Selama masih mampu, putra kawasan Pasar Cidu, Makassar, itu selalu berusaha membantu siapa saja yang membutuhkan. Karakter itulah yang membuatnya memiliki banyak sahabat dari berbagai kalangan.
PELAKITA.ID – Kabar wafatnya Amirullah Tahir membawa duka mendalam bagi banyak sahabat dan kolega yang mengenalnya.
Kepergian sosok yang akrab disapa “Kak Ulla” itu terasa begitu menyesakkan, terlebih karena hingga beberapa waktu sebelum berpulang, ia masih aktif berkomunikasi melalui pesan WhatsApp dan tampak sehat serta bugar seperti biasanya.
Bagi mereka yang mengenalnya, Amirullah Tahir bukan hanya seorang aktivis alumni atau tokoh organisasi, melainkan sahabat yang hangat dan selalu hadir untuk orang-orang di sekitarnya.
Sepanjang perjalanan hidupnya, ia dikenal sebagai pribadi yang peduli kepada teman dan sahabat.
Selama masih mampu, putra kawasan Pasar Cidu, Makassar, itu selalu berusaha membantu siapa saja yang membutuhkan. Karakter itulah yang membuatnya memiliki banyak sahabat dari berbagai kalangan.
Amirullah juga dikenal sebagai sosok yang gemar berkumpul dan menjalin pertemanan tanpa memandang latar belakang profesi, jabatan, maupun usia.
Baginya, persahabatan tidak mengenal sekat. Karena sifatnya yang terbuka dan ramah, ia selalu mudah diterima di lingkungan baru dan cepat akrab dengan siapa pun yang ditemuinya.
Salah satu kenangan yang masih membekas di ingatan Rusman Madjulekka adalah sebuah peristiwa yang terjadi menjelang Musyawarah Besar Ikatan Alumni Universitas Hasanuddin (IKA Unhas) beberapa tahun lalu.
Saat itu, saya bersama Amirullah dan sejumlah alumni lainnya menghadiri sebuah pertemuan di kawasan Bellagio, Mega Kuningan, Jakarta Selatan.
Di tengah suasana pertemuan, tiba-tiba terdengar seorang perempuan berjilbab memanggil Amirullah dari belakang.
“Mdede, tidak kenal maki Kak Ulla?” sapanya.
Amirullah yang tampak berusaha mengingat kemudian membalas dengan sopan.
“Tabe, maaf dengan siapa ya? Maaf, saya agak lupa-lupa,” ujarnya pelan.
Perempuan tersebut kemudian mengingatkan bahwa mereka pernah sama-sama aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Marching Band Universitas Hasanuddin puluhan tahun silam.
Mendengar penjelasan itu, wajah Amirullah langsung berubah cerah.
“Ohh… astaga, baru kuingat kita pale Sri,” jawabnya spontan yang langsung disambut gelak tawa para alumni yang hadir.
Peristiwa sederhana itu menjadi gambaran tentang luasnya pergaulan Amirullah Tahir. Di mana pun berada, selalu ada teman lama yang mengenangnya.
Hubungan yang dibangun puluhan tahun sebelumnya tetap terjaga dalam ingatan banyak orang karena kebaikan dan keramahan yang ia tunjukkan sepanjang hidupnya.
Kini, sosok yang mudah tersenyum, senang berkumpul, dan tidak pernah membeda-bedakan orang itu telah berpulang. Namun kenangan tentang persahabatan, perhatian, dan kebaikannya akan tetap hidup di hati mereka yang pernah mengenalnya.
Selamat jalan, sahabat Amirullah Tahir. Semoga segala amal ibadahmu diterima di sisi Allah SWT, diampuni segala khilafmu, dan diberikan tempat terbaik di sisi-Nya. Al-Fatihah.
Tulisan: Rusman Madjulekka









