MAKASSAR — Alumni Antropologi Universitas Hasanuddin sekaligus Ketua BEM FISIP Unhas 2006, Abd Hafid, menilai catatan sejarah gerakan mahasiswa tidak seharusnya berhenti sebagai romantisme masa lalu.
Sejarah, menurutnya, perlu menjadi bahan refleksi untuk membaca kondisi hari ini sekaligus merancang masa depan kelembagaan mahasiswa Universitas Hasanuddin.
Hal tersebut disampaikan Abd Hafid dalam testimoninya setelah membaca buku yang ditulis Prof Amran Razak, M.Sc, guru besar FKM Unhas yang juga dikenal sebagai Demonstran dari Lorong Kambing dan pernah menjadi Pembantu Rektor Unhas Bidang Kemahasiswaan yang merekam dinamika gerakan mahasiswa dan pengalaman para demonstran di lingkungan Unhas.
Sebagai alumni Antropologi, Hafid mengaku langsung tertarik sejak bagian awal buku. Ia menemukan nama-nama senior dan jejak relasi kekerabatan yang sangat dekat dengan tradisi Antropologi Unhas.
“Yang saya suka dari buku ini, sejak awal saya langsung menemukan ikatan kekerabatan Antropologi. Nama-nama senior disebut. Itu yang membuat saya tertarik sampai akhirnya selesai membaca buku ini,” ujarnya.
Menurut Hafid, kekuatan buku berjudul Buku Refleksi, Dinamika, Reformasi dan Transformasi BEM-U tersebut terletak pada kemampuannya merekam pengalaman masa lalu sekaligus menghubungkannya dengan situasi kekinian.
Karena itu, sejarah gerakan mahasiswa tidak cukup dipahami hanya sebagai kumpulan peristiwa yang telah berlalu.
“Kalau sejarah dipahami sebagai masa lalu, saya kira tidak cukup. Sejarah itu harus bergerak antara masa lalu, masa sekarang, dan yang akan datang. Di buku ini saya melihat ada refleksi dan bahkan rekomendasi tentang seperti apa lembaga kemahasiswaan universitas ke depan,” katanya.
BEM Unhas 2006 dan Proses Panjang dari Bawah
Dalam testimoninya, Hafid juga memberikan catatan penting mengenai pembentukan BEM tingkat universitas di Unhas pada 2006. Menurutnya, terdapat sejumlah proses dan dinamika yang belum seluruhnya terekam dalam buku.
Ia menegaskan bahwa pembentukan BEM Unhas saat itu bukanlah proses instan. Kelembagaan tersebut lahir melalui kerja panjang lintas generasi mahasiswa dan konsolidasi dari tingkat bawah.
“Saya sebenarnya hanya melanjutkan dari yang sebelumnya. Ada beberapa kali pergantian kepemimpinan forum sebelum akhirnya BEM Unhas terbentuk. Jadi, tidak gampang membentuk BEM Unhas. Butuh waktu dan kerja beberapa generasi,” ungkapnya.
Hafid menyebut dirinya berada pada fase akhir dari proses panjang tersebut. Setelah masa kepemimpinannya sebagai Ketua BEM FISIP Unhas 2006, momentum pembentukan kelembagaan mahasiswa tingkat universitas semakin menemukan bentuknya.
“BEM Unhas yang terbentuk pada 2006 itu berangkat dari bawah. Ini yang penting dicatat. Walaupun belum sempurna karena masih ada fakultas yang secara kelembagaan tidak ikut, mahasiswanya tetap ada yang berpartisipasi dalam pemilihan,” jelasnya.
Menurut Hafid, dinamika tersebut memperlihatkan bahwa membangun kelembagaan mahasiswa tingkat universitas membutuhkan kemampuan mengelola perbedaan kepentingan dan ego sektoral fakultas.
Ia mengingat, pada masa itu terdapat fakultas yang belum bergabung secara kelembagaan.
Pada pemilihan berikutnya, dinamika bahkan semakin kompleks. Namun, proses politik mahasiswa tetap berjalan dan menjadi pengalaman demokrasi yang berharga.
Meski demikian, Ia juga merasa beberapa kali kecolongan saat menjadi Ketua Forum, sebab ada saja mahasiswa yang memanfaatkan dengan mengatasnamakan organisasi setingkat universitas lalu seolah mendapat mandat mewakili mahasiswa Unhas ke luar negeri untuk misi tertentu.
‘Di situ, saya merasa kecolongan sebab yang namanya BEM memang belum ada,” kata dia.
Praktik Trias Politika dalam Kelembagaan Mahasiswa
Salah satu catatan penting Hafid adalah sistem kelembagaan BEM Unhas pada 2006 yang telah menggunakan pendekatan trias politika.
Dalam struktur tersebut terdapat lembaga eksekutif, lembaga etik, serta majelis tinggi mahasiswa. Selain itu, terdapat pula representasi fakultas dan praktik politik mahasiswa yang menyerupai sistem kepartaian.
“Praktik politik sebenarnya sudah kita lakukan pada periode itu. Ada semacam partai dan ada perwakilan fakultas. Kemudian ada majelis tinggi mahasiswa. Sistem yang digunakan pada prinsipnya adalah trias politika,” tuturnya.
Hafid melihat pengalaman tersebut sebagai bagian penting dari pendidikan politik mahasiswa. Kampus tidak hanya menjadi ruang akademik, tetapi juga arena belajar mengambil keputusan, membangun konsensus, berkompetisi, dan memahami konsekuensi dari pilihan politik.
Baginya, pengalaman berorganisasi di FISIP turut membentuk keberanian mahasiswa dalam mengambil sikap.
“Di Sospol kami diajari bagaimana cepat mengambil keputusan. Kita harus tahu apa yang diputuskan dan apa konsekuensi yang akan dijalani,” katanya.
Generasi Demonstrasi dan Isu Pendidikan Tinggi
Hafid juga mengenang periode 2006 sebagai masa ketika gerakan mahasiswa Unhas cukup aktif merespons berbagai kebijakan pemerintah. Demonstrasi menjadi bagian dari keseharian aktivisme mahasiswa pada masa itu.
Salah satu isu yang mendapat perhatian adalah kebijakan di bidang pendidikan tinggi, termasuk perdebatan mengenai Badan Hukum Pendidikan atau BHP.
Menurut Hafid, pada awalnya tidak semua kampus melihat isu tersebut sebagai persoalan bersama. Sebagian menganggap kebijakan itu hanya akan berdampak pada perguruan tinggi negeri.
“Kami waktu itu banyak melakukan demonstrasi terkait BHP. Kampus-kampus lain belum banyak yang tertarik karena dianggap hanya urusan perguruan tinggi negeri. Padahal, dampaknya bisa terasa sampai hari ini,” ujarnya.
Ia menilai perubahan sistem penerimaan mahasiswa dan semakin banyaknya jalur masuk perguruan tinggi negeri ikut memengaruhi lanskap pendidikan tinggi secara lebih luas, termasuk perguruan tinggi swasta.
Pengalaman tersebut, kata Hafid, menunjukkan pentingnya gerakan mahasiswa membaca dampak jangka panjang sebuah kebijakan, bukan sekadar merespons persoalan yang terlihat pada saat itu.
Menyimpan Mimpi tentang BEM Unhas yang Bertahan Lama
Meski berbagai upaya membangun kelembagaan mahasiswa tingkat universitas mengalami pasang surut, Hafid tetap meyakini pentingnya kehadiran BEM Unhas yang kuat dan berkelanjutan.
Ia berharap pimpinan Universitas Hasanuddin saat ini dapat mengambil peran dalam membuka ruang bagi lahirnya kelembagaan mahasiswa tingkat universitas yang tumbuh secara demokratis.
“Saya termasuk orang yang menyimpan mimpi agar BEM Unhas punya kelembagaan yang bisa bertahan lama,” katanya.
Menurutnya, kekhawatiran bahwa lembaga mahasiswa akan dimanfaatkan oleh kelompok atau kepentingan tertentu tidak seharusnya menjadi alasan untuk menutup ruang organisasi. Kualitas sebuah lembaga, kata dia, sangat bergantung pada generasi yang menjalankannya.
“Setiap orang ada masanya dan setiap zaman ada orangnya. Siapapun mahasiswa di era sekarang, pasti harus punya gerakan dan menjawab persoalan zamannya,” tegas Hafid.
Bagi Abd Hafid, tugasnya sebagai aktivis mahasiswa mungkin telah selesai. Namun, tanggung jawab sosial terhadap sejarah dan masa depan kelembagaan mahasiswa Unhas belum sepenuhnya berakhir.
“Tugas saya mungkin sudah selesai, tetapi tanggung jawab sosial saya terhadap lembaga internal ini masih ada. Saya ingin menyampaikan pengalaman ini sebagai pemantik. Bahwa pada periode kami pernah ada BEM Unhas dan prosesnya berangkat dari bawah,” pungkasnya.
Testimoni Abd Hafid menjadi pengingat bahwa sejarah gerakan mahasiswa Unhas bukan hanya cerita mengenai demonstrasi, perebutan gagasan, dan dinamika antar-fakultas.
Di dalamnya tersimpan proses panjang membangun demokrasi mahasiswa—sebuah pengalaman yang, sebagaimana ia tegaskan, semestinya menjadi refleksi untuk masa kini dan masa depan.









