Ketua Harian Batom Sepakbola IKA Unhas, Om Jak Dukung Spanyol, Kok Kamu Nggak?

  • Whatsapp
Ketua Batom Sepakbola IKA Unhas, Dr Chaerul Amir atau kerap disapa Om Jak (Ilustrasi foto oleh AI)

Bagi Om Jak, mendukung Spanyol bukan berarti meremehkan kekuatan Argentina yang juga tampil luar biasa sepanjang turnamen. Ia mengakui Argentina memiliki tradisi juara, mental bertanding yang kuat, dan kualitas individu yang sangat tinggi. Namun, jika harus memilih, ia tetap menjatuhkan pilihan kepada Spanyol.

MAKASSAR – Final Piala Dunia FIFA 2026 antara Spanyol dan Argentina tidak hanya memecah perhatian pecinta sepak bola dunia, tetapi juga memunculkan berbagai alasan menarik di balik pilihan masing-masing pendukung.

Di Jakarta, salah satu tokoh asal Makassar yang secara terbuka menjagokan Tim Matador adalah Dr. Chaerul Amir, yang akrab disapa Om Jak.

Bagi kalangan alumni Universitas Hasanuddin, nama Om Jak tentu tidak asing.

Bagi kalangan alumni Universitas Hasanuddin, nama Om Jak tentu tidak asing.

Ia dikenal sebagai seorang jaksa, Ketua IKA SMP Negeri 5 Makassar, sekaligus Ketua Bidang Olah Raga DPP IKA Unhas, Ketua Harian (Batom) UNHAS Football Community serta salah satu striker andalan di Tim IKA Smansa FC dan Tim IKA Unhas FC. Selama bertahun-tahun, ia aktif mengikuti perkembangan sepak bola Eropa, terutama kompetisi La Liga.

Ketika ditanya Pelakita mengenai siapa yang akan didukung pada laga puncak Piala Dunia, jawabannya singkat namun penuh keyakinan.

“Saya Spanyol, dinda,” ujar Om Jak sambil tersenyum.

Pilihan tersebut bukan tanpa alasan. Setidaknya ada empat faktor yang membuat Om Jak tetap setia mendukung Spanyol hingga partai final.

Lamine Yamal, Simbol Lahirnya Generasi Baru

Bagi Om Jak, kehadiran Lamine Yamal menjadi simbol regenerasi sepak bola Spanyol. Di usia yang masih sangat muda, Yamal mampu tampil matang, percaya diri, dan menjadi pembeda dalam berbagai pertandingan penting.

Menurutnya, sepak bola selalu membutuhkan pemain muda yang berani mengambil tanggung jawab besar. Yamal dianggap mewakili semangat baru yang membawa harapan bagi masa depan sepak bola dunia.

Tiki-Taka yang Tetap Hidup

Alasan kedua adalah identitas permainan Spanyol yang tetap mempertahankan filosofi tiki-taka. Meski mengalami berbagai evolusi, Spanyol tetap mengandalkan penguasaan bola, umpan pendek yang presisi, serta kesabaran dalam membangun serangan.

Bagi Om Jak, gaya bermain tersebut bukan sekadar strategi, melainkan seni yang telah menjadi identitas sepak bola Spanyol selama lebih dari satu dekade.

Dikatakan Om Jak, Spanyol kembali memperlihatkan identitas sepak bolanya yang khas melalui permainan tiki-taka—menguasai bola dengan umpan-umpan pendek, cepat, dan akurat, sebelum melancarkan serangan yang terencana serta terukur.

“Gaya bermain seperti ini tidak hanya efektif dalam membongkar pertahanan lawan, tetapi juga menghadirkan tontonan yang indah bagi para pencinta sepak bola. Setiap pergerakan pemain seolah telah dirancang, menciptakan ritme permainan yang mengalir dan sulit dihentikan,” jelasnya.

Di lini depan, lanjut Om Jak, kehadiran Lamine Yamal menjadi pembeda. Kelincahan, kecepatan, serta keberaniannya dalam duel satu lawan satu membuat pertahanan lawan terus berada di bawah tekanan.

Sementara itu, ketajaman sang penyerang tengah yang rajin bergerak membuka ruang memberikan dimensi lain bagi serangan Spanyol.

“Pergerakannya menarik bek keluar dari posisi sehingga rekan-rekannya memiliki ruang untuk melepaskan tembakan ke gawang. Kombinasi penguasaan bola, mobilitas tanpa bola, dan penyelesaian akhir yang efektif menjadikan Spanyol sebagai salah satu tim yang paling enak ditonton sekaligus sangat berbahaya bagi setiap lawannya,” tegasnya.

Tim yang Lebih Besar daripada Individu

Om Jak juga mengagumi semangat kolektif yang diperlihatkan skuad Spanyol sepanjang turnamen. Baginya, keberhasilan Spanyol lahir dari kerja sama seluruh pemain, bukan bergantung pada satu bintang.

“Sepak bola adalah permainan tim. Yang membuat Spanyol menarik adalah semua pemain bekerja untuk tim, bukan untuk dirinya sendiri,” ungkapnya.

Filosofi inilah yang menurutnya menjadi fondasi kekuatan Spanyol dalam menghadapi lawan-lawan besar.

Kesetiaan yang Sudah Lama

Alasan terakhir bersifat personal. Om Jak mengaku telah lama mengikuti perkembangan talenta-talenta muda Spanyol, baik yang berkembang di akademi FC Barcelona maupun Real Madrid.

Selama bertahun-tahun, ia menikmati proses lahirnya pemain-pemain muda yang kemudian menjadi bintang dunia. Karena itu, dukungannya kepada Spanyol bukanlah pilihan sesaat menjelang final, melainkan buah dari kecintaan yang telah tumbuh sejak lama.

Lebih dari Sekadar Memilih Juara

Bagi Om Jak, mendukung Spanyol bukan berarti meremehkan kekuatan Argentina yang juga tampil luar biasa sepanjang turnamen. Ia mengakui Argentina memiliki tradisi juara, mental bertanding yang kuat, dan kualitas individu yang sangat tinggi. Namun, jika harus memilih, ia tetap menjatuhkan pilihan kepada Spanyol.

Pilihan Om Jak menunjukkan bahwa sepak bola bukan hanya tentang siapa yang mengangkat trofi. Bagi sebagian orang, dukungan lahir dari filosofi permainan, konsistensi membangun generasi muda, dan keyakinan bahwa kerja sama tim akan selalu menjadi fondasi utama sebuah kemenangan.

Jelang final Piala Dunia 2026, satu kalimat sederhana dari Om Jak pun menjadi penutup yang menarik.

“Saya Spanyol, dinda.”

Sebuah jawaban singkat, tetapi sarat makna bagi mereka yang percaya bahwa sepak bola terbaik selalu dibangun oleh sebuah tim, bukan sekadar oleh individu.