Belawa dan Tiga Penjaga Cahaya Ilmu: Rauf Patong, Abdullah Renreng, dan Natsir Nessa

  • Whatsapp
Prof Natsir Nessa dan Prof Abdullah Renreng (image by Pelakita.ID/AI)

Oleh: Kamaruddin Azis, founder Pelakita.ID, alumni Ilmu dan Teknologi Kelautan Unhas 1989

PELAKITA.ID – Maqbul Halim, pria dengan pengalaman seabrek dalam kancah politik Sulawesi Selatan dan juga pemikir literasi sosial kawakan mengungkapkan fakta yang penulis tak pahami sebelumnya.

Trio Natsir Nessa, Rauf Patong dan Abdullah Renreng adalah tokoh pendidikan yang sama-sama berasal dari Belawa Wajo.

Ketiga sosok tersebut adalah nama-nama yang akrab di antara tahun 1989 hingga 1994 saat penulis kuliah di Prodi Ilmu dan Teknologi Kelautan Unhas.

Prof Natsir Nessa adalah Ketua Prodi Ilmu dan Teknolgi Kelautan Unhas. Prodi yang di pandangan penulis sebagai unit studi yang tajir karena digelontorkan dana dari Asian Development Bank melalui proyek Marine Science Education Project MSEP.

Karena proyek itu, penulis pernah ikut training selama sebulan di Selat Makassar dan diganjar uang saku Rp380 ribu saat itu atau senilai 3 kali bayar SPP.

Nama Natsir Nessa pula yang kerap via-a-vis dengan aktivis ITK saat itu yang ingin lebih banyak nuansa keteknikan kelautan ketimbang aplikasi kelautan melalui budidaya perikanan.

Sejumlah konfrontasi, baik di medium pertemuan ilmiah maupun di dinamika relasi organisasi alumni seperti Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Teknologi Kelautan hingga Senat ITK di tahun 90-an.

Ingatan kepada Natsir Nessa oleh penulis adalah saat dia menganalogikan ‘aksi kebaikan melalui pemberian ayam goreng, tapi ayam gorengnya kok dilempar’. Hal yang disebutnya tidak pantas jika mahasiswa ITK berperilaku begitu.

Tapi itu masa lalu. Saat ini, Unhas mengabadikan nama Natsir Nessar, Putra Belawa sebagai Auditorium Natsir Nessa di area Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, ITK dulu, kita masuk rumpun FIKP bersama Perikanan. Teknik Kelautan yang diidamkan ada di Fakultas Teknik Gowa.

Tentang ketokohan

Sosodara, setiap daerah memiliki kebanggaannya sendiri. Ada yang dikenang karena kerajaan besar, ada yang harum karena hasil bumi, dan ada pula yang meninggalkan jejak melalui orang-orang yang mengabdikan hidupnya bagi ilmu pengetahuan.

Belawa, sebuah wilayah di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, tampaknya termasuk dalam kategori terakhir.

Dari tanah yang tenang ini lahir sejumlah intelektual yang tidak hanya mengukir karier akademik yang gemilang, tetapi juga turut membangun fondasi ilmu pengetahuan di Universitas Hasanuddin.

Di antara nama-nama itu, terdapat tiga tokoh yang layak dikenang bersama: Prof. Dr. Abd. Rauf Patong, Dr. Abdullah Renreng, dan yang penulis ungkap di awal adalah Prof. Dr. Ir. H. M. Natsir Nessa, M.S.

Ketiganya berasal dari kampung yang sama, namun menempuh jalan ilmu yang berbeda.

Yang satu mendalami biokimia, yang lain menekuni fisika teoretis, sementara yang ketiga menjelajahi dunia sosial ekonomi hingga kelautan.

Tiga disiplin ilmu yang berbeda, tetapi bertemu dalam satu kesamaan: dedikasi kepada pendidikan dan pencarian pengetahuan.

Rauf Patong: Menjaga Kehidupan Melalui Ilmu Biokimia

Nama Prof. Dr. Abd. Rauf Patong dikenal luas di lingkungan Fakultas MIPA kala itu. Dia adalah dosen TPB kami untuk TPB Kimia.

Rauf Patong sangat familiar anak-anak Kelautan seperti kami sebab dia adalah satu satu dosen pengampu kimia, bahkan hingga Kimia Oseanografi bersama Dr. A.S Kumanireng serta Beddu Djawahir.

Rauf adalah salah satu akademisi yang mengembangkan ilmu biokimia. Bidang yang ia tekuni mungkin tidak selalu tampak di ruang publik, namun sesungguhnya menjadi fondasi penting dalam dunia kedokteran modern.

Biokimia adalah ilmu yang menjelaskan bagaimana kehidupan bekerja pada tingkat paling mendasar.

Melalui pemahaman tentang molekul, sel, enzim, dan metabolisme tubuh, ilmu ini menjadi jembatan antara sains dasar dan praktik medis.

Dalam ruang-ruang kuliah dan laboratorium, Prof. Rauf Patong mengabdikan dirinya untuk membentuk generasi dokter dan ilmuwan kesehatan.

Banyak akademisi besar bekerja jauh dari sorotan. Mereka tidak selalu tampil dalam panggung-panggung populer, tetapi pemikirannya hidup melalui mahasiswa yang diajar, penelitian yang ditulis, dan tradisi akademik yang diwariskan.

Sosok Prof. Rauf Patong termasuk dalam kategori ini. Ia menjadi bagian dari generasi ilmuwan Unhas yang memperkuat pondasi pendidikan kedokteran di Indonesia Timur.

Abdullah Renreng: Fisikawan yang Mencari Hakikat Semesta

Jika Rauf Patong mengurai misteri kehidupan melalui molekul, maka Abdullah Renreng mencoba memahami semesta melalui hukum-hukum fisika.

Lahir di Belawa, Abdullah Renreng dikenal sebagai salah satu fisikawan teoretis terbaik yang pernah dimiliki Universitas Hasanuddin. Ia bukan hanya dosen, melainkan pemikir yang berani mempertanyakan berbagai teori yang telah mapan.

Beliau senang membaca buku filsafat.

Pada awal 1980-an, ketika banyak ilmuwan menerima bahwa tidak ada yang melampaui kecepatan cahaya, Renreng mencoba menelaah kemungkinan lain melalui kajian medan gravitasi dan teori relativitas Einstein.

Dalam salah satu makalahnya, ia mengemukakan gagasan bahwa gelombang gravitasi dapat memiliki karakter penjalaran yang melampaui cahaya.

Bagi Renreng, ilmu pengetahuan bukan sekadar kumpulan rumus. Ia percaya bahwa seluruh ilmu sesungguhnya saling terhubung.

Karena itu, selain membaca fisika, ia juga menggemari buku filsafat, ekonomi, agama, sosial, dan budaya.

Baginya, kesalahan dalam filsafat akan menghasilkan kesalahan dalam matematika dan sains. Karena itu ia selalu memulai pencarian ilmiahnya dari pertanyaan-pertanyaan filosofis.

Di ruang kerjanya, fisika tidak berdiri sendiri. Ia berdialog dengan nilai-nilai sosial, budaya, dan kemanusiaan. Pandangan inilah yang membuatnya dikenang bukan hanya sebagai ilmuwan, tetapi juga sebagai pemikir.

Ketika Abdullah Renreng wafat pada 27 Januari 2016, Universitas Hasanuddin kehilangan salah satu penjaga tradisi berpikir kritisnya. Namun karya-karyanya tetap hidup, termasuk buku Introducing to Theoretical Physics yang masih dapat ditemukan hingga hari ini.

Menegaskan legacy Natsir Nessa: Merajut Laut, Ilmu, dan Institusi

Jika Abdullah Renreng menatap langit dan semesta, maka Natsir Nessa memilih memandang laut.

Prof. Dr. Ir. H. M. Natsir Nessa merupakan salah satu tokoh penting dalam perkembangan ilmu kelautan di Universitas Hasanuddin.

Menariknya, perjalanan akademiknya justru dimulai dari dunia pertanian dan peternakan sebelum akhirnya menjadi salah satu perintis pengembangan ilmu kelautan di kampus merah tersebut.

Lahir di Belawa pada 27 Desember 1948, Natsir Nessa menunjukkan kemampuan lintas disiplin yang luar biasa.

Ia pernah menjadi Kepala Bagian Hidrologi dan Produksi Fakultas Pertanian, Ketua Jurusan Sosial Ekonomi Fakultas Peternakan, Dekan Fakultas Peternakan, hingga Ketua Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan.

Karier akademiknya kemudian berkembang menjadi kepemimpinan universitas.

Ia dipercaya menjadi Direktur Pascasarjana Unhas, Sekretaris Senat Akademik, hingga anggota Majelis Wali Amanah ketika Unhas memasuki fase penting transformasi menuju Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTNBH).

Di mata banyak koleganya, Natsir Nessa adalah akademisi yang mampu menghubungkan ilmu pengetahuan dengan tata kelola kelembagaan. Ia memahami bahwa membangun universitas tidak cukup hanya dengan melahirkan penelitian, tetapi juga memerlukan institusi yang kuat dan berkelanjutan.

Ketika wafat pada 27 April 2023, Unhas kehilangan salah satu putra terbaiknya. Namun penghormatan itu kini diabadikan melalui Aula Prof. Natsir Nessa di Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, sebuah ruang yang akan terus melahirkan diskusi, riset, dan inovasi bagi generasi mendatang.

Belawa dan Tradisi Melahirkan Intelektual

Melihat perjalanan tiga tokoh ini, sulit untuk tidak bertanya: apa yang membuat Belawa mampu melahirkan begitu banyak intelektual?

Mungkin jawabannya bukan pada geografisnya. Bukan pula pada kemegahan kotanya. Jawabannya mungkin terletak pada tradisi masyarakatnya yang menghormati pendidikan sebagai jalan perubahan.

Rauf Patong mengajarkan pentingnya memahami kehidupan melalui sains kesehatan. Abdullah Renreng menunjukkan keberanian untuk berpikir melampaui batas-batas teori yang mapan. Natsir Nessa memperlihatkan bagaimana ilmu pengetahuan dapat digunakan untuk membangun institusi dan masa depan.

Mereka bertiga berasal dari kampung yang sama, tetapi memberi kontribusi pada bidang yang berbeda. Namun ketiganya meninggalkan pesan yang serupa: bahwa ilmu pengetahuan adalah warisan paling berharga yang dapat diberikan seseorang kepada masyarakatnya.

Belawa boleh jadi hanyalah sebuah titik kecil di peta Sulawesi Selatan. Tetapi melalui Rauf Patong, Abdullah Renreng, dan Natsir Nessa, nama itu telah menjelma menjadi salah satu mata air intelektual yang ikut mengalirkan cahaya pengetahuan bagi Indonesia.

___
Tamarunang, 20 Juni 2026