Masjid Songkok Recca, Kubah yang Menaungi Ribuan Doa

  • Whatsapp
Penulis di area masjid (dok: Istimewa)

Muliadi Saleh
Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran

PELAKITA.ID – Malam di Watampone selalu menyimpan cara sendiri untuk menyapa hati. Dari kejauhan, sebuah kubah tak tampak seperti kubah. Ia menyerupai Songkok Recca, penutup kepala kebanggaan masyarakat Bugis yang selama ini menjadi simbol kehormatan, martabat, dan kearifan.

Kini, ia menjulang sebagai mahkota sebuah masjid. Seolah hendak berkata bahwa budaya dan agama bukanlah dua jalan yang saling menjauh, melainkan dua sungai yang bermuara pada samudra nilai yang sama.

Masjid Songkok Recca, atau Masjid Amirul Haq, yang berada di jantung kota persis di pinggiran jalan utama, mengajarkan bahwa arsitektur bukan sekadar permainan bentuk. Ia adalah bahasa peradaban.

Kubah yang terinspirasi dari anyaman serat lontar itu menjahit ingatan kolektif masyarakat Bone dengan keagungan Islam. Di dalamnya, kaligrafi Asmaul Husna menghiasi dinding, sementara di luarnya berdiri simbol identitas yang tak kehilangan akar.

Lebih mengagumkan lagi, masjid ini lahir bukan semata karena kekuatan anggaran, melainkan oleh gotong royong dan sumbangan masyarakat.

Di tengah zaman ketika banyak hal diukur dengan angka, Masjid Songkok Recca justru dibangun oleh kepercayaan, kepedulian, dan cinta bersama. Inilah modal sosial yang sesungguhnya. Ketika tangan-tangan yang berbeda bersatu demi menghadirkan rumah Allah.

Masjid ini juga menjadi ruang singgah. Musafir beristirahat, pelintas melepas lelah, lalu kembali melanjutkan perjalanan dengan hati yang lebih tenang.

Masjid tidak hanya memanggil orang untuk salat, tetapi juga merangkul siapa saja yang sedang mencari jeda.

Di sinilah kita belajar bahwa identitas lokal tidak pernah menghalangi kemajuan. Sebaliknya, budaya yang dirawat akan memperkaya wajah Islam yang ramah, indah, dan membumi.

Songkok yang dahulu dikenakan di kepala, kini menjulang sebagai kubah yang menaungi ribuan doa. Sebuah pesan sunyi bahwa peradaban besar selalu dibangun di atas penghormatan kepada tradisi, persatuan masyarakat, dan ketundukan kepada Sang Pencipta.
____
Muliadi Saleh: Menulis Makna, Membangun Peradaban.