Oleh Mustamin Raga
PELAKITA.ID – Kini sudah Oktober. Menurut kalender yang kita warisi dari para leluhur, puncak kemarau semestinya telah lewat dan bumi bersiap menyambut hujan pertama, saat tanah yang haus menghirup bau basahnya sendiri.
Namun di luar ruangan, udara masih terpanggang pada kisaran 33 hingga 35 derajat Celsius, dan langit seperti lupa pada janjinya. Kekeringan merayap di mana-mana.
Waduk menyusut hingga PLTA kekurangan air, dan listrik pun padam bergiliran. Api melahap rumah, lahan, dan hutan dengan kerakusan yang kian akrab. Sawah-sawah yang baru ditanami kembali merekah, sebab para petani masih setia pada pola tanam lama yang kini tak lagi dibenarkan oleh musim. Air baku di sungai-sungai kian tipis, dan layanan air minum ikut tersengal.
Alam sedang berbicara dengan bahasa yang makin lantang, tetapi tak semua orang sempat diajari cara mendengarnya.
Seorang petani di pesisir Jawa tidak membutuhkan grafik suhu global untuk tahu bahwa ada yang salah dengan musim. Ia merasakannya di tanah yang retak terlalu lama, di hujan yang datang tanpa janji, di benih yang ditanam menurut kalender leluhur tetapi gagal tumbuh.
Nelayan di Selat Makassar pun membaca hal yang sama pada angin yang tak lagi setia pada bulannya. Mereka mengalami perubahan iklim jauh sebelum kata itu sampai kepada mereka.
Di sinilah letak realitanya yang paling jujur. Mereka yang paling dahulu merasakan justru yang paling akhir diberi bahasa untuk memahami.
Kesadaran tentang perubahan iklim selama ini berdiam di ruang seminar, jurnal, dan meja diskusi kelas menengah terdidik. Maksud saya kelas menengah secara intelektual, bukan semata secara ekonomi. Pengetahuan itu bersirkulasi di antara orang-orang yang sudah saling mengerti, sementara mereka yang tubuhnya bersentuhan langsung dengan alam hanya menerima akibatnya, tanpa peta, tanpa nama, dan tanpa persiapan.
Para pemikir komunikasi menyebutnya knowledge gap. Informasi tidak mengalir merata. Ia mengendap pada mereka yang sudah memiliki modal pendidikan, lalu menjauh dari yang paling membutuhkannya. Kesadaran yang berhenti di lapisan atas hanyalah wacana. Ia baru menjadi kekuatan ketika turun ke tanah, ke perahu, dan ke dapur orang-orang yang hidupnya bergantung pada cuaca.
Belajar dari Tanah yang Pernah Tenggelam
Sejarah adaptasi iklim di banyak negara hampir selalu bermula dari luka. Kesadaran samgat jarang lahir dari kebijaksanaan, ia lebih sering lahir dari kehilangan.
Belanda adalah contoh yang paling sering dikutip. Banjir besar tahun 1953 menewaskan lebih dari seribu orang dan merendam sebagian besar wilayah barat daya negeri itu. Dari trauma itu lahir Delta Works, rangkaian tanggul dan bendungan raksasa. Namun yang lebih menarik adalah perubahan cara berpikirnya. Pada awal 2000-an, Belanda sadar bahwa melawan air dengan tembok yang terus ditinggikan tidak akan selamanya berhasil.
Lahirlah program Room for the River, yaitu memberi ruang bagi sungai untuk meluap di tempat yang memang sudah disiapkan. Ini adalah adaptasi sebagai kerendahan hati bahwa manusia tidak menaklukkan alam, ia belajar berunding dengannya.
Bagi saya hal itu juga merupakan pergeseran filosofis yang sangat dalam, dari hasrat menguasai menuju seni berdamai.
Bangladesh menunjukkan bahwa adaptasi tidak harus menunggu kekayaan.
Setelah Topan Bhola 1970 yang merenggut ratusan ribu nyawa, negeri miskin ini membangun Cyclone Preparedness Programme, jaringan relawan desa yang bertugas menyebarkan peringatan dini dari rumah ke rumah, lengkap dengan bendera sinyal, pengeras suara, dan tempat perlindungan. Hasilnya, korban jiwa pada topan-topan berikutnya menurun drastis.
Para relawannya bukan ilmuwan, mereka adalah para tetangga yang saling percaya. Di sini terlihat satu pelajaran sosiologis yang sangay penting bahwa pengetahuan lebih mudah diterima ketika dibawa oleh wajah yang dikenal. Petani Bangladesh juga mengembangkan kebun terapung di atas eceng gondok untuk bertani di tengah banjir. Itu kearifan lokal yang kemudian dipelajari lembaga-lembaga internasional.
Kuba menawarkan pelajaran tentang disiplin kolektif. Negara ini kerap dilanda badai besar, namun korban jiwanya relatif kecil. Sebabnya bukan teknologi canggih, melainkan sistem pertahanan sipil yang menjangkau tingkat lingkungan, latihan evakuasi yang rutin, dan pendidikan kebencanaan yang masuk ke sekolah.
Terlepas dari kontroversi politiknya, ia memperlihatkan bahwa kesiapsiagaan bisa menjadi budaya, bukan sekadar prosedur.
Jepang menanamkan hal serupa lewat bosai, pendidikan kebencanaan yang diwariskan dari bangku sekolah hingga latihan tahunan warga.
Filipina, yang setiap tahun diterpa belasan topan, mengesahkan Climate Change Act pada tqhun 2009 dan mengumpulkan dana khusus bagi komunitas rentan agar mereka dapat membiayai adaptasi sendiri.
Vietnam bergerak di Delta Mekong dengan mengajak petani beralih dari padi ke budidaya udang dan sistem tanam yang tahan salinitas, sesuatu yang tentu tidak bisa dipaksakan tanpa pelibatan petani itu sendiri.
Peran Para Intelektual Menerjemahkan, Bukan Menggurui
Dari berbagai kisah itu tampak satu benang merah. Pengetahuan ilmiah baru berdaya ketika ada yang bersedia menerjemahkannya. Peran intelektual bukan berdiri di mimbar dan menyampaikan angka. Peran itu menyerupai peran sastrawan yakni mengubah statistik menjadi cerita, dan cerita menjadi kesadaran.
Dalam tradisi ilmu komunikasi, ini disebut framing. Kenaikan suhu satu setengah derajat tidak menggerakkan siapa pun. Tetapi “musim tanam yang bergeser dua minggu, dan apa yang bisa kita lakukan tentang itu” adalah bahasa yang jauh lebih dimengerti petani. Para ilmuwan dan penyuluh yang berhasil adalah mereka yang turun ke lapangan, duduk di warung kopi, mendengar sebelum berbicara, dan menghormati pengetahuan lokal sebagai mitra, bukan sebagai takhayul yang perlu dikoreksi.
Negara dan Seluruh Pemangku Kepentingan
Kesadaran tanpa dukungan kebijakan akan menjadi nasehat kosong. Negara-negara yang telah berhasil bersahabat dengan perubahan iklim sangat memahami bahwa adaptasi iklim adalah kerja bersama.
Pemerintah menyusun kajian kerentanan, lembaga riset menerjemahkan data, pemerintah daerah menjadi jembatan, organisasi masyarakat sipil mendampingi, dan sektor swasta ikut menanggung.
Yang menentukan adalah satu hal yakni bahwa adaptasi dibangun ke dalam program yang dibiayai, bukan ditempelkan sebagai pelengkap. Irigasi, asuransi pertanian, tata ruang pesisir, dan bantuan perikanan semuanya dirancang dengan membaca masa depan iklim, bukan masa lalunya.
Indonesia sebenarnya telah memiliki sejumlah pijakan. BMKG mengembangkan Sekolah Lapang Iklim untuk petani dan nelayan agar mampu membaca prakiraan cuaca dan musim.
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan membina Program Kampung Iklim yang mendorong warga desa melakukan adaptasi dan mitigasi dari tingkat tapak. Ada pula rencana aksi nasional adaptasi perubahan iklim yang diintegrasikan ke dalam perencanaan pembangunan.
Persoalannya, jangkauan program-program ini masih belum sebanding dengan luas negeri dan jumlah warga yang terdampak. Banyak yang berhenti sebagai proyek yang selesai ketika anggarannya juga selesai.
Menyalakan Lampu di Rumah Paling Jauh
Albert Camus pernah menulis bahwa kita harus membayangkan Sisifus berbahagia. Barangkali demikian pula kita perlu membayangkan petani dan nelayan kita tidak sebagai korban pasif, melainkan sebagai subjek yang mampu beradaptasi jika diberi bahasa, alat, dan kepercayaan.
Mereka bukan sekadar objek yang harus “disadarkan”. Mereka menyimpan ribuan tahun kearifan membaca alam yang justru dibutuhkan ilmu pengetahuan modern.
Maka tugas kita, para penulis, ilmuwan, pembuat kebijakan, dan siapa pun yang telanjur tahu, adalah memastikan bahwa pengetahuan tidak menjadi harta pribadi. Kesadaran iklim yang hanya hidup di ruang diskusi ibarat lampu yang menyala di ruang tamu sementara rumah-rumah di ujung jalan tetap gelap.
Tantangannya bukan menambah terang di tempat yang sudah terang, melainkan menarik kabel sampai ke rumah yang paling jauh. Sebab iklim tidak mengenal strata. Hujan jatuh sama derasnya di atas atap seng maupun atap marmer. Yang berbeda hanyalah siapa yang sempat bersiap-siap.
Makassar, 8 Oktober 2026









