- Di bawah kepemimpinan M. Riza Damanik, ISKINDO aktif mendorong penguatan SDM kelautan dan memperluas sinergi dengan pemerintah, perguruan tinggi, organisasi profesi, BUMN, swasta, serta lembaga penelitian.
- Akan digelar Pra-Kongres IV ISKINDO 2026 pada 9–11 Oktober 2026 di Jakarta secara hybrid. Mengusung tema “Transformasi Pembangunan Maritim Nasional menuju Ekonomi Biru yang Berkeadilan dan Inklusif”, forum ini menyoroti pembangunan kelautan yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga keadilan, inklusivitas, jejaring, dan keberlanjutan.
JAKARTA, PELAKITA.ID — Laut Indonesia bukan sekadar ruang geografis yang membentang di antara ribuan pulau, tetapi ruang hidup, sumber pangan, pusat ekonomi, ekosistem, sekaligus bagian penting dari kedaulatan bangsa.
Dengan demikian, pembangunan maritim membutuhkan organisasi profesi yang mampu mempertemukan pengetahuan, pengalaman lapangan, kepentingan masyarakat pesisir, dan kebutuhan kebijakan nasional.
Di arena itulah Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia (ISKINDO) menempatkan dirinya sebagai organisasi yang peduli terhadap masa depan maritim Indonesia.
ISKINDO merupakan organisasi profesi yang menghimpun alumni dan sarjana kelautan dari berbagai daerah di Indonesia. Organisasi ini tidak hanya menjadi ruang silaturahmi dan pengembangan profesi, tetapi juga wadah pengembangan keilmuan, penguatan profesi, serta kontribusi terhadap pembangunan kelautan nasional.
Pada periode 2021–2026, ISKINDO berada di bawah kepemimpinan M. Riza Damanik, Ph.D., yang terpilih sebagai Ketua Umum melalui Kongres III ISKINDO pada September 2021. Dalam periode yang sama, Riza juga menjalankan kiprah pemerintahan di bidang pemberdayaan ekonomi masyarakat, dan kini tercatat sebagai Deputi Bidang Usaha Mikro Kementerian UMKM.
Persilangan antara kepemimpinan organisasi profesi kelautan dan pengalaman pemerintahan di bidang usaha mikro memberi konteks menarik bagi perjalanan ISKINDO.
Isu maritim tidak berdiri sendiri, sebab sebagian besar masyarakat pesisir menggantungkan kehidupan pada aktivitas ekonomi skala kecil, termasuk perikanan tangkap, pengolahan hasil laut, perdagangan, jasa, dan berbagai usaha berbasis sumber daya pesisir.
Karena itu, perhatian terhadap kelautan juga berarti perhatian terhadap ekonomi masyarakat yang hidup di sekitar laut. Dalam perspektif tersebut, penguatan nelayan, hilirisasi perikanan, pengembangan usaha pesisir, peningkatan nilai tambah, serta penguatan kapasitas sumber daya manusia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari agenda maritim Indonesia.
Jejak perhatian Riza terhadap isu tersebut juga terlihat ketika ia menyampaikan pentingnya melibatkan nelayan kecil dalam hilirisasi perikanan. Menurutnya, industri perikanan sangat bergantung pada perikanan rakyat sehingga penguatan sektor hilir membutuhkan hulu yang sehat dan nelayan kecil yang tetap menjadi pelaku utama.
Di bawah kepemimpinan Riza, ISKINDO juga mendorong penguatan sumber daya manusia kelautan, sinergi dengan kementerian dan lembaga, perguruan tinggi, organisasi profesi, BUMN, swasta, serta lembaga penelitian.
Agenda penguatan lembaga sertifikasi profesi jasa kelautan dan perluasan peran sarjana kelautan dalam inovasi dan teknologi menjadi bagian dari gagasan yang pernah didorong organisasi tersebut.

Pra-Kongres IV ISKINDO 2026
Semangat itu berlanjut dalam agenda Pra-Kongres IV ISKINDO 2026 yang akan berlangsung 9–11 Oktober 2026 di Jakarta dengan dukungan pelaksanaan secara daring.
Menurut Sekjen ISKINDO, Ady Candra, forum ini mengusung tema “Transformasi Pembangunan Maritim Nasional menuju Ekonomi Biru yang Berkeadilan dan Inklusif”, sebuah tema yang memperlihatkan perhatian ISKINDO terhadap arah pembangunan kelautan Indonesia yang tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga keadilan dan inklusivitas.
“Tema tersebut menjadi penting ketika Indonesia menghadapi tantangan besar dalam mengelola ruang laut dan pesisir. Pertumbuhan ekonomi biru harus berjalan bersama perlindungan ekosistem, kepastian akses masyarakat pesisir, penguatan nelayan, adaptasi perubahan iklim, pengembangan pulau-pulau kecil, hingga penguatan kedaulatan dan kepentingan Indonesia di ruang laut,” terangnya.
Bagi ISKINDO, ujar Ady, perhatian terhadap persoalan tersebut tidak cukup dilakukan melalui forum internal organisasi.
“Pengetahuan para sarjana kelautan perlu dibawa ke ruang kebijakan dan pembangunan, sehingga ilmu kelautan tidak berhenti di kampus, tetapi hadir dalam pengambilan keputusan yang menyangkut kehidupan masyarakat dan masa depan sumber daya laut Indonesia,” jelasnya.
Karena itu, Pra-Kongres IV ISKINDO menghadirkan sejumlah agenda yang mempertemukan perspektif perguruan tinggi, pemerintah, dan para profesional kelautan. Rektor Universitas Hasanuddin Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc., dijadwalkan menyampaikan gagasan mengenai penguatan riset, inovasi, dan pendidikan tinggi kelautan sebagai fondasi transformasi maritim nasional.
Sementara Rektor Universitas Maritim Raja Ali Haji Prof. Dr. Agung Dhamar Syakti, S.Pi., DEA., membahas pembangunan pesisir dan pulau-pulau kecil sebagai pusat pertumbuhan ekonomi biru yang inklusif.
Forum tersebut juga menghadirkan pemerintah dan akademisi dalam Talkshow Kelautan yang membahas berbagai isu strategis, mulai dari ekonomi biru, konservasi, pembangunan pesisir, hingga masa depan tata kelola kelautan Indonesia.
Alumni Kelautan Unhas angkatan 89, Kamaruddin Azis yang juga founder Pelakita.ID dan kanal maritim berbahasa Inggris, maritimeposts.com dipercaya menjadi moderator, dengan narasumber dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa, pemerintah daerah, serta perguruan tinggi.
Ada lima isu besar yang menjadi perhatian para narasumber dalam Talkshow Kelautan tersebut, yakni ukuran capaian ekonomi biru nasional, pemanfaatan ruang laut yang inklusif dan berkeadilan, perubahan iklim dan ketahanan pesisir, keseimbangan pemanfaatan dan pelestarian sumber daya laut, serta kedaulatan, kerja sama internasional, dan sains untuk kebijakan.
Narasumber dalam kegiatan tersebut adalah Muh. Firdaus Agung Kunto Kurniawan, Ph.D., Direktur Konservasi Ekosistem dan Biota Perairan, Kementerian Kelautan dan Perikanan; Dr. Lukijanto, S.T., M.Sc., Tenaga Ahli Utama Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa; Muslim, S.T., M.Si., Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Nusa Tenggara Barat; Dr. M. Ilyas, S.T., M.Sc., Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Selatan; Dr. Ir. Aryanto Husain, M.MP., Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Gorontalo; serta Dr. Beginer Subhan, S.Pi., M.Si., Dekan Fakultas Perikanan dan Kelautan, IPB University.
Rangkaian isu tersebut memperlihatkan karakter ISKINDO sebagai organisasi profesi yang ingin tetap dekat dengan persoalan nyata pembangunan maritim. Nelayan, pesisir, pulau-pulau kecil, ekosistem, perubahan iklim, ruang laut, hingga kedaulatan merupakan bagian dari agenda yang membutuhkan kontribusi sarjana kelautan.
Ketua ISKINDO, Riza Damanik menyatakan kegiatan Pra-Kongres IV ISKINDO menjadi momentum penting untuk memperkuat peran organisasi dalam merespons isu-isu strategis kelautan, mendorong ekonomi biru yang berkeadilan dan inklusif, sekaligus memastikan regenerasi kepemimpinan berjalan secara demokratis, tertib, dan berlandaskan semangat kekeluargaan.
“Forum ini juga penting untuk merumuskan rekomendasi, memperkuat jejaring pengurus dan anggota, serta menyiapkan arah ISKINDO untuk periode 2026–2031 agar semakin relevan terhadap kebutuhan pembangunan maritim Indonesia,” jelas Riza.
Ditambahkan, di tengah kebutuhan pembangunan yang semakin kompleks, posisi alumni sarjana kelautan juga menjadi semakin strategis.
“Mereka bekerja di pemerintahan, perguruan tinggi, dunia usaha, lembaga masyarakat, hingga ruang kerja internasional. ISKINDO melihat jejaring tersebut sebagai modal penting untuk memperkuat kontribusi profesi kelautan terhadap pembangunan Indonesia,” tegasnya.
Dalam konteks ini, organisasi profesi tidak cukup hanya menjadi ruang berkumpul. Ia harus mampu menjadi ruang pertukaran gagasan, penghasil rekomendasi, penguat jejaring, sekaligus jembatan antara ilmu pengetahuan dan kebijakan. Itulah salah satu makna penting dari keberadaan ISKINDO di tengah dinamika pembangunan maritim nasional.
Semangat tersebut juga terlihat dari susunan kepengurusan periode 2021–2026. Di samping Riza Damanik sebagai Ketua Umum, Ady Candra menjalankan posisi Sekretaris Jenderal ISKINDO. Alumni Kelautan Universitas Riau ini pada saat yang sama menjalankan tugas sebagai Direktur Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan pada Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Komposisi tersebut memperlihatkan kuatnya irisan antara dunia profesi, pemerintahan, kebijakan publik, dan agenda pemberdayaan masyarakat dalam tubuh ISKINDO.
Pengalaman para pengurus di berbagai institusi menjadi modal organisasi untuk membawa perspektif kelautan ke ruang yang lebih luas.
Pra-Kongres IV kemudian menjadi momentum penting untuk menerjemahkan pengalaman tersebut ke dalam arah organisasi periode 2026–2031. Forum ini tidak hanya membahas pergantian kepemimpinan, tetapi juga perubahan AD/ART, perumusan rekomendasi, visi dan misi calon ketua umum, serta arah program organisasi berikutnya.
Bagi ISKINDO, keberhasilan organisasi pada periode mendatang tidak hanya diukur dari solidnya struktur internal, tetapi juga dari seberapa jauh organisasi mampu memberi kontribusi nyata terhadap persoalan maritim Indonesia.
Oleh sebab itu, hasil Pra-Kongres diharapkan menghasilkan rekomendasi yang dapat menjadi pedoman arah program kerja kepengurusan berikutnya sekaligus memperkuat solidaritas dan jejaring antaranggota.
Pembaca sekalian, kepedulian terhadap maritim Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar slogan tentang negara kepulauan.
Ia membutuhkan orang-orang yang memahami laut, bekerja untuk masyarakat pesisir, menjaga ekosistem, membaca perubahan zaman, dan berani membawa pengetahuan ke ruang kebijakan.
ISKINDO berada di ruang tersebut. Sebagai organisasi profesi para sarjana kelautan Indonesia, ISKINDO memiliki peluang untuk terus menjadi rumah keilmuan sekaligus ruang pengabdian, tempat para profesional kelautan menyatukan pengetahuan, pengalaman, dan jejaring untuk memastikan transformasi maritim Indonesia berjalan lebih adil, inklusif, berkelanjutan, dan berpihak pada kepentingan bangsa.
Yuuuk sukseskan Pra-Kongres ISKINDO keempat!
Redaksi









