Tegukan Pertama yang Meyakinkan: Kesan Saya Menikmati Kopi di Rumah Kopi Setia Perintis

  • Whatsapp
Penulis saat menikmati racikan Kopi Setia (dok: Pelakita.ID)

PELAKITA.ID – Kemarin, Rabu, 1 Juli 2026, saya memulai bulan baru dengan tandang ke kawasan Tamalanrea di timur Makassar.

Rasanya tak afdol jika tak mampir di Rumah Kopi Setia. Maka, setelah bertemu Direktur Kealumnian Unhas, Prof Uchu Mappiasse, saya berkesempatan mengunjungi Rumah Kopi Setia Perintis di Makassar.

Sebagai penikmat kopi – meski tak intens, saya selalu percaya bahwa kualitas sebuah kopi biasanya sudah bisa dinilai sejak tegukan pertama.

Itulah yang saya rasakan di Rumah Kopi Setia. Begitu secangkir kopi tersaji, saya menyeruput perlahan. Kesan yang langsung muncul sangat sederhana, tetapi begitu kuat: nikmat. Serius.

Tidak ada rasa pahit yang berlebihan, tidak pula aroma yang terlalu menyengat.

Yang hadir justru keseimbangan rasa. Aromanya harum, body-nya terasa penuh, dengan karakter kopi Toraja yang lembut namun tetap meninggalkan jejak rasa yang panjang di lidah. Ini bukan kopi yang harus dipaksa untuk dinikmati. Justru sebaliknya, setiap tegukan mengundang tegukan berikutnya.

Pengalaman itu semakin lengkap karena secangkir kopi tersebut saya nikmati bersama beberapa kudapan khas yang disajikan Rumah Kopi Setia.

Ada ubi goreng yang hangat dengan tekstur lembut di dalam dan renyah di luar, roko-roko unti—kue tradisional khas Sulawesi Selatan berbahan pisang yang dibungkus daun pisang—serta roti khas Setia yang sederhana namun pas dipadukan dengan secangkir kopi hitam.

Perpaduan kopi dan kudapan tradisional itu menghadirkan pengalaman yang terasa akrab. Seolah mengingatkan bahwa menikmati kopi bukan sekadar tentang minuman, melainkan juga tentang budaya, kebersamaan, dan kenangan.

Saya kemudian memahami mengapa Kopi Setia mampu bertahan selama puluhan tahun. Mereka tidak hanya menjual kopi, tetapi juga menjaga konsistensi rasa.

Di tengah menjamurnya berbagai kedai kopi modern, mempertahankan kualitas selama lebih dari enam dekade tentu bukan perkara mudah.

Suasana di Rumah Kopi Setia Perintis pun terasa nyaman. Tempatnya bersih, hangat, dan cocok untuk berbincang santai bersama teman, berdiskusi, atau sekadar menikmati waktu sendiri ditemani secangkir kopi.

Bagi saya, secangkir kopi yang baik bukan hanya dinilai dari kualitas bijinya, tetapi juga dari pengalaman yang ditinggalkannya. Rumah Kopi Setia Perintis berhasil menghadirkan keduanya.

Jika Anda berkunjung ke Makassar dan ingin menikmati cita rasa kopi Toraja yang autentik, saya rasa tempat ini layak untuk disinggahi. Terkadang, kualitas sebuah kopi tidak perlu dijelaskan panjang lebar.

Cukup satu tegukan pertama, dan Anda akan mengerti mengapa Kopi Setia tetap bertahan hingga hari ini.

Dari Rumah Kopi Setia, saya mencegat pete-pete dan bergegas ke kedia kopi andalan lainnya, Hometown Kopizone di Kawasan Panakukang.

Tamarunang, 2 Juli 2026