Mengenal Sekolah Islami Idaman di Kota Parepare, TKIT Al Azizi

  • Whatsapp
Ilustrasi oleh Pelakita.ID

PELAKITA.ID – TKIT Al Azizi merupakan lembaga pendidikan anak usia dini berbasis akidah Islam yang berada di bawah naungan Yayasan Al Azizi. Berdiri sejak tahun 2016, sekolah ini berkomitmen menghadirkan pendidikan yang tidak hanya mengembangkan kemampuan akademik, tetapi juga membentuk karakter Islami sejak usia dini.

Dengan visi “Membentuk Generasi Cinta Al-Qur’an, Berakhlak Mulia, dan Kreatif,” TKIT Al Azizi berupaya mencetak generasi yang mencintai Al-Qur’an, memiliki akhlak yang baik, sehat, cerdas, mandiri, serta siap menghadapi perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam.

Untuk mewujudkan visi tersebut, TKIT Al Azizi menjalankan berbagai misi, di antaranya menyediakan lingkungan belajar yang kondusif dan islami, mengoptimalkan potensi setiap anak melalui kerja sama dengan orang tua dan masyarakat, serta terus mengembangkan informasi dan pendekatan pendidikan anak usia dini berbasis akidah Islam.

Adapun tujuan pendidikan di TKIT Al Azizi adalah membantu setiap anak mengenali dan mengembangkan potensi dirinya agar menjadi pribadi yang beriman, bertakwa kepada Allah SWT, berakhlak mulia, kreatif, sehat, cerdas, dan mandiri.

Selain itu, sekolah juga membekali peserta didik dengan dasar-dasar kepribadian Islam, penguasaan tahfiz Al-Qur’an, serta pengalaman belajar yang menyenangkan dan interaktif sesuai prinsip pendidikan Islam.

TKIT Al Azizi berlokasi di Jalan Guru M. Amin Nomor 24, Kecamatan Soreang, Kota Parepare. Dengan tenaga pendidik yang berdedikasi dan lingkungan belajar yang nyaman, TKIT Al Azizi terus berupaya menjadi pilihan terbaik bagi orang tua dalam memberikan pendidikan Islami yang berkualitas bagi putra-putrinya.

TKIT Al Azizi, tempat tumbuhnya generasi Qurani yang berakhlak mulia, kreatif, dan siap menyongsong masa depan.

Tanggapan Founder TKIT Al Azizi

Pelakita.ID mewawancarai Prof Nurjannah Nurdin terkait sekolah anak Islami itu dengan menyebut bahwa menanamkan nilai kepedulian sosial tidak harus menunggu anak tumbuh dewasa.

Di TKIT Al Aziz Parepare, semangat berbagi telah menjadi bagian dari proses pendidikan sehari-hari. Melalui program sedekah yang dilakukan setiap hari Jumat, para siswa dibiasakan menyisihkan sebagian uang yang diberikan orang tua untuk membantu sesama.

Nurjannah menjelaskan bahwa program tersebut lahir dari keinginan membentuk karakter anak yang memiliki empati dan kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya. Setiap Jumat, anak-anak membawa uang dengan nominal seikhlasnya dari orang tua untuk disimpan di sekolah sebagai dana amal.

“Jumlahnya tidak ditentukan. Berapa pun yang diberikan orang tua, itulah yang disimpan oleh anak-anak. Yang terpenting bukan besar kecilnya nilai, tetapi membiasakan mereka untuk gemar berbagi sejak usia dini,” ujar Nurjannah.

Menariknya, kebiasaan sederhana itu mampu menghimpun dana dalam jumlah yang cukup besar. Dalam beberapa bulan, tabungan sedekah tersebut dapat mencapai jutaan rupiah.

Dana itulah yang kemudian disalurkan untuk membantu berbagai aksi kemanusiaan, mulai dari korban bencana di tingkat lokal, bencana nasional, hingga bantuan bagi masyarakat Palestina.

Menurut Nurjannah, anak-anak selalu menunjukkan antusiasme setiap kali ada ajakan untuk membantu sesama. Mereka merasa memiliki keterlibatan langsung dalam kegiatan kemanusiaan karena mengetahui bahwa sebagian dari tabungan sedekah mereka ikut disalurkan kepada mereka yang membutuhkan.

Kepercayaan orang tua juga menjadi kunci keberhasilan program ini. Mereka menitipkan dana kepada sekolah dengan keyakinan bahwa uang tersebut akan dikelola secara amanah dan digunakan sepenuhnya untuk kegiatan amal jariah.

“Bagi kami, pendidikan bukan hanya mengajarkan membaca, menulis, atau berhitung. Yang jauh lebih penting adalah membentuk karakter. Kami ingin anak-anak tumbuh dengan hati yang lembut, peduli terhadap orang lain, dan memahami bahwa rezeki yang mereka miliki juga ada hak orang lain di dalamnya,” tutur Nurjannah.

Melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten, TKIT Al Azizi membuktikan bahwa pendidikan karakter dapat dimulai dari langkah-langkah kecil. Dari sekeping uang yang disisihkan setiap Jumat, tumbuh benih-benih kepedulian, empati, dan semangat berbagi yang diharapkan akan melekat hingga anak-anak dewasa kelak.

Menurut Nurjannah, seiring berjalannya waktu, kepercayaan masyarakat terhadap TKIT Al Aziz dan Rumah Tahfiz Al Aziz terus tumbuh.

Menariknya, promosi sekolah ini nyaris tidak pernah dilakukan melalui iklan atau kampanye besar-besaran. Reputasi Al Aziz justru menyebar dari mulut ke mulut, melalui cerita dan pengalaman para orang tua yang telah mempercayakan pendidikan anak-anak mereka di lembaga tersebut.

“Yang mempromosikan kami justru keluarga murid sendiri. Mereka bercerita kepada saudara, tetangga, dan teman-temannya. Dari situlah banyak yang datang mendaftarkan anaknya,” tuturnya.

Dampaknya sangat terasa. Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah pendaftar terus meningkat hingga melampaui kapasitas yang dimiliki sekolah. Bahkan, tidak sedikit orang tua yang harus bersabar karena keterbatasan ruang belajar membuat pihak yayasan tidak dapat menerima seluruh calon peserta didik.

“Kami sebenarnya kewalahan. Yang ingin masuk jauh lebih banyak daripada yang bisa kami terima. Mau tidak mau kami harus menyesuaikan dengan kapasitas ruang yang tersedia,” ungkapnya.

Meski permintaan masyarakat terus meningkat, Yayasan Al Aziz belum berambisi melakukan ekspansi secara besar-besaran. Hingga kini, seluruh aktivitas pendidikan masih dipusatkan di lokasi yang sama, sebuah tempat yang memiliki nilai sejarah dan makna spiritual bagi keluarga pendiri.

Bagi Prof. Nurjannah, lahan tempat berdirinya Al Aziz bukan sekadar aset pendidikan. Tanah tersebut merupakan warisan orang tua yang sejak awal diwakafkan sebagai ladang amal jariah, sehingga keberadaannya memiliki nilai yang jauh melampaui aspek fisik.

“Selama ini kami tetap bertahan di lokasi ini. Belum terpikir untuk berpindah atau membuka tempat lain, karena ini adalah warisan orang tua kami. Kami ingin tempat ini terus menjadi amal jariah bagi kedua orang tua, keluarga, dan juga bagi anak-anak yang belajar di sini,” ujarnya.

Di balik bangunan yang sederhana itu, Al Aziz terus menorehkan jejak sebagai ruang tumbuh generasi Qurani. Bukan hanya karena kualitas pendidikannya, tetapi juga karena nilai-nilai keikhlasan, amanah, dan pengabdian yang menjadi fondasi sejak lembaga ini pertama kali didirikan.

___
Penulis Denun