

Orang Jepang menjadikan keramahan, nilai-nilai moral sebagai panduan hidup. Benar dan salah tidak akan dinilai dari agama, namun nilai-nilai kemanusiaan.

Mereka tidak akan mau meladeni jika diajak berbicara lebih dalam mengenai agama, meski sebagian orang Jepang  menyebut dirinya Buddha.

Memang, kejujuran yang diajarkan dalam semua agama jadi faktor menentukan pengembalian barang hilang, tetapi Jepang juga memiliki sistem pengembalian barang yang rapi.   Orang-orang di Jepang mendapatkan kembali barang mereka yg hilang karena adanya hukum dan norma, bukan gagasan intrinsik tentang kejujuran.

Baru-baru ini sebuah tayangan video NHK World menarik  tentang  sistem pengembalian barang hilang di subway Tokyo, dapat ditemukan kembali dengan mudah, utuh, tanpa kekurangan apa pun.

Hal tersebut dimungkinkan karena terdapat sistem dan petugas khusus bertanggungjawab yang mengumpulkan dan mengorganisasi barang-barang hilang.

Hampir setiap harinya petugas tersebut berjaga, menemukan, dan mengamankan sebanyak 2 ribu barang hilang milik penumpang kereta dari 179 stasiun.   Mereka mengumpulkan, diorganisasi secara rapi dan baik di satu ruangan penyimpanan khusus.

Tercatat tahun 2018, lebih dari 545.000 kartu identitas dikembalikan kepada pemiliknya oleh Polisi Metropolitan Tokyo.  Ada 130 ribu ponsel dan 240 ribu dompet yang ditemukan dan barang itu seringkali dikembalikan pada hari yang sama.

Apa yg dilakukan petugas kereta bawah tanah Tokyo terhadap barang hilang adalah bentuk keramahan dan pelayanan sepenuh hati, menjadikannya  negara dengan pelayanan yang terbaik dunia.

Spirit itu yang disebut sebagai Omotenashi adalah cara hidup di Jepang, berfokus untuk selalu memberikan layanan dan keramahan terbaik meskipun tidak menerima imbalan apa pun.

Keramahan khas Jepang atau Omotenashi itu rupanya sudah diadopsi dan dijalankan dalam bidang usahanya  atau kepada pelanggan dan mitra bisnis.

Sebenarnya Indonesia juga dikenal dengan keramahan dan sopan santun warganya yang kental dari  citra keramahan dengan adat ketimurannya.  Namun, belakangan ini citra sopan santun orang Indonesia agak terusik.

Musababnya, pada Februari 2021 lalu, perusahaan raksasa yang bergerak di bidang teknologi, Microsoft, merilis laporan hasil  studi tahunannya, “Civility, Safety, and Interactions Online 2020”. 

Hasil yang dirilis perusahaan software raksasa itu untuk mengukur tingkat kesopanan digital global berupa perilaku berselancar di dunia maya, termasuk dalam pengukuran ini adalah risiko terjadinya penyebarluasan berita hoaks, ujaran kebencian, diskriminasi, bullying, atau tindakan sengaja untuk memancing kemarahan.

Dalam laporan terbaru Digital Civility Index (DCI) tersebut, dari total 32 negara yang disurvei Indonesia menduduki peringkat ke-29.

Afrika  Selatan menduduki peringkat teratas sebagai negara yang paling tidak ramah di dunia, sementara Indonesia menduduki peringkat Negara yang paling tidak ramah atau tidak sopan se Asia.

Sebuah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa “Barang siapa yang terhalangi dari bersikap ramahtamah, maka dia telah terhalang dari seluruh bentuk kebaikan”.

Sugoii!

 

Jogjakarta, 19 April 2022

 

Related posts