Inggris dan Spanyol Siap Menguasai Piala Dunia — Ini Alasan Argentina Bisa Tersingkir

  • Whatsapp
Messi yang tak lagi muda (dok: FIFA/Istimewa)

Sepak bola turnamen modern, dengan lima pergantian pemain, semakin menguntungkan tim yang mampu mengubah karakter pertandingan melalui pemain dari bangku cadangan.

PELAKITA.ID – Piala Dunia FIFA 2026 mulai menghadirkan kisah yang menarik. Turnamen ini tak lagi semata-mata tentang nama besar, kebesaran seragam, atau beratnya sejarah trofi masa lalu.

Piala Dunia semakin memberi tempat kepada tim yang mampu memadukan fleksibilitas taktik, kedalaman skuad, dan generasi baru pesepak bola yang tumbuh dalam era permainan tercepat sekaligus paling menuntut secara teknis.

Itulah sebabnya Inggris dan Spanyol kini semakin terlihat sebagai dua tim yang berpotensi menjadi penentu wajah Piala Dunia kali ini.

Spanyol telah memastikan tempat di semifinal setelah mengalahkan Belgia 2-1. Sementara itu, Inggris bertahan dalam laga perempat final dramatis melawan Norwegia dan menang dengan skor serupa setelah perpanjangan waktu. Jude Bellingham mencetak dua gol untuk Inggris, termasuk gol penentu di pengujung laga, sekali lagi memperlihatkan pengaruh luar biasanya dalam pertandingan besar.

Dua raksasa Eropa tersebut memang belum pasti bertemu di final. Spanyol terlebih dahulu harus melewati Prancis, sedangkan Inggris menunggu pemenang laga Argentina melawan Swiss. Namun, ada alasan kuat untuk meyakini bahwa masa depan Piala Dunia ini mungkin lebih dekat dengan Madrid, Barcelona, dan London—serta generasi baru sepak bola Eropa—ketimbang menjadi panggung perayaan lain bagi kejayaan masa lalu Argentina.

Spanyol: Dari Tiki-Taka Menuju Sepak Bola Modern yang Total

Kekuatan terbesar Spanyol adalah evolusi.

Juara dunia 2010 itu dahulu dibangun dengan penguasaan bola, umpan-umpan pendek, dan kontrol permainan yang penuh kesabaran. Xavi Hernández, Andrés Iniesta, dan Sergio Busquets mengubah bola menjadi senjata pertahanan: jika Spanyol menguasai bola, lawan tidak bisa menyerang.

Spanyol saat ini berbeda.

Mereka tetap menghargai penguasaan bola, tetapi bermain lebih cepat, lebih melebar, dan lebih langsung. Transformasi tersebut sudah terlihat di Euro 2024, ketika Spanyol memenangi seluruh tujuh pertandingan dan mencetak rekor turnamen dengan 15 gol dalam perjalanan meraih gelar Eropa keempat. Tim ini kemudian kembali mencapai final UEFA Nations League pada 2025.

Generasi ini tampaknya tidak terpenjara oleh filosofi masa lalu. Spanyol mampu mendominasi penguasaan bola, menyerang melalui sisi lapangan, kemudian tiba-tiba meningkatkan tempo permainan.

Yang lebih penting, mereka memiliki kedalaman skuad.

Mikel Merino adalah contoh sempurna. Gol kemenangan telatnya melawan Belgia datang setelah sebelumnya mencetak gol penentu di menit-menit akhir menghadapi Portugal.

Sepak bola turnamen modern, dengan lima pergantian pemain, semakin menguntungkan tim yang mampu mengubah karakter pertandingan melalui pemain dari bangku cadangan.

Spanyol telah memahami kenyataan baru tersebut.

Spanyol bukan lagi sekadar tim dengan sebelas pemain utama yang indah untuk ditonton. Mereka sedang berkembang menjadi sebuah sistem taktik yang bekerja sepanjang 90 menit.

Inggris Akhirnya Belajar Bagaimana Menderita

Sejarah sepak bola Inggris dipenuhi generasi berbakat yang runtuh karena tekanan.

Generasi David Beckham, Steven Gerrard, Frank Lampard, dan Wayne Rooney tidak pernah mencapai semifinal Piala Dunia. Inggris kerap datang ke turnamen dengan ekspektasi luar biasa besar, tetapi kemudian kalah ketika pertandingan berubah menjadi rumit secara emosional.

Generasi sekarang berbeda.

Inggris mencapai semifinal Piala Dunia 2018, tampil dalam dua final Kejuaraan Eropa secara beruntun, dan kalah 1-2 dari Spanyol pada final Euro 2024. Kekalahan-kekalahan itu memang menyakitkan, tetapi juga menghasilkan sesuatu yang selama ini sering tidak dimiliki Inggris: akumulasi pengalaman di fase gugur.

Melawan Norwegia, Inggris sempat tertinggal dan berada di ambang eliminasi. Namun, Jude Bellingham mengubah jalannya pertandingan. Dua golnya membawa Inggris menuju semifinal Piala Dunia pertama mereka yang digelar di luar Eropa.

Itu bukan fakta kecil.

Bellingham merepresentasikan Inggris yang baru. Ia nyaman secara teknis, matang secara taktik, dan nyaris tanpa rasa takut secara psikologis. Di sekelilingnya terdapat para pemain yang terbiasa dengan atmosfer Liga Champions dan kerasnya kompetisi domestik.

The Three Lions mungkin tidak selalu memainkan sepak bola paling indah di turnamen ini. Namun, Piala Dunia jarang dimenangi hanya dengan keindahan.

Piala Dunia dimenangi oleh tim yang mampu bertahan melewati saat-saat buruk.

Inggris sedang belajar untuk bertahan.

Mengapa Argentina Bisa Tersingkir?

Argentina tetap berstatus juara dunia bertahan. Meremehkan tim asuhan Lionel Scaloni tentu merupakan kesalahan besar. Lionel Messi, bahkan pada usia 39 tahun, terus menghasilkan catatan luar biasa. Menjelang perempat final menghadapi Swiss, ia telah mencetak delapan gol dan tetap menjadi pusat serangan Argentina.

Namun, kekuatan terbesar Argentina mungkin sekaligus memperlihatkan kelemahan terbesar mereka.

Argentina masih sangat bergantung pada Messi.

Argentina harus bekerja keras saat menang tipis 3-2 atas Cape Verde dan Mesir di fase gugur. Messi berulang kali dibutuhkan untuk menyelamatkan timnya dari situasi sulit.

Pertanyaannya sederhana: berapa kali seorang genius berusia 39 tahun mampu menyelamatkan sang juara dunia?

Sepak bola fase gugur modern semakin menuntut secara fisik. Pertandingan bisa berlanjut hingga perpanjangan waktu. Lawan menekan secara agresif dan memanfaatkan lima pergantian pemain untuk memasukkan tenaga-tenaga segar.

Inggris, Spanyol, dan Prancis memiliki banyak solusi dalam menyerang.

Argentina masih memiliki kisah individual terbesar di Piala Dunia ini.

Namun, Inggris dan Spanyol mungkin memiliki sesuatu yang lebih berkelanjutan: sistem yang dirancang untuk masa depan.

Jika Argentina mampu mengatasi Swiss, Inggris telah menunggu di semifinal. Pertemuan tersebut akan menjadi duel bersejarah, dipenuhi kenangan tentang 1986, Diego Maradona, dan rivalitas sepak bola selama puluhan tahun.

Namun, Inggris saat ini tidak sedang berjalan mundur ke masa lalu.

Mereka memiliki Bellingham. Mereka telah mengumpulkan pengalaman turnamen. Mereka juga telah bertahan melewati pertandingan fase gugur yang sulit menghadapi Meksiko dan Norwegia.

Karena itu, mahkota Argentina bisa saja jatuh bukan karena Messi tiba-tiba berhenti menjadi pemain brilian, melainkan karena sepak bola sendiri terus bergerak maju.

Spanyol telah memodernisasi identitas mereka. Inggris telah mengubah trauma turnamen menjadi pengalaman.

Argentina masih berstatus juara dunia namun, di Piala Dunia 2026, Inggris dan Spanyol semakin terlihat seperti dua tim yang dibangun untuk menjadi juara pada era berikutnya.

Bagaimana kalau Argentina tetap lolos ke final dan juara?

Coba periksa arsip VAR

___
Penulis Denun, penggemar Italia yang melihat arena Word Cup dari sempadan Jeneberang