Dukung Ekonomi Sirkular, Tim Pengabdian Unhas Latih Masyarakat Pesisir Untia Olah Sampah Plastik Menjadi Ecobrick

  • Whatsapp
Program pengabdian ini memiliki relevansi yang kuat dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs). Pelatihan ecobrick mendukung pencapaian SDGs 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui penciptaan lingkungan yang lebih bersih dan sehat.

PELAKITA.ID – Makassar, 20 Juni 2026 — Upaya mengurangi pencemaran sampah plastik sekaligus mendorong ekonomi sirkular di kawasan pesisir terus dilakukan Universitas Hasanuddin.

Melalui Program Pengabdian Masyarakat Pemula (PMP), tim pengabdian Unhas menyelenggarakan pelatihan pembuatan ecobrick bagi masyarakat dan petugas TPS 3R Untia, Kelurahan Untia, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program bertajuk “Pengembangan Model Pengelolaan Sampah Plastik Berbasis Ekonomi Sirkular melalui Ecobrick pada TPS 3R untuk Peningkatan Kesehatan Lingkungan Masyarakat Desa Nelayan.”

Program tersebut dirancang sebagai bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam menjawab persoalan sampah plastik yang masih menjadi tantangan serius di wilayah pesisir.

Pelatihan bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengelola sampah plastik menjadi ecobrick, yakni botol plastik yang diisi secara padat menggunakan sampah plastik bersih dan kering sehingga dapat dimanfaatkan kembali menjadi berbagai produk bernilai guna.

Melalui pendekatan ini, masyarakat diajak untuk melihat sampah tidak lagi sebagai limbah yang harus dibuang, melainkan sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali dalam kerangka ekonomi sirkular.

Ketua Tim Pelaksana, Laksmi Trisasmita, S.Gz., M.K.M., menjelaskan bahwa persoalan sampah plastik sangat dekat dengan kehidupan masyarakat pesisir.

Karena itu, perubahan perilaku dalam mengelola sampah harus dimulai dari tingkat rumah tangga dan komunitas.

“Sampah plastik merupakan masalah lingkungan yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat, terutama di wilayah pesisir. Melalui pelatihan ecobrick ini, kami ingin mengajak masyarakat untuk melihat bahwa sampah plastik tidak hanya menjadi limbah, tetapi juga dapat diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat, bernilai guna, dan mendukung lingkungan yang lebih sehat,” ujarnya.

Kegiatan diawali dengan sambutan dari tim pelaksana dan pengelola TPS 3R Untia, dilanjutkan dengan sesi pelatihan dan praktik langsung yang melibatkan petugas pemilah sampah serta warga setempat.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan, terutama saat mereka mempraktikkan tahapan pembuatan ecobrick mulai dari pemilahan sampah, pembersihan, pemotongan plastik, hingga proses pemadatan ke dalam botol.

Pendamping TPS 3R Untia, Akbar Mallombasi, menyambut baik kegiatan tersebut karena dinilai sejalan dengan upaya penguatan pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang selama ini dijalankan TPS 3R.

“Pelatihan seperti ini sangat penting karena memberikan keterampilan langsung kepada masyarakat dan petugas TPS 3R. Kami berharap ecobrick dapat menjadi salah satu alternatif pengelolaan sampah plastik yang mudah diterapkan sekaligus membuka peluang pemanfaatan kembali sampah menjadi produk yang lebih berguna,” katanya.

Selain memberikan keterampilan teknis, program ini juga menekankan pentingnya perubahan pola pikir masyarakat terhadap sampah.

Pengelolaan sampah yang baik tidak hanya berdampak pada kebersihan lingkungan, tetapi juga berpotensi menciptakan nilai ekonomi baru melalui pemanfaatan kembali material yang sebelumnya dianggap tidak bernilai.

Program pengabdian ini memiliki relevansi yang kuat dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs).

Pelatihan ecobrick mendukung pencapaian SDGs 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui penciptaan lingkungan yang lebih bersih dan sehat.

Kegiatan ini juga berkontribusi terhadap SDGs 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan) dengan mendorong pengelolaan sampah berbasis komunitas, serta SDGs 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui pengurangan dan pemanfaatan kembali sampah plastik.

Bagi masyarakat pesisir seperti Kelurahan Untia, program ini juga memiliki keterkaitan erat dengan SDGs 14 (Ekosistem Lautan).

Pengurangan sampah plastik dari sumbernya di daratan diharapkan dapat menekan risiko pencemaran pesisir dan laut yang selama ini menjadi ancaman bagi keberlanjutan ekosistem perairan.

Pada sesi penutupan, anggota tim pengabdian Taufiqurrahman Zulkifli, S.T., M.T. menjelaskan bahwa program ini akan berlanjut pada tahap berikutnya, yakni pengembangan produk berbasis ecobrick yang memiliki nilai guna dan potensi ekonomi bagi masyarakat.

“Pelatihan ini tidak berhenti pada pembuatan ecobrick saja. Ke depan, ecobrick yang telah dibuat akan diarahkan menjadi produk yang dapat dimanfaatkan sehingga masyarakat dapat melihat hasil nyata dari proses pengelolaan sampah plastik berbasis ekonomi sirkular,” jelasnya.

Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, TPS 3R, dan masyarakat, Tim Pengabdian Masyarakat Pemula Universitas Hasanuddin berharap lahir model pengelolaan sampah plastik yang lebih produktif, sehat, dan berkelanjutan.

Program ini sekaligus menjadi bentuk kontribusi nyata Universitas Hasanuddin dalam mendukung peningkatan kualitas lingkungan hidup masyarakat pesisir serta memperkuat gerakan pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang sejalan dengan agenda pembangunan berkelanjutan.