Oleh: Muliadi Saleh
Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran
PELAKITA.ID – Pada suatu perjalanan beberapa tahun silam, saya menyusuri jalan menuju Danau Maninjau di Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Danau itu memantulkan langit dengan tenang, sementara jalan berliku yang dikenal sebagai Kelok 44 menghadirkan sensasi tersendiri.
Setiap tikungan seolah membuka lembaran baru panorama alam yang memanjakan mata. Namun, ada pemandangan lain yang lebih lama tinggal dalam ingatan.
Di hampir setiap tikungan, terutama pada ruas awal Kelok 44, tampak kawanan kera ekor panjang berjejer di tepi jalan. Mereka tidak sedang memanjat pohon atau mencari buah di rimba.
Mereka menatap setiap kendaraan yang melintas, seolah mengetahui bahwa sebentar lagi akan ada tangan manusia yang melemparkan pisang, kacang, atau makanan lainnya.
Bertahun-tahun berinteraksi dengan wisatawan telah membuat mereka terbiasa menunggu pemberian manusia. Keberadaan mereka bahkan menjadi salah satu daya tarik wisata kawasan itu.
Pengalaman serupa saya temukan ketika melintasi jalan berkelok di kawasan pegunungan, jalur Camba dari Makassar menuju Watampone, Kabupaten Bone. Di sepanjang jalan yang membelah hutan, kawanan kera kembali menyambut para pengguna jalan dengan cara yang sama: duduk, menunggu, berharap.
Pemandangan itu menghadirkan sebuah pertanyaan sederhana, tetapi mengusik.
Apakah mereka masih rutin masuk ke hutan untuk mencari makan? Ataukah mereka mulai merasa lebih mudah dan nyaman menunggu daripada berusaha?
Tentu, kita tidak boleh tergesa-gesa menyimpulkan perilaku satwa hanya dari pengamatan sepintas. Perubahan perilaku hewan liar dipengaruhi banyak faktor, termasuk kebiasaan manusia memberi makan, perubahan habitat, dan ketersediaan sumber pangan alami.
Para ahli konservasi memang telah lama mengingatkan bahwa pemberian makan secara terus-menerus dapat mengubah perilaku satwa liar, membuat mereka semakin bergantung kepada manusia, kehilangan kewaspadaan alaminya, bahkan memicu konflik dengan pengunjung.
Di situlah saya merasa sedang melihat cermin.
Barangkali yang sedang saya amati bukan semata-mata perilaku kera, melainkan potret manusia sendiri. Bukankah dalam kehidupan sosial kita juga sering menjumpai fenomena serupa?
Bantuan demi bantuan mengalir, tetapi kemampuan untuk berdiri di atas kaki sendiri justru melemah. Kemudahan yang awalnya dimaksudkan sebagai penolong, perlahan berubah menjadi ruang nyaman yang mematikan inisiatif.
Ketergantungan selalu datang dengan wajah yang ramah. Ia tidak memaksa, tidak mengancam.
Ia justru menawarkan kemudahan. Lama-kelamaan, kemampuan mencari jalan sendiri menjadi tumpul. Kreativitas kehilangan alasan untuk tumbuh. Daya juang perlahan digantikan oleh kebiasaan menunggu.
Di sinilah letak perbedaan mendasar antara charity dan empowerment.
Bantuan memang diperlukan, terutama ketika masyarakat menghadapi bencana, kemiskinan ekstrem, atau situasi darurat. Namun bantuan tidak boleh berhenti sebagai pemberian. Ia harus bertransformasi menjadi pemberdayaan. Tujuannya bukan membuat seseorang terus menerima, melainkan mampu menghasilkan. Bukan menciptakan antrean bantuan, tetapi melahirkan kemandirian.
Pemikir pembangunan seperti Paulo Freire mengingatkan bahwa hakikat pembangunan adalah membangkitkan kesadaran kritis agar manusia menjadi subjek yang mengubah hidupnya sendiri, bukan sekadar objek kebijakan.
Gagasan development from within juga menekankan bahwa kemajuan yang paling kokoh adalah yang bertumpu pada kekuatan yang tumbuh dari dalam masyarakat: pengetahuan lokal, kapasitas warga, dan semangat gotong royong. Pembangunan yang hanya bergantung pada suntikan dari luar sering kali rapuh karena tidak menumbuhkan daya hidup dari akar.
Masyarakat yang kuat bukanlah masyarakat yang paling banyak menerima bantuan. Masyarakat yang kuat adalah masyarakat yang mampu mengubah bantuan menjadi modal untuk berdiri sendiri.
Kita tentu tidak ingin melihat generasi yang lebih pandai menunggu daripada berkarya. Lebih sibuk berharap daripada berikhtiar. Lebih mahir meminta daripada mencipta.
Kelok 44 dan jalan-jalan pegunungan di Bone mungkin hanya menyuguhkan pemandangan kawanan kera di tepi jalan. Namun, bagi siapa saja yang mau merenung, pemandangan itu sesungguhnya sedang mengajarkan sebuah pelajaran yang jauh lebih dalam.
Bahwa ketika kebiasaan menunggu menjadi budaya, kemampuan berjuang perlahan memudar.
Hutan kehidupan sesungguhnya selalu menyediakan peluang bagi mereka yang mau mencari. Persoalannya, apakah kita masih memiliki keberanian untuk masuk ke dalamnya, atau justru memilih duduk di tepi jalan menunggu belas kasih yang lewat?
Peradaban tidak dibangun oleh tangan-tangan yang selalu menengadah. Ia lahir dari tangan yang bekerja, pikiran yang kreatif, dan hati yang percaya bahwa kemajuan sejati selalu bertumbuh dari dalam diri.
____
Muliadi Saleh: Menulis Makna, Membangun Peradaban.









