PELAKITA.ID – Sebagai media yang didedikasikan untuk pengembangan pengetahuan kelautan dan perikanan, kampus adalah satu spot yang banyak disoroti pena literasi Pelakita.ID.
Pelakita membaca salah satu sosok yang menonjol dalam dunia pendidikan tinggi dan ilmu kelautan Indonesia terutama dari timur Indonesia adalah Dr. La Ode Muhammad Yasir Haya, S.T., M.Si., Ph.D.. Dosen FPIK Universitas Haluoleo Kendari itu kini resmi menyandang jabatan akademik tertinggi sebagai profesor di Universitas Halu Oleo (UHO).
Ada banyak sumber, ada banyak berita yang Pelakita.ID produksi sesuai narasi, program dan pokok pemikiran L.M Yasir Haya.
Bagi media ini, pengukuhan yang berlangsung pada Kamis, 30 Juli 2026, menjadi tonggak penting dalam perjalanan akademik Yasir Haya, yang selama ini dikenal sebagai salah satu akademisi kelautan terkemuka dari kawasan timur Indonesia.
Meski Prof Ancir – begitu kami memanggilnya – dosen di Universitas Halu Oleo Kendari, namun bagi keluarga besar alumni Ilmu dan Teknologi Kelautan Universitas Hasanuddin (Unhas) generasi tahun 90-an awal, pencapaian tersebut juga menjadi kebanggaan tersendiri karena Yasir merupakan alumnus angkatan 1992 yang kini bergabung dalam deretan profesor yang lahir dari almamater tersebut.
Mari kita telusuri siapa sebenarnya Prof. La Ode Muhammad Yasir Haya
Tumbuh dari Ilmu Kelautan
Yasir Haya merupakan alumnus Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan Universitas Hasanuddin. Dia sempat menjadi aparatur sipil negara di bawah naung Kementerian Kelautan dan Perikanan dan mengurusi isu konservasi dan ruang laut tahun 2000-an.
Setelah menamatkan pendidikan sarjana dan magister, ia melanjutkan studi doktoral di Universitas Hokkaido, Jepang, salah satu perguruan tinggi yang dikenal memiliki reputasi internasional dalam riset kelautan, perikanan, dan ilmu lingkungan.
Bekal pendidikan tersebut membentuk karakter akademiknya yang kuat pada pendekatan ilmiah, sekaligus dekat dengan persoalan nyata masyarakat pesisir.
Sekembalinya ke Indonesia, ia mengabdikan karier akademiknya di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Halu Oleo. Di kampus ini, ia pernah menjabat sebagai Ketua Jurusan Ilmu Kelautan dan kini dipercaya sebagai Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kerja Sama Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.
Di tingkat nasional, Yasir Haya juga aktif sebagai Dewan Pakar Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia (ISKINDO), organisasi profesi yang menghimpun akademisi, peneliti, dan praktisi kelautan dari seluruh Indonesia.
Menggabungkan Sains dan Pengabdian
Berbeda dengan sebagian akademisi yang berkutat di laboratorium, Yasir Haya dikenal sebagai ilmuwan yang banyak bekerja di lapangan.
Bidang kepakarannya meliputi konservasi sumber daya pesisir, ekologi mangrove, padang lamun, terumbu karang, mitigasi bencana pesisir, hingga pengembangan teknologi budidaya perikanan.
Selama bertahun-tahun, ia aktif mendampingi masyarakat pesisir Sulawesi Tenggara melalui berbagai program penelitian dan pengabdian.
Salah satu perhatian utamanya adalah rehabilitasi ekosistem pesisir melalui penanaman mangrove dan transplantasi terumbu karang, terutama di kawasan pesisir Kecamatan Soropia. Menurutnya, keberlanjutan ekosistem pesisir bukan sekadar agenda konservasi, melainkan fondasi utama bagi kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat nelayan.
“Jika mangrove, lamun, dan terumbu karang rusak, maka yang paling pertama merasakan dampaknya adalah masyarakat pesisir sendiri,” menjadi pandangan yang kerap ia sampaikan dalam berbagai forum akademik maupun pengabdian masyarakat.
Memperkuat Ketangguhan Masyarakat Pesisir
Salah satu fokus penting Yasir Haya adalah membangun ketahanan masyarakat menghadapi bencana.
Ia beberapa kali memimpin program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik yang mengangkat tema Desa Tangguh Bencana, terutama di wilayah pesisir Konawe.
Baginya, mitigasi bencana tidak hanya berbicara mengenai infrastruktur, tetapi juga membangun pengetahuan, kesiapsiagaan, dan kapasitas masyarakat sebelum bencana terjadi.
Pengalaman studinya di Jepang turut memengaruhi perspektif tersebut. Ia menilai keberhasilan Jepang dalam meminimalkan korban bencana lahir dari budaya kesiapsiagaan yang dibangun secara konsisten melalui pendidikan dan latihan sejak usia dini.
Berpihak kepada Nelayan Kecil
Di berbagai kesempatan, Yasir Haya juga dikenal vokal menyuarakan keberpihakan terhadap nelayan tradisional.
Ia menilai berbagai kebijakan pembangunan sektor kelautan harus memastikan manfaat ekonomi benar-benar dirasakan masyarakat pesisir, bukan hanya menguntungkan pelaku usaha berskala besar.
Pandangan tersebut terlihat ketika ia menanggapi isu industrialisasi perikanan maupun kebijakan ekspor benih lobster. Menurutnya, setiap kebijakan harus mempertimbangkan keberlanjutan sumber daya sekaligus menjamin keadilan ekonomi bagi nelayan kecil.
Dalam pengembangan budidaya perikanan, ia mendorong penerapan konsep Eco-green Aquaculture atau Integrated Marine Tropical Aquaculture System (IMTAS), yaitu sistem budidaya terpadu yang menggabungkan beberapa komoditas secara ramah lingkungan sehingga mampu meningkatkan produktivitas tanpa mengorbankan kualitas ekosistem.
Perhatian Besar terhadap Lingkungan
Yasir Haya juga dikenal kritis terhadap berbagai persoalan kerusakan lingkungan pesisir.
Ia menaruh perhatian pada alih fungsi lahan di daratan yang berdampak pada sedimentasi dan pencemaran kawasan pesisir. Menurutnya, persoalan laut tidak pernah bisa dipisahkan dari tata kelola wilayah daratan.
Dalam kasus kerusakan terumbu karang akibat kapal kandas, ia secara terbuka menyatakan bahwa masyarakat memiliki hak untuk menuntut pertanggungjawaban perusahaan atas kerugian ekologis maupun sosial yang ditimbulkan.
Ketika pandemi COVID-19 melanda, ia turut menyoroti terganggunya rantai distribusi hasil perikanan. Saat itu ia mendorong pemerintah agar kebijakan refocusing anggaran juga diarahkan untuk memperkuat logistik dan pemasaran hasil laut sehingga nelayan tetap memperoleh penghasilan.
Mendorong Mahasiswa Mendunia
Selain aktif dalam penelitian dan pengabdian masyarakat, Yasir Haya memberi perhatian besar terhadap peningkatan kualitas lulusan.
Di bawah kepemimpinannya, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UHO memperluas berbagai kerja sama internasional, termasuk program magang mahasiswa di perusahaan budidaya tiram di Hiroshima, Jepang.
Ia meyakini bahwa pengalaman internasional menjadi bekal penting bagi generasi muda Indonesia untuk bersaing dalam dunia kelautan yang semakin terhubung secara global.
Inspirasi bagi Alumni Ilmu Kelautan
Pengukuhan Prof. La Ode Muhammad Yasir Haya menambah daftar panjang alumni Ilmu dan Teknologi Kelautan Universitas Hasanuddin (sekarang bergabung FIKP Unhas) yang berhasil meraih jabatan profesor di berbagai perguruan tinggi Indonesia.
Pencapaian tersebut bukan hanya menjadi prestasi personal, tetapi juga mencerminkan kontribusi berkelanjutan alumni Ilmu Kelautan Unhas dalam pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan tinggi, konservasi lingkungan, serta pemberdayaan masyarakat pesisir.
Di tengah berbagai tantangan perubahan iklim, degradasi ekosistem, dan tuntutan pembangunan ekonomi biru, kehadiran profesor-profesor kelautan seperti Yasir Haya diharapkan semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai negara maritim yang mampu mengelola sumber daya laut secara berkelanjutan, adil, dan berbasis ilmu pengetahuan.
Tamarunang, 31 Juli 2026
Kamaruddin Azis, founder Pelakita.ID









