Mengapa Saya Menyukai Sofia Vergara

  • Whatsapp
Sofia Vergara (dok: Istimewa)

Humor sering menunjukkan kecerdasan, kecepatan membaca situasi, dan kemampuan melihat kehidupan dari sudut yang tidak selalu serius.

PELAKITA.ID – Ada banyak perempuan cantik di dunia hiburan. Hollywood bahkan mungkin merupakan salah satu tempat dengan konsentrasi manusia berwajah menarik paling tinggi di planet ini.

Karena itu, ketika saya mengatakan menyukai Sofia Vergara, alasannya tentu tidak cukup dijelaskan hanya dengan satu kata: cantik.

Ya, Sofia memang cantik. Sangat cantik, malah. Tetapi setelah beberapa kali menonton wawancaranya, saya merasa ada sesuatu yang jauh lebih menarik daripada sekadar penampilan fisiknya.

Saya menyukai Sofia Vergara karena dia terlihat menyenangkan. Ada orang-orang yang baru beberapa menit kita lihat berbicara, tetapi entah bagaimana sudah membuat suasana terasa lebih ringan.

Sofia memiliki kualitas semacam itu. Ia tertawa keras, bereaksi spontan, membuat ekspresi wajah tanpa banyak beban, dan tampaknya tidak terlalu sibuk menjaga dirinya agar selalu terlihat sempurna. Padahal, ironisnya, ia hampir selalu terlihat sangat glamor.

Barangkali justru kontradiksi itu yang menarik perhatian saya.

Sofia bisa tampil seperti bintang Hollywood klasik dengan gaun indah, rambut sempurna, dan senyum yang membuat kamera seolah bekerja lebih keras. Namun, beberapa detik kemudian, ia bisa tertawa terbahak-bahak, membuat wajah konyol, atau melontarkan komentar spontan yang sama sekali tidak terduga. Ia cantik, tetapi tidak membosankan.

Glamor, tetapi tidak terasa dingin.

Saya selalu tertarik pada perempuan yang punya selera humor. Bagi saya, humor bukan sekadar kemampuan membuat orang tertawa.

Humor sering menunjukkan kecerdasan, kecepatan membaca situasi, dan kemampuan melihat kehidupan dari sudut yang tidak selalu serius.

Orang yang benar-benar lucu biasanya memahami waktu, ekspresi, dan reaksi orang lain. Sofia, setidaknya dari berbagai wawancara yang saya tonton, tampaknya memiliki kemampuan itu secara alami.

Yang lebih menarik, ia juga mampu menertawakan dirinya sendiri. Aksennya, caranya berbicara, kepribadiannya yang dramatis, bahkan citra glamornya sering menjadi bagian dari lelucon.

Ada rasa percaya diri yang kuat pada seseorang yang mampu melakukan itu. Ia tampaknya memahami bagaimana orang melihat dirinya, tetapi tidak membiarkan pandangan tersebut sepenuhnya mengendalikan dirinya.

Saya kira kecerdasan Sofia juga sering tersembunyi di balik tawanya yang keras. Orang mungkin pertama-tama melihat kecantikannya, kemudian mendengar aksennya, lalu tertawa melihat reaksinya.

Jika diperhatikan lebih lama, terlihat bahwa ia cukup cepat merespons percakapan. Ia tahu kapan harus serius, kapan harus melontarkan humor, dan kapan sebuah situasi bisa diubah menjadi sesuatu yang menyenangkan.

Mungkin itulah jenis kecerdasan yang saya sukai: kecerdasan yang tidak selalu merasa perlu memperlihatkan dirinya sebagai kecerdasan. Tidak semua orang pintar harus berbicara seperti sedang memberikan kuliah.

Ada orang yang menunjukkan kecerdasannya melalui humor, spontanitas, kemampuan membaca suasana, dan cara membuat orang lain merasa nyaman. Bagi saya, kualitas seperti itu sangat menarik.

Sofia juga mengingatkan saya bahwa menjadi dewasa tidak berarti harus kehilangan sisi menyenangkan dalam diri. Banyak orang, seiring bertambahnya usia atau meningkatnya posisi sosial, perlahan menjadi terlalu berhati-hati. Mereka takut terlihat konyol, takut tertawa terlalu keras, atau terlalu sibuk menjaga citra. Sofia justru tampak menikmati dirinya sendiri. Setidaknya itulah kesan yang saya dapatkan ketika melihatnya di layar.

Tentu saja saya tidak mengenal Sofia Vergara secara pribadi. Apa yang saya lihat adalah sosok publik melalui film, acara televisi, dan berbagai wawancara.

Karena itu, saya tidak sedang membuat kesimpulan tentang seluruh kehidupan atau kepribadian pribadinya. Saya hanya berbicara tentang kesan sederhana yang muncul sebagai seorang penonton: perempuan ini menyenangkan untuk dilihat dan didengarkan.

Ya, saya menyukainya.

Bukan hanya karena ia cantik, meskipun saya jelas tidak akan berpura-pura tidak menyadari hal tersebut. Saya menyukai caranya tertawa.

Saya menyukai spontanitasnya. Saya menyukai kemampuannya menjadi glamor tanpa kehilangan sisi konyol. Saya juga menyukai kesan bahwa di balik semua itu ada seorang perempuan yang cerdas dan sangat memahami kekuatan kepribadiannya sendiri.

Mungkin ketertarikan memang tidak selalu membutuhkan penjelasan yang rumit. Kadang-kadang kita menyukai seseorang karena setiap kali melihatnya, kita ikut tersenyum.

Ada energi tertentu yang sampai kepada kita, bahkan melalui layar. Ada orang yang membuat ruangan terasa lebih berat ketika mereka masuk, dan ada pula orang yang tampaknya membawa sedikit cahaya, kegembiraan, dan tawa bersama mereka.

Bagi saya, Sofia Vergara termasuk jenis yang kedua.

Dia cantik, tentu saja.

Tetapi yang membuat saya terus menonton adalah karena dia fun dan cerdas.

Behehe… mungkin memang sesederhana itu.

—Kamaruddin Azis