- Subsektor dengan nilai ekonomi terbesar justru berasal dari kelompok pertambangan dan penggalian lainnya atau yang umum dikenal sebagai galian C. Subsektor ini mencatat nilai tambah sebesar Rp15,41 triliun, melampaui kontribusi pertambangan bijih logam.
- Pada tahun 2024, subsektor migas dan panas bumi mencatat pertumbuhan positif sebesar 5,19 persen, menjadi salah satu subsektor dengan laju pertumbuhan tertinggi dalam kelompok pertambangan dan penggalian.
PELAKITA.ID – Sektor pertambangan dan penggalian material bumi ekonomis tetap menjadi salah satu pilar penting perekonomian Sulawesi Selatan ke depan. Bukan hanya nikel, banyak yang lain.
Di tengah dominasi sektor pertanian, perdagangan, dan industri pengolahan, aktivitas pertambangan memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi daerah, terutama melalui komoditas nikel dan berbagai bahan galian untuk kebutuhan konstruksi.
Data dalam Provinsi Sulawesi Selatan Dalam Angka 2025 menunjukkan bahwa sektor pertambangan dan penggalian menyumbang sekitar 4,55 persen terhadap total Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sulawesi Selatan pada tahun 2024. Nilai tambah bruto yang dihasilkan sektor ini mencapai Rp31,69 triliun, menjadikannya salah satu sektor strategis dalam struktur ekonomi provinsi.

Nikel Masih Menjadi Primadona
Kontributor utama sektor pertambangan Sulawesi Selatan adalah subsektor pertambangan bijih logam yang didominasi oleh komoditas nikel. Pada tahun 2024, subsektor ini menghasilkan nilai tambah sebesar Rp13,61 triliun.
Permintaan global terhadap nikel yang terus meningkat, terutama untuk industri baja tahan karat dan baterai kendaraan listrik, menjadikan komoditas ini sebagai salah satu sumber devisa utama bagi Sulawesi Selatan.
Peran sentral nikel terlihat jelas di Kabupaten Luwu Timur yang selama beberapa tahun terakhir berkembang sebagai pusat pertambangan dan hilirisasi logam di kawasan timur Indonesia.
Aktivitas penambangan yang terintegrasi dengan industri pengolahan telah menciptakan nilai tambah yang jauh lebih besar dibandingkan hanya mengekspor bahan mentah.
Luwu Timur, Episentrum Hilirisasi Nikel
Luwu Timur menjadi daerah yang paling menonjol dalam peta pertambangan Sulawesi Selatan. Data ekspor melalui Pelabuhan Malili menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2024 volume ekspor mencapai 88,98 juta kilogram dengan nilai FOB sebesar US$931,15 juta.
Besarnya nilai ekspor tersebut mencerminkan dominasi nikel sebagai komoditas unggulan daerah. Bahkan secara keseluruhan, ekspor nikel Sulawesi Selatan mencapai 90,92 juta kilogram dengan nilai sekitar US$950,39 juta, menjadikannya penyumbang devisa terbesar provinsi.
Selain aktivitas ekspor, Luwu Timur juga mencatatkan nilai produksi industri manufaktur sebesar Rp17,58 triliun. Angka ini terutama berasal dari industri logam dasar yang mengolah nikel melalui fasilitas smelter dan berbagai proses pemurnian lanjutan.
Perkembangan industri hilir ini menjadi bagian dari kebijakan nasional yang mendorong peningkatan nilai tambah sumber daya mineral di dalam negeri.
Nikel yang diproduksi tidak lagi diekspor dalam bentuk mentah, tetapi telah melalui berbagai tahapan pengolahan mulai dari pengeringan, reduksi, peleburan, pemurnian, hingga pengemasan sebelum dikirim ke pasar internasional.
Galian C Berkontribusi Terbesar
Menariknya, subsektor dengan nilai ekonomi terbesar justru berasal dari kelompok pertambangan dan penggalian lainnya atau yang umum dikenal sebagai galian C. Subsektor ini mencatat nilai tambah sebesar Rp15,41 triliun, melampaui kontribusi pertambangan bijih logam.
Komoditas yang termasuk dalam kelompok ini antara lain batu gunung, pasir, tanah liat, dan berbagai material konstruksi lainnya.
Aktivitas penggalian tersebut tersebar hampir di seluruh kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan untuk memenuhi kebutuhan pembangunan infrastruktur, perumahan, jalan, dan proyek konstruksi lainnya.
Pertumbuhan subsektor ini juga relatif stabil dengan laju pertumbuhan PDRB mencapai 3,04 persen pada tahun 2024, mencerminkan tingginya kebutuhan material bangunan seiring berkembangnya pembangunan daerah.
Migas Tumbuh Positif
Selain nikel dan galian C, subsektor pertambangan minyak, gas, dan panas bumi turut memberikan kontribusi ekonomi sebesar Rp2,67 triliun.
Meskipun porsinya lebih kecil dibandingkan subsektor lainnya, sektor ini menunjukkan prospek yang cukup baik.
Pada tahun 2024, subsektor migas dan panas bumi mencatat pertumbuhan positif sebesar 5,19 persen, menjadi salah satu subsektor dengan laju pertumbuhan tertinggi dalam kelompok pertambangan dan penggalian.
Sementara itu, kontribusi pertambangan batubara dan lignit masih sangat terbatas, hanya sekitar Rp2,64 miliar.
Menciptakan Lapangan Kerja dan Nilai Tambah
Perkembangan industri pertambangan dan pengolahan hasil tambang juga memberikan dampak terhadap penyerapan tenaga kerja. Data menunjukkan bahwa industri logam dasar berskala besar dan sedang di Sulawesi Selatan mempekerjakan sekitar 5.627 tenaga kerja.
Keberadaan industri hilir berbasis mineral tidak hanya meningkatkan nilai ekspor daerah, tetapi juga membuka peluang kerja, mendorong investasi, serta memperkuat rantai pasok industri di tingkat regional.
Dengan cadangan nikel yang besar, berkembangnya fasilitas pengolahan mineral, serta kebutuhan material konstruksi yang terus meningkat, sektor pertambangan dan penggalian diperkirakan akan tetap menjadi salah satu mesin pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan dalam beberapa tahun mendatang.
Namun demikian, tantangan pengelolaan lingkungan, reklamasi lahan pascatambang, serta pemerataan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal akan menjadi faktor penting untuk memastikan bahwa pertumbuhan sektor ini berlangsung secara berkelanjutan.
Editorial Pelakita.ID









